Problem Implementasi e-Rapor

Akuratnews.com - Akhir semester menjadi waktu yang mendebarkan bagi siswa dan juga orang tua. Hal ini karena siswa akan menerima laporan hasil belajar dan kinerja siswa yang dilakukan selama satu semester terakhir dalam bentuk rapor.

Melalui rapor siswa, orang tua dan guru dapat mengevaluasi hasil belajar dan kinerja siswa untuk peningkatan di semester yang akan datang. Rapor juga menjadi dokumen penghubung komunikasi antara orang tua siswa dan sekolah. Oleh sebab itu, rapor harus komunikatif, informatif dan komprehensif dalam memberikan gambaran hasil belajar dan kinerja siswa. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Saat ini segala sesuatu sudah berubah dalam bentuk digital. Tidak hanya komunikasi dan informasi bahkan fasilitas dan sistem pun sudah beralih ke bentuk digital. Dunia pendidikan pun sudah memasuki era digital, salah satunya dengan munculnya Elektronik Rapor (e-Rapor). E-Rapor merupakan aplikasi berbasis web yang dilucurkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2017 untuk mempermudah kerja guru dalam melakukan penilaian hasil belajar dan kinerja siswa bahkan sampai mencetak rapor. Munculnya e-Rapor ini diharapkan bisa mengubah pola manual ke pola digital agar kerja guru lebih efisien, efektif dan transparan.

Ekspektasi awal kemunculan e-Rapor sangat futuristis dan mempermudah guru dalam proses penilaian hasil belajar. Namun ketika sudah mulai rilis dan diterapkan di beberapa sekolah, ekspektasi tentang mempermudah menjadi pudar. Hal ini disebabkan banyak kendala yang dialami selama sebelum dan ketika saat pengisian e-Rapor, bahkan sesudah pengisian masih ada sedikit permasalahan terkait e-Rapor.

Problem Substansi

Pertama, proses pengisian nilai e-Rapor tidak semudah hanya sekadar memasukan angka pada sebuah kolom penilaian. Karena e-Rapor menggunakan sistem penilaian Kurikulum 2013 di mana setiap Kompetensi Dasar (KD) memiliki nilai pengetahuan, nilai keterampilan dan nilai sikap sesuai Permendikbud No 23 Tahun 2016 pasal 3. Nilai pengetahuan dan nilai keterampilan diberikan oleh guru mata pelajaran sedangkan nilai sikap diberikan oleh guru bimbingan dan konseling. Sistem penilaian seperti itu akan menjadikan data penilaian sangat banyak sehingga guru cukup kebingungan dan kualahan ketika memasukan nilai ke e-Rapor. Ditambah lagi beberapa guru yang sudah lanjut usia mengalami kesulitan tidak hanya dalam penilaian tapi juga dalam penggunaan aplikasi e-Rapor.

Kedua, sebelum muncul e-Rapor beberapa sekolah sering memanipulasi data nilai siswa untuk pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) agar siswa yang lulus dapat masuk ke perguruan tinggi unggulan (tirto.id, 12/01/2018). Munculnya e-Rapor diharapkan mampu meminimalkan peluang manipulasi data nilai siswa yang dilakukan oleh sekolah. Karena data nilai e-Rapor yang sudah disinkronisasi ke server Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tidak dapat diubah. Hal ini timbul pertanyaan bagaimana dengan siswa yang nilainya kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), bisakah dirubah?

Pengisian e-Rapor juga membutuhkan waktu seperti halnya pada pengisian rapor konvensional. Waktu pengisian e-Rapor dimulai ketika Ujian Akhir Semester (UAS) selesai dilaksanakan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi e-Rapor adalah 10 hari sebelum rapor dibagikan. Pada batas waktu tersebut harusnya guru sudah memasukan semua nilai siswa. Nilai siswa yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi untuk perbaikan nilai sesuai Permendikbud No.23 Tahun 2016 pasal 9. Waktu yang diberikan sekolah untuk pembelajaran remedi adalah tiga hari.

Jangka waktu tiga hari untuk pembelajaran remedi itu terlalu singkat. Kebanyakan guru memberikan pembelajaran remedi dengan cara siswa diberikan tugas untuk mengerjakan soal UAS yang sama lagi. Tapi apakah hal ini sudah tepat? Karena belum tentu penyebab kurangnya nilai KKM siswa hanya disebabkan oleh nilai UAS. Masih banyak faktor yang harus dipastikan sebelum memberikan pembelajaran remedi. Jika guru tidak memberikan solusi yang tepat terhadap pembelajaran remedi maka siswa akan dirugikan.

