PSI Sebut Reuni 212 Tidak Bermanfaat Bagi Masyarakat

Jakarta, Akuratnews.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menilai Reuni Persaudaraan Alumni (PA) 212 tidak bermanfaat bagi masyarakat. PSI bahkan menyebut acara tersebut, tidak dibutuhkan oleh masyarakat.

Juru Bicara PSI Dede Prayudi mengatakan, reuni PA 212 tak memiliki manfaat bagi masyarakat. Apalagi reuni tersebut dilaksanakan pada hari Senin yang merupakan hari kerja.

"Hari Senin itu sedang ramai-ramainya orang beraktivitas. Kendaraan itu sedang ramai-ramainya. Jadi ya menurut saya, masyarakat banyak tidak membutuhkan ini," ujar Dede, Minggu (1/12/2019).

Meski dijamin Undang-Undang, Dede melihat, aksi reuni yang dilakukan PA 212 sudah tidak bermanfaat bagi masyarakat. Dede menyebut bahwa kelompok 212 justru ingin show of power yakni menunjukkan kekuatan mereka masih besar.

Selain itu, bagi Dede reuni PA 212 ini hanya bagian dari strategi untuk mempertahankan eksistensi. Agar tetap memiliki nilai tawar dan dipakai kembali bagi politisi yang membutuhkan jasa mereka.

"Kalau dilihat dari pengalaman, gerakan ini digunakan untuk menunggang kelompok politik tertentu atau dengan kata lain untuk tunggangan politik. Sebab mereka ini mirip sekali dari yang saya pelajari soal politik parasitisme," tukas Dede.

Prediksi Dede, PA 212 bakal kehilangan pengaruh. Terutama dari kalangan elite yang membutuhkan elektabilitas dari kelompok Islam.

Senada, pengamat politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menilai, rencana reuni 212 yang dilakukan pada hari Senin menurutnya kurang bijak. Pasalnya, hanya akan mengganggu kegiatan masyarakat lainnya.

"Sebenarnya memang bagusnya di hari libur agar kegiatan masyarakat yang lainnya bisa berjalan dengan normal," kata Ujang, Minggu (1/12/2019).

Akan tetapi, Ujang menyoroti sikap Kepolisian yang tetap memberikan izin kepada PA 212 untuk melakukan reuni di hari Senin. Padahal mestinya, polisi bisa melihat mudaratnya reuni tersebut bagi masyarakat umum.

"Artinya, kalau dia sudah mendapatkan izin dari pihak yang berwenang. Kepolisian yang mengawal, polisi harus bertanggung jawab menjaga ketertiban masyarakat. Karena polisi sudah mengizinkan," ujarnya

Ujang menilai, reuni 212 ini merupakan bagian cara untuk menjaga eksistensi. Sebab, tidak dapat dipungkiri setelah Prabowo Subianto bergabung ke pemerintah, suara elemen ini makin kembang kempis.

Ia pun melihat, elemen ini bakal terus mencari cara untuk tetap bisa menunjukkan kekuatannya. Agar mendapatkan kembali panggungnya seperiti di Pilpres 2019.

"Terlebih target mereka belum tercapai. Apa targetnya? Ya mengembalikan Rizieq Shihab ke Indonesia. Jadi itu mengapa eksistensi dan gerakan itu tetap dijaga," ujarnya.

Penulis: Redaksi

Baca Juga