Prabowo Diantara Kaum Intelektual, Ulama dan Lawan

Opini, Akuratnews.com - Selama negara dipimpin oleh narasi yang miskin, duafa literasi, dan pikiran singkat yg tidak memiliki tujuan, maka selama itu pula negara dibayangi oleh kebangkrutan.

Sementara kaum intelektual memilih menghamba pada kekuasaan seperti itu. Akhirnya segala kecerdasan akan berbuah feodal.

Para intelektual penghamba pada kekuasaan yang duafa pikiran, tugasnya menambal argumentasi dan memaksa kebodohan itu tampil dihadapan publik dengan cara represif bahkan cenderung nekat. Hingga argumentasi kebohongan muncrat dari mulut kekuasaan dengan rasa percaya diri.

Intelektual itu harus membaur dengan rakyat, bukan berdiri diatas penderitaan rakyat. Diantara intelektual itu ada yg memilih jalan sunyi kekuasaan, ada pula yg memuja kekuasaan. Pemuja menari diatas penderitaan rakyat, sinis pada protes petani, nelayan, pekerja yg berteriak di depan Istana.

Mereka oleh Edward Said disebut sebagai pelacur intelektual. Tugas mereka merangkai argumentasi, bukan meresapi keadaan rakyat. Mereka sekarang sedang berkumpul di istana, untuk menerkam siapa saja yg dianggap musuh kekuasaan.
Pikirannya berputar untuk menambal kebohongan.

Mereka keluar dengan jubah kebesaran, memakai sepatu licin dan jas yg mengkilat. Mereka tdk berdiri utk menjadi penyambung "keluhan rakyat" malah mereka menutup keluhan itu di pintu gerbang istana. Rakyat dan penguasa jaraknya jauh, hanya pencitraan saja yg kelihatan dekat.

2019 ini adalah pertarungan antara intelektual penghamba dan intelektual pencerah. Yang pertama memuja feodalisme, dan menuduh lawannya sebagai kaum feodal. Yang kedua, memberi pencerahan kepada rakyat, mengedukasi rakyat dengan memberikan secercah harapan untk masa depan.

Kalau dilihat ada wajah intelektual konservatif yg sulit untuk move on terhadap masa lalu. Sementara yang lainnya adalah kaum utopis, yang menggambarkan tentang masalah dengan mengawang-awang. Mereka menyulap realitas itu menjadi fiktif, dan mengambang.

Dalam arus besar perubahan, ada intelektual modernis, yang cara berpikirnya terbuka, tetapi memiliki sikap oposisi yang jelas terhadap segala ketidakwajaran. Mereka meneruskan tradisi berpikir demokrasi yang membuka peluang kritikan dengan cara yang beradab dan bertanggungjawab.

Saya melihat kaum intelektual ini sudah mulai sadar dari jebakan-jebakan politik. Yang sadar segera mengambil sikap dan berdiri diatas rel kebenaran, meskipun kekuasaan akan memusuhi mereka. Sebagian besar diantara mereka, sudah berjuang
untuk memenangkan Prabowo-Sandi

Kondisi seperti ini memperumit cara berpikir para intelektual dalam Istana. Karena pemikir, ekonom, sosiolog, dan para ahli, termasuk kaum milenial sudah menjadi bagian inti dari PEMENANGAN PRABOWO SANDI. Arah perubahan semakin terlihat. Dan kemenangan sudah semakin dekat.

Para ulama, baik yang muda maupun yang tua, memberikan pencerahan kepada jamaah, dengan kode nya masing-masing memberikan sinyal bahwa umat Islam harus memenangkan Prabowo Sandi. Ulama memiliki peran penting dalam memobilisasi kemenangan, karena mereka memiliki kekuatan akar rumput.

Prabowo dan Sandi dialingkari oleh intelektual, cendekiawan dan ulama yang memiliki cara pandang moderen. Ini menjadi optimisme yang melimpah bagi BPN untuk terus berjuang. Kaum cendekiawan dan ulama memiliki basis yang riil dan militan.

Banyak diantara para intelektual dan aktivis itu di rawat dan dibesarkan oleh Prabowo. Termasuk kedekatan prabowo dan para ulama serta umat Islam. Kedekatan ini telah lama terjalin dan menjadi persahabatan yang saling mengasihi.

Karakter prabowo yg terbuka, selalu membuka diri meskipun bagi musuh politiknya, bahkan tdk segan-segan memuji lawannya menjadi satu ketertarikan sendiri bagi kaum cendekiawan. Anies Baswedan dengan terbuka memuji kenegarawanan Prabowo. Anies sendiri pernah berhadapan dgn Prabowo tahun 2014.

Pujian datang dari orang yang pernah dibesarkannya. Ridwan Kamil, Ahok, memujinya. Hanya Jokowi yang tidak pernah mengakui perjuangan Prabowo dan pengorbanannya. Bahkan ia cenderung menyerang pribadinya. Politik tanpa moral akan menghasilkan amnesia terhadap jasa orang.

Yg pernahdibesarkan oleh Pak Prabowo kini banyak berseberangan dg nya, bahkan diantaranya cenderung menyerang pribadinya. Yang pernah menjadi “ musuhnya” didukung, diberikan jalan dan kini telah dibesarkan oleh nya.

Itulah ciri negarawan sejati. maka benarlah dikatakan Gus Dur "Prabowo itu orag yang paling ikhlas terhadap rakyat"

Sudirman Said, Ferry Mursidan Baldan, dulu berseberangan dengan Pak Prabowo. Tapi mereka memiliki kecerdasan dan integritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga mereka sadar bahwa apa yang mereka perjuangkan dahulu adalah kekeliruan. Meskipun dituduh haus kekuasaan.

Dengan bersatunya, intelektual muda, cendekiawan, ulama dan para pemikir ini, merupakan satu pertanda kemenangan. Fenomena kemunculan Prabowo Sandi dalam pemilu 2019 ini sama seperti fenomena Jokowi Tahun 2014. Namun jokowi diterkam oleh janji nya sendiri.

Janji yang diingkari, kebohongan yang diproduksi, amanah yang dikhianati menjadi badai yang paling berbahaya yang akan menerjang pertahanan petahana. Sehingga semakin hari elektabilitas semakin menurun. Dengan cara apapun ini sulit untuk diperbaiki.

Insaa Allah 17 April 2019, kita akan menyambut presiden baru. Presiden yg di lingkari oleh kaum intelektual, cendekiawan, milenial, ulama, dan orang yg memiliki akal sehat. Tanda langit sudah ada, penerimaan rakyat sudah jelas, tinggal kita berusaha lebih giat lgi. Ikhtiar dn doa kuncinnya.

Insaa Allah, 17 April kita akan memiliki the real president. Yang isi kepalanya dipenuhi dgn buku2, bukan komik, yang wibawanya membanggakan negara.

Kita akan memiliki presiden yang memiliki komitmen terhadap negara dan rakyat. Bukan boneka asing. Yang akan memperbaiki kondisi bangsa yang sedang diambang kebangkrutan, setelah dibuat tekor satu periode oleh hutang yang terus menerus.

Mari kita berusaha semaksimal mungkin, berdoa dengan khusu' untuk memohon kemenangan pak PRABOWO dan Sandi. 17 April kita akan mengucapkan alhamdulillah dari ikhtiar dan doa kita.

Ingat… ini demi bangsa dan negara.

Penulis Oleh: DR. Ahmad Yani, SH., MH.
Caleg PBB (19) DPR RI Dapil DKI Jakarta 1 - Jakarta Timur

Penulis:

Baca Juga