Ketiga, tidak kalah rumit dengan masalah memasukan nilai, aplikasi e-Rapor ini juga membutuhkan komputer yang beroperasi sebagai server dan penanganan ekstra. Membutuhkan penanganan ekstra karena terkait dengan persiapan sebelum memasukan nilai dan sinkronisasi data e-Rapor dengan data Dapodik setelah selesai pengisian nilai. Hal teknis seperti ini akan menjadi makin rumit jika dibebankan kepada guru, maka dari itu dibutuhkan orang yang mampu menyelesaikan masalah teknis terkait e-Rapor.

Solusi

Pertama, menghadapi masalah rumitnya pengisian nilai, seharusnya guru memahami dahulu teknis penilaian dalam Kurikulum 2013 sebelum melakukan pengisian nilai ke e-Rapor. Agar mampu mengisi nilai pada e-Rapor dengan baik dan benar, guru harusnya ada pelatihan pengisian nilai e-Rapor atau buku panduan pengisian nilai e-Rapor.

Kedua, terkait dengan masalah nilai yang tidak bisa diubah, sebelum e-Rapor disinkronisasi ke Dapodik nilai yang kurang atau dibawah KKM masih dapat diubah. Tidak hanya sekadar mengubah nilai guru juga harus memberikan pembelajaran remedi kepada siswa yang nilainya dibawah KKM sebagai cara untuk memperbaiki nilai. Hal ini bertujuan agar adil bagi siswa yang nilainya kurang dan siswa yang nilainya bagus.

Perbaikan nilai dalam waktu yang diberikan cuma 3 hari sebenarnya terlalu singkat. Guru harus bisa mengatur siswa untuk mengikuti pembelajaran remedi. Tidak asal menyuruh siswa untuk mengerjakan ulang soal UAS, guru juga harus mempertimbangkan langkah yang tepat untuk melakukan pembelajaran remedi.

Berdasarkan Permendiknas No. 22, 23, 24 Tahun 2006 dan No. 6 Tahun 2007 terdapat langkah-langkah dalam proses pembelajaran remedi. Pertama guru harus mendiagnosis dulu tingkat kesulitan belajar siswa. Teknik yang digunakan dalam diagnosis kesulitan belajar dapat melalui tes prasyarat pengetahuan, tes prasyarat keterampilan, wawancara, pengamatan dan sebagainya. Setelah guru mengetahui tingkat kesulitan belajar siswa maka guru harus menentukan bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial. Pelaksanaan pembelajaran remedi dapat dilakukan dengan cara pemberian pembelajaran ulang, pemberian bimbingan secara khusus, pemberian tugas-tugas latihan secara khusus dan pemanfaatan tutor sebaya.

Melihat proses pembelajaran remedi yang seperti itu seharusnya waktu tiga hari terlalu singkat untuk pelaksanaan pembelajaran remedi. Sebaiknya sekolah dan guru harus lebih bijak dalam memberikan waktu dan bentuk pembelajaran yang tepat terhadap siswanya, agar siswa tidak merasa dirugikan selama proses pembelajaran di sekolah.

Ketiga, masalah teknis terkait kesiapan dan kelancaran pengoperasian e-Rapor harusnya diatasi oleh admin yang bertugas menyiapan komputer, menginstalan aplikasi e-Rapor, mengambil Dapodik, dan sinkronisasi data e-Rapor dengan Dapodik. Admin merupakan orang yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk mengelola data pada aplikasi e-Rapor dan bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah. Orang yang ditunjuk menjadi admin harus memiliki kemampuan IT yang bagus, berdedikasi dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan sekolah. Admin juga bisa mendampingi guru yang lemah dalam penggunaan IT agar mempermudah proses pengisisan nilai pada e-Rapor.

Mengatasi permasalahan e-Rapor guru harusnya memahami dahulu tentang teknis penilaian pada kurikulum 2013 dan mengikuti pelatihan pengisian e-Rapor atau membaca buku panduannya. Guru dan sekolah juga harus memperhatikan masalah terkait nilai siswa terutama nilai siswa yang dibawah KKM. Sebelum guru memberikan pembelajaran remedi guru harus mendiagnosis masalah belajar siswa dan mampu meberikan pembelajaran remedi yang tepat bagi siswa. Sekolah juga harus lebih bijak dalam mengatur waktu input nilai e-Rapor agar siswa yang nilainya kurang mampu memperbaiki nilai sesuai dengan cara yang benar. Sekolah sebaiknya memiliki ahli IT untuk dijadikan admin e-Rapor, hal ini untuk mempermudah proses persiapan dan pengisian e-Rapor.

Baca Juga