Webinar Pangan Oleh Jaker PO, NGO UNS dan Pemkab Pacitan

Potensi Lahan Kering Masih Dimarjinalkan

Pacitan, Akuratnews.com-. Jaringan Kerja Pertanian Organik (Jaker PO) bersama jejaring NGO, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Pemerintah Kabupaten Pacitan mengadakan Obrolan Pangan secara daring dengan fokus pembicaraan mengenai potensi lahan pertanian kering.

Lahan kering merupakan hamparan lahan yang tidak pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian kecil waktu dalam setahun. Litbang Kementerian pertanian, secara umum mengelompokkan lahan kering menjadi pekarangan, tegalan/kebun/ladang/huma, padangrumput, lahan sementara tidak diusahakan, lahan untuk kayu-kayuan dan perkebunan.

Data BPS menyebutkan bahwa luas  lahan kering keseluruhan adalah 63,4 juta ha, atausekitar 33,7% dari total luas Indonesia. Dari seluruh luas lahan kering tersebut  luas lahan kering untuk tegalan/huma sekitar 13,4 juta ha.

Statistik ini menunjukkan potensi lahan kering yang sangat besar. Demikian juga dengan lahan kering yang ada di wilayah Kabupaten Pacitan, JawaTimur. Lahan ladang di Pacitan sebesar  51 ribu Haatau 53,3% dari keseluruhan ahan yang ada di Pacitan.Tentu ini merupakan jumlah yang sangat besar.

“Sektor pertanian menyumbang terbesar PDRB, dan sebagian besar lahan pertanian di Pacitan adalah lahankering”,Ujar Bambang Supriyoko, KepalaDinas PertanianPacitan.

Lahan kering pertanian di Pacitan  ditanami dengan padi gogo seluas 11.816 Ha dengan produksi 40.767 ton, Jagung seluar 13.644 ha denganp roduksi 82.119 ton. Selain itu juga tanaman kacang dan berbagai jenis umbi-umbian.

Ungkapan dari Bambang di atas semestinya bisa memberikan gambaran nyata bagi pihak lainnya, bahwa pertanian lahan kering bisa menopang daya dukung pangan di suatu daerah. Keberadaanl ahan ini sayangnya sering kali digolongkan sebagai lahan marjinal. Padahal data kabupaten menyebutkan bahwa kecamatan yang didominasi oleh lahan kering justru surplus pangan. berbeda dengan lahan pertanian basah atau sawah yang masih defisitberas.

Dalam kesempatan yang sama pembicara lainnya dalam webinar ini adalah Said Abdullah, Koordinator Nasional KRKP (Koalisi Rakyat untuk KedaulatanPangan) engatakan;

“Lahan kering itu bukan lahan marjinal, tetapi secara governance dimarjinalkan” kata Said Abdullah.

Hal ini tentu berdasar dimana Investasi publik di sektor pangan secara nasional sebagian besar mengarah kepada pertanian padi sawah. Serta  sebagian besar investasi itu lari ke infrastruktur.

Data lain yang diungkap oleh Said dalam webinar iniadalah, hasil simulasi yang dilakukan oleh KRKP dan Fakultas Ekonomi dan Manajemn IPB menunjukkan bahwa jika investasi hanya difokuskan pada infrastruktur maka tidak lebih baik dalam peningkatan kesejahteraan rumahtangga petani.

Investasi sektor pangan cukup signifikan membeirkan pengaruh terhadap kesejahteraan rumahtangga petani apabila investasi diarahkan pada peningkatan kapasitas SDM petani dan RnD pertanian.

“Petani itu punya lahan, sudah disubsidi oleh pemerintah, tetapi kenapa hasilnya tidak dapat menopang untuk hidup yang layak ?, ujar Pamuji dari  Bapeda Kabupaten Pacita.

MenurutPamuji,kondisi seperti ini harus segera membuat aparatur pemerintah untuk berubah dalam pengelolaan anggaran untuk pertanian. Strategi penganggaran yang baik di sektor pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tapi juga pada kesejahteraan rumah tangga petani.

Menurut Prof. Suwarto, Dosen UNS.Lahan kering pertania ntidak hanya menghasilkan pangan di atastanah, tapi di dalamt anah juga menghasilkan pangan, seperti palakependem, yaitu uwi, singkong, gembili dan ubi-ubian yang lain. Selain dioptimalkan untuk tanaman pertanian, lahan kering dapat juga dioptimalkan untuk penggembalaan ternak.

Pengalaman Prof Suwarto di Kabupaten Gunung Kidul dapat dijadikancontoh, dimana dalam pengelolaan lahan kering dapat diperuntukkan untuk beberapa komoditas seperti tanaman pangan, hortikultura dan peternakan sesuai dengan karakteristik biofisik lahan dan sosial masyarakat.

"Perhatian pemerintah Kabupaten menjadi penting untuk mendukung pengelolaan lahan  agar dapat maksimal,, sehingga lahan kering tidak lagid ilihat sebagail ahan marjinal. Jika lahan kering dikelola dengan baik dan benar ,dan  didukunng dengan regulasi daripemerintah, termasuk mengarahkan investasi sektor pangan kelaha nini, maka tidak mustahil lahan kering memiliki daya dukung pangan bagi wilayah tersebut," pungkas Said di akhir sesi Webinar.

Penulis: Irish
Editor: Redaksi
Photographer: istimewa

Baca Juga