Presiden Taiwan Bertolak ke Amerika, Tiongkok Tambah Geram

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen

Taipe, Akuratnews.com - Presiden Taiwan Tsai Ing-wen bertolak menuju Amerika Serikat hari ini Sabtu (7/1/16) untuk perjalanannya ke Amerika Tengah.

Perjalanan ini akan diawasi ketat oleh Beijing, yang geram atas ucapan selamatnya kepada presiden terpilih Donald Trump awal Desember lalu. Ucapan yang seakan-akan meniadakan hubungan Sino-Amerika sekaligus mengakui keberadaan Taiwan.

Beijing memandang Taiwan itu hanyalah sebuah provinsi yang membangkang dari RRT. Beijing juga tentu kesal kepada Trump lantaran tidak menghargai hubungan Sino-Amerika dimualai sejak 1979 dalam zaman Presiden Jimmy Carter.

Hubungan itu merupakan dan menunjukkan bahwa di mata Beijing, AS dan beberapa negara di dunia, eksistensi Taiwan sebagai sebuah negara, sudah tidak sama sekali.

Sementara itu fokus pada perjalanan sembilan hari dari Presiden Taiwan ini adalah kunjungan negara-negara sekutu Taiwan di Amerika Tengah.

Beijing mencurigai Tsai dalam perhentian transitnya di Houston akhir pekan ini dan di San Francisco akhir pekan depan adalah terkait pengamanan ketat atas meningkatnya ketegangan lintas-selat di Laut Tiongkok Selatan.

Percakapan Presiden Tsai dengan Presiden AS terpilih Trump pada bulan Desember salah satu faktor memicu Tiongkok meningkatkan latihan militer di dekat Taiwan, dengan spekulasi kapal induk tunggalnya dapat melewati Selat Taiwan selama atau segera setelah perjalanan Tsai.

Latihan itu dipandang sebagai unjuk kekuatan Beijing terkait Taiwan, pulau yang memisahkan diri itu, dan memburuknya AS dibawah Presiden terpilih Donald Trump yang akan dilantik 20 Januari mendatang.

Beijing telah meminta Washington untuk mencegah Tsai melakukan penerbangan melalui wilayah udara AS.

"Transit adalah transit," kata pemimpin Taiwan kepada wartawan pekan lalu, ketika ditanya apakah ia akan bertemu seseorang dari pemerintahan Trump.

Trump sendiri tampaknya telah mngesampingkan untuk bertemu dengan Tsai dalam perjalanan ini, dengan menyebutkan bahwa "sedikit tidak pantas" untuk menemui siapa pun sebelum ia resmi berkantor pada 20 Januari mendatang di Gedung Putih.

Kantor kepresidenan Taiwan menolak untuk memberikan rincian jadwal Tsai selama menginap di AS.

"Yang paling Tiongkok inginkan adalah tentang apakah Tsai dan Trump akan bertemu," kata analis politik Liao Da-chi.

"Ini semua adalah tanda peringatan untuk melihat bagaimana Taiwan akan merespon, sekaligus menguji AS," imbuh Profesor Liao, yang mengajar di Universitas Sun Yat-sen Nasional.

Tsai akan mengunjungi Honduras, Nikaragua, Guatemala dan El Salvador – yang secara resmi mengakui kedaulatan Taiwan.

Dia akan menghadiri pelantikan presiden di Nikaragua, Selasa (10/1/17) dan bertemu dengan kepala negara dari tiga negara lainnya.

Taiwan kini hanya memiliki 21 sekutu setelah negara kecil di Afrika, Sao Tome dan Principe mengalihkan pengakuannya kepada Beijing bulan lalu.

Vatikan merupakan profil pendukung tertinggi Taiwan, namun peningkatan hubungan Takhta Suci dengan Beijing beberapa waktu terakhir menuai keraguan atas hubungannya dengan Taiwan.

Analis Liao mengatakan Beijing akan terus merayu sekutu Taiwan sebagai taktik tekanan terhadap Tsai, yang menolak untuk mengakui konsep bahwa hanya ada "One China".

Kementerian Pertahanan Taiwan telah menolak untuk mengomentari spekulasi bahwa Liaoning kapal induk Tiongkok mungkin melewati Selat Taiwan dalam perjalanannya pulang setelah latihan pertama di Pasifik.

Juru bicara Chen Chung-chi mengatakan kementerian "memantau setiap saat" posisi Liaoning.

Liaoning dan lima kapal perang lainnya bulan lalu melewati bagian selatan pulau, di luar zona identifikasi pertahanan udara Taiwan, sebelum menuju ke Laut Tiongkok Selatan. (Farhan)

Penulis:

Baca Juga