Prof. Chairul Anwar : Permasalahan COVID-19 yang Perlu Diatur Adalah Virusnya

Prof Chaerul Anwar Nidom, dari Universitas Airlangga, diapit oleh Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation (Kiri), CEO Nucleus Farma Edward Basilianus. (Foto Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Hingga saat ini di tengah penyebaran virus Corona (COVID-19), pemerintah masih berkutat kepada pengaturan masyarakat dalam meredam penyebaran. Hal ini ditandai dengan kebijakan yang akan diambil pemerintah terkait darurat sipil yang akan dikenakan.

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom, Drh, MS, menjelaskan pihaknya melihat bahwa virus COVID-19 ini agak menarik, bukan mutasi seperti flu burung dan sebagainya, tapi meliuk-liuk, berubah secara kimiawi.

"Kalau ingin membayangkan meliuknya virus, lihat saja ketika Ronaldo meliak-liuk bermain bola, tidak akan ada yang bisa meramal liukan Ronaldo di setiap permainan, jadi setiap gol diawali dengan liukan, tapi liukan selalu berbeda satu sama lain," terangnya mengumpamakan, di Belezza Shopping Arcade, Jakarta (3/4).

"Kita tidak pernah boleh memiliki konsep yang monoton dalam menghadapi COVID-19. Salah satu cara yang diambil dari teman-teman fakultas kedokteran dengan mengendalikan reseptor blocker," tambahnya.

Prof. Chairul mengatakan, jika dibandingkan dengan kasus flu burung, virus flu burung lebih berbahaya dari COVID 19. Karena jika sudah menyerang paru-paru, akan lumer seperti pneumonia berat.

"Flu Burung, sekarang terinfeksi, besok bisa meninggal. COVID-19 masa inkubasinya bisa sampai 14 hari. Kalau flu burung menulari melalui airbone.
Kebijakan selama ini terkait COVID-19, kita mengatur orangnya bukan mengendalikan virusnya. Saya menunggu kebijakan yang mengatur virusnya. Setiap virus harus dianalisis," tegasnya.

Terkait dengan produk Bromhexine Hydrochloride (BCL) pihaknya menyambut baik akan produk tersebut. Dimana pihaknya telah mendapatkan respon positif dari teman-teman, terutama di fakultas kedokteran.

"Formula BCL ini secara logika bisa diterima, mereka lebih senang menyambut ini karena mengikat reseptornya, bukan mengganggu virusnya. Jangan sekali-kali membunuh virus, karena mereka akan berontak sebagai makhluk hidup, mereka punya HAM (Hak Asasi Mikroorganisme), yang perlu diseimbangkan adalah kehidupan di alam semesta," jelasnya.

Formula BCL menggunakan empat kandungan, yakni BCL (Bromhexine Hydrochloride), Guaiphenisin, Vegetable Glycerine (VG), dan Propylene Glycol (PG). Adapun komposisi kandungan tersebut, saat ini hak patennya sudah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI.

Kandungan BCL telah lazim digunakan sebagai obat mukolitik untuk mengatasi gangguan pernafasan, terutama yang terkait dengan batuk yang terus menerus. BCL merupakan reaksi kimiawi dari bromhexine dan hidrogen klorida dalam komposisi yang seimbang.

Penulis:

Baca Juga