Prof. Dr. Amb. Bachtiar Aly, MA: Tantangan Kebangsaan Muncul dari Faktor Internal dan Eksternal

Tantangan kebangsaan yang muncul secara internal dan eksternal, dibahas dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Acara digelar di aula SD IT Yayasan Amal Mulia, Jl Pekapuran Raya No. 2, Sukamaju Baru, Kec. Tapos, Kota Depok Prov. Jawa Barat, Jum’at (8/2/2019).

Depok, Akuratnews.com - Wakil Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR, Prof. Dr. Amb. Bachtiar Aly, MA jadi pembicara kunci. Dia mengatakan soal tantangan kebangsaan sesuai TAP MPR No. VI Tahun 2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa.

Bachtiar Aly menyebut, Tantangan Kebangsaan dari internal yang mengkhawatirkan adalah lemahnya penghayatan agama dan munculnya pemahaman agama yang keliru dan sempit. Hal tersebut akan melahirkan pemahaman radikal yang memvonis selain kelompoknya adalah salah dan wajib diperangi.

"Pemahaman sempit ini pada akhirnya menimbulkan aksi terorisme yang bukan hanya merugikan diri sendiri, juga merugikan bangsa dengan munculnya korban jiwa ketakutan serta rasa tidak aman," katanya.

Diungkapkan Bachtiar Aly, hal tersebut terutama muncul pasca reformasi bergulir dimana Pancasila seperti ditinggalkan bahkan kurikulum sekolah menghilangkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, sehingga banyak rakyat terutama generasi muda tidak lagi direfresh tentang moral Pancasila.

"Berkurangnya pemahaman Pancasila ditambah munculnya era keterbukaan, masuklah berbagai pemahaman agama yang sempit dan merasuk ke dalam diri sebagian masyarakat Indonesia yang kebetulan belajar agamanya hanya dari internet bukan dari guru, ulama dan kyai secara langsung sehingga banyak salah memahami," ujarnya.

Dari eksternal, tantangan kebangsaan yang wajib diwaspadai adalah pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas dan persaingan antar bangsa yang semakin tajam yang masuk melalui kemajuan teknologi informasi seperti media sosial, internet, game online yang luar biasa tidak terbendung.

"Kemajuan teknologi informasi modern tersebut jika tidak disikapi dengan bijak, maka teknologi tersebut akan berdampak merusak sendi-sendi kebangsaan Indonesia bahkan pemahaman radikalisme masuk juga melalui teknologi informasi ini," ungkapnya.

Untuk itu, Bachtiar Aly mengajak seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda bangsa agar bijak menggunakan teknologi informasi. Pergunakan itu untuk kebaikan dan mempermudah aktifitas. Juga harus pintar-pintar menyaring segala informasi hoax atau fakta yang banyak muncul di media sosial.

"Apalagi mendekati pilpres 2019. Munculnya berbagai kabar hoax, fitnah dan adu domba sangat banyak. Tanamkan dalam diri bahwa pilpres adalah pesta demokrasi yang biasa-biasa saja. Pilih sesuai pilihan masing-masing tanpa harus berkelahi antar teman, antar tetangga, antar keluarga. Pilpres 2019 adalah pintu masuk untuk Indonesia maju dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu," tandasnya.

Pada kesempatan itu, Ketua lembaga Pemerhati Pendidikan Depok Berkemajuan (PEDEPOKAN), Kota Depok, Hilda Mataris, SE dalam sambutannya menyampaikan bahwa masyarakat, khususnya kalangan pendidik yang tergabung dalam komunitas PEDEPOKAN harus menjadi pelopor berada di garda terdepan dalam merealisasikan Pemilu yang aman dan damai di tahun 2019.

"Jadilah masyarakat yang berperilaku Pancasila yakni perilaku yang mempersatukan bukannya memecah belah. Implementasikan perilaku Pancasila ini di keluarga, di lingkungan rumah, di tempat kerja dimana saja. Jika perilaku Pancasila sudah membudaya dan menjadi kebiasaan maka kekhawatiran seputar Pilpres tidak perlu ada. Untuk itu kami juga sangat mengapresiasi sosialisasi empat pilar yang digelar MPR di seluruh wilayah Indonesia, semoga terus digelar dan berdampak baik untuk masyarakat," tandasnya.

Penulis: Jewe
Editor: Alam

Penulis:

Baca Juga