PRFR Bisa Jadi Solusi Penanganan Trigeminal Neuralgia Tanpa Operasi

AKURATNEWS - Nyeri wajah sebelah akibat trigeminal neuralgia sulit untuk digambarkan. Ada yang mengatakan seperti tertusuk jarum, panas terbakar, kesetrum, tersayat-sayat dan berbagai rasa nyeri menyiksa lainnya. Serangan nyerinya sungguh tidak tertahankan hingga penderitanya kadang berteriak, berguling-guling kesakitan, menangis dan hingga tak mampu melakukan apa-apa.

Nyeri wajah sebelah akibat trigeminal neuralgia ini memiliki banyak julukan. Pertama, Suicide disease, karena tak jarang akan muncul keinginan bunuh diri akibat nyeri yang tak tertahankan. Kedua, Prosolpagia. Ketiga, Fothergill’s disease karena pertama kali dikemukakan oleh John Fothergill tahun 1773. Keempat, Tic douloureux, yang artinya kejutan menyakitkan dalam bahasa Prancis, istilah yang diberi oleh ilmuwan Nicholas Andre di tahun 1756. Kelima, Invisible disease karena banyak penderitanya terlihat seperti orang normal saat tidak dalam serangan. Dan keenam, Lightning bolt of pain karena saat serangan ada yang melaporkan seperti tersengat petir di wajah.

Neuralgia sendiri artinya adalah gangguan rasa sakit yang muncul akibat adanya masalah atau kerusakan sinyal saraf di sistem persarafan. Neuralgia ini bisa terjadi di semua bagian tubuh dan dapat menyebabkan nyeri ringan hingga berat sehingga dapat berdampak terhadap kualitas hidup penderitanya.

Sedangkan trigeminal merupakan saraf kranial kelima. Saraf ini seperti namanya, tri memiliki 3 cabang. Ketiga cabang itu ada yang mempersarafi area mata sekitarnya, yakni oftalmikus. Kemudian, ada yang mempersarafi pipi, bibir atas, hidung, rongga mulut merupakan cabang maksilaris. Cabang yang ketiga yakni mandibularis yang mempersarafi otot pengunyah.

Karakter nyeri trigeminal neuralgia ini biasanya hanya terjadi pada satu sisi wajah saja, sehingga dikenal dengan istilah nyeri wajah sebelah. Nyeri terjadi pada area yang dipersarafi oleh cabang saraf ini, bisa terasa pada satu cabang daerah persarafan atau lebih.

Nyeri wajah sebelah yang tak tertahankan ini, bisa muncul saat penderitanya melakukan aktivitas harian yang seharusnya tak sebabkan nyeri, misalnya makan, minum, berbicara, tertawa/tersenyum, menggosok gigi, membasuh atau menyentuh wajah, memakai make up, menyisir rambut, mencukur, terkena angin sepoi-sepoi, atau terkena hawa dingin atau AC.

“Nah bila penderitanya bercerita seperti ini, kemungkinan penyebabnya adalah trigeminal neuralgia karena aktivitas harian seperti itu, seharusnya tidak mengakibatkan nyeri pada wajah,” jelas dr, Mustaqim Prasetya, SpBS, FINPS dalam acara webinar dalam rangka memperingati ‘International Trigeminal Neuralgia Awareness Day’, Rabu (13/10).

Serangan nyeri wajah sebelah akan timbul bila saraf trigeminus tertekan atau bergesekan dengan pembuluh darah yang ada di dekatnya. Setiap kali pembuluh darah berdenyut, saraf akan tertekan dan inilah pemicu nyeri yang paling hebat.

“Gesekan atau tekanan terus menerus ini lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan lapisan myelin yang berfungsi sebagai ‘mantel’ pelindung saraf. Bila lapisan pelindung ini rusak, maka cetusan arus listrik pun bisa muncul sehingga penderita akan merasakan nyeri yang tertusuk, kesetrum, terbakar, tersayat,” papar dr Mustaqim lebih lanjut.

Untuk menghilangkan rasa nyeri itu dibutuhkan metode alternatif yang cukup ampuh, yaitu dengan teknik Percutaneous Radio-Frequency Rhizotomy (PRFR).

“Efektivitasnya sekitar 86 persen, tapi tentu saja setiap pusat pengobatan itu mempunyai angka yang bervariasi ya, tapi kira-kira 86 persen,” kata dr. Mustaqim.

Menurutnya, teknik tersebut dapat mengurangi sensitivitas saraf trigeminal dengan cara pemanasan menggunakan Radio-Frequency. Dengan adanya alternatif seperti ini maka dapat diminimalisir tindakan pembedahan pada bagian saraf tertentu.

Metode PRFR ini untuk memudahkan pasien penderita trigeminal neuralgia melakukan tahap penyembuhan. Keuntungan yang diberikan, biayanya lebih terjangkau daripada operasi, risiko minimal, tanpa rawat inap, sarana lebih sederhana, dan prosesnya terbilang cepat serta dapat dilakukan saat itu juga.

“Nanti jarum yang masuk ke dasar tengkorak akan melakukan ablasi sesuai dengan daerahnya. Selain itu keuntungan lainnya, PFRF juga selektif dalam memilih saraf yang mana (target saraf). Karena ada tindakan ablasi lain yang sifatnya tidak selektif jadi saraf yang juga bisa ikutan rusak,” tambahnya.

Cara melakukan tindakan PRFR adalah dengan cara melukai bagian kulit secara terkontrol untuk mencapai saraf trigeminal. Sebelum melakukan tindakan, pasien akan diberikan obat sehingga tidak merasakan apapun saat proses PRFR itu terjadi.

“Setelah tindakan PFRF selesai maka nyerinya juga akan hilang,” pungkasnya.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga