Opini

Potensi di Balik Ironi Pahit Kopi Negeri

Kopi Nusantara Sumber: agrofarm.co.id
Kopi Nusantara Sumber: agrofarm.co.id

Akuratnews.com - Kopi merupakan minuman yang sarat akan makna dan rasa ketika dinikmati. Dari kopi hitam sampai dalgona cofee, tradisi minum kopi di Indonesia lazim dilakukan sejak zaman dahulu hingga sekarang. Dari orang dewasa yang sekadar menikmati secangkir kopi bersama rekan sejawat atau sanak famili sampai kawula muda yang bersua bersama teman-teman di warung atau kedai, secangkir kopi mampu melepas penat dan menemani hari.

Tidak diragukan lagi jika antusiasme masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi kopi itu sendiri cukup tinggi. Ditambah lagi dengan potensi SDA dan SDM pendukung yang sangat unggul dibandingkan negara lain di dunia, komoditas kopi Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun masih terdapat kisah ironi dan permasalahan kopi di negeri ini yang harus segera diatasi.

Komoditas kopi Indonesia sebenarnya sangat berpotensi menjadi yang terbaik jika dibandingkan negara-negara lain. Pasalnya, dalam publikasi “outlook kopi 2019” yang dirilis Kementerian Pertanian RI menyebutkan sentra luas lahan Indonesia yang menghasilkan kopi hampir 1,254 juta hektar pada tahun 2017 menempati posisi kedua dunia setelah Brasil. Angka tersebut juga membuat lahan penghasil kopi Indonesia menguasai 11,47% dari lahan dunia yang menghasilkan kopi.

Selain itu, Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara produsen kopi terbesar dunia pada tahun 2017 dengan total produksi sekitar 668.677 ton. Posisi pertama ditempati Brasil dengan produksi sekitar 2.680.515 ton, kemudian diikuti Vietnam sebesar 1.542.398 ton, lalu Kolombia berada di posisi ketiga (754.376 ton).

Disamping itu, kuantitas SDM Indonesia yang menjadi petani kopi berada pada urutan ketiga terbanyak di dunia setelah Etiopia dan Uganda yaitu sekitar 1,3 juta petani dari total sekitar 25 juta petani kopi di dunia.

Dilihat dari segi konsumennya, masyarakat Indonesia cukup antusias dalam mengonsumsi kopi. Berdasarkan hasil Survei Sosia Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dirilis BPS tahun 2017 dan 2018, konsumsi kopi bubuk dan kopi instan mengalami peningkatan. Pada tahun 2018, konsumsi kopi bubuk di Indonesia 0.801 kg/kapita/tahun, meningkat 0,38%  dibandingkan tahun 2017 yang konsumsinya sebesar 0,798 kg/kapita/tahun. Konsumsi kopi instan tahun 2018 meningkat 2,26% dari 0,805 kg/kapita/tahun menjadi 0,903 kg/kapita/tahun.

Namun, dengan semua potensi yang ada, terdapat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kopi di Indonesia. Pada tahun 2017-2019, volume dan nilai ekspor kopi cenderung menurun, sebaliknya tren impornya cenderung naik. Kenaikan volume impor yang signifikan terjadi pada tahun 2018 sebesar 454,9%, dari 14,2 ribu ton menjadi 78,8 ribu ton sedangkan penurunan volume ekspor yang cukup tinggi terjadi pada tahun 2018  yaitu sebesar 40,1%, dari 467,8 ribu ton menjadi 280 ribu ton.

Selain itu, produktivitas kopi di Indonesia (dalam kg/ha) masih cukup rendah terutama lahan kopi perkebunan rakyat. Data BPS dan Direktorat Jenderal Pertanian tahun 2018 menunjukkan 96,6% lahan kopi yang dikuasai oleh perkebunan rakyat hanya memiliki produktivitas 773,39 kg/ha. Di lain sisi, perkebunan swasta yang menguasai 2,02% total perkebunan kopi, ternyata memiliki produktivitas sebesar 850,93 kg/ha, lalu 1,86% sisanya yang dikuasai negara mempunyai produktivitas tertinggi yakni sekitar 1126,4 kg/ha. Secara agregat nasional, pada tahun 2017 Indonesia hanya menduduki peringkat ke-43 negara dengan produktivitas tertinggi yaitu sebesar 5.433 hg/ha sedangkan negara tetangga, Malaysia menempati peringkat pertama dengan produktivitas 39.158 hg/ha.

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia juga memperparah performa komoditas kopi dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Satistik pada bulan Januari hingga Juli 2020 ekspor kopi Indonesia mengalami kenaikan sekitar 10,69% tetapi nilai ekspornya turun 8,01% terhadap bulan Januari – Juli 2019, dari yang semula US$ 473,2 juta menjadi US$ 435 juta. Harga kopi dunia salah satunya jenis Robusta yang semakin menurun menjadi faktor penyebabnya. Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO), rata-rata harga bulanan kopi dunia jenis robusta pada bulan Januari-Agustus 2020 jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2018 dengan periode yang sama.

Sumber: ICO (data diolah)

Perlu ada solusi konkrit dari pemerintah dan masyarakat penggiat kopi untuk dapat memperbaiki performa komoditas kopi Indonesia. Modernisasi produksi dan pengolahan kopi menjadi suatu keharusan di zaman sekarang agar komoditas kopi Indonesia semakin berkualitas dan konsumsi meningkat. Edukasi dengan sosialisasi petani kopi maupun pembuat produk-produk kopi masa kini menjadi kunci mengembangkan kopi walaupun di era yang serba terbatas ini.

Kementerian Perindustrian akhir-akhir ini meluncurkan gerakan tagar SatuDalamKopi. Tujuannya adalah menjaga pasar kopi dalam negeri tetap eksis di masa pandemi melalui ajakan membeli produk-produk kopi dan olahan kopi secara daring. Salah satunya melalui perusahaan belanja online yang berhasil melibatkan 1.200 pelaku industri kopi dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, pembuatan koperasi untuk petani kopi dan pengurangan pajak ekspor juga perlu dilakukan agar kopi Indonesia lebih terserap sehingga secara langsung dapat meningkatkan ekspor dan menekan angka impor.

Baca Juga