PUPR Manggarai Timur Gelar Rakor Bersama PPK dan Para Kontraktor, Ada Apa?

Kantor Dinas Pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) Matim. || Foto: akuratnews.com, Yohanes Marto.
Kantor Dinas Pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) Matim. || Foto: akuratnews.com, Yohanes Marto.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur (Matim) Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menggelar rapat koordinasi dalam rangka evaluasi menyeluruh terhadap sejumlah proyek konstruksi jalan yang diduga bermasalah.

Manggarai Timur, Akuratnews.com - Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dinas (Sekdis) PUPR Matim Yosef H. Yusuf Urus, saat ditemui pada, Senin (3/02/2020)

Sekretaris Dinas (Sekdis) PUPR Matim Yosef H. Yusuf Urus menjelaskan, rapat evaluasi itu akan digelar dengan tujuan untuk memastikan sekaligus mengevaluasi kesesuaian antara perencanaan dan realisasi pekerjaan fisik APBD Matim tahun 2019 bidang pekerjaan konstruksi jalan. Yosef H. Yusuf Urus menambahkan lamgkah tersebut diambil menyusul banyaknya laporan dari masyarakat dan pemberitaan media terkait sejumlah proyek bermasalah di Manggarai Timur.

Menurutnya evaluasi perencanaan dan pelaksanaan menjadi penting karena hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam menunjang keberhasilan sebuah program yang dijalankan.

"Perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dan evaluasi itu merupakan satu kesatuan," jelasnya.

Sekdis PUPR Matim itu mengungkapkan rapat yang digelarnya itu akan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terlibat dalam jasa pekerjaan konstruksi jalan di Matim,

"Kita sekarang mau lakukan rapat antara PPK sebagai penanggung jawab dengan kontraktor dan konsultan pengawas. Seperti apa tanggung jawab mereka ketika kondisi di lapangan seperti itu. Sebelum pekerjaan itu dilanjutkan, kita harus ketemu dulu antara PPK, kontraktor dengan konsultan pengawas," jelasnya.

Ketika dikonfirmasi terkait kerusakan lapen di jalur jalan Wae Nenda menuju Bawe, Sekdis PUPR Matim itu menjelaskan bahwa kerusakan pada jalur tersebut disebabkan oleh faktor teknis dan nonteknis.

"Beberapa material konstruksi dalam perencanaan tidak sesuai dengan material yang digunakan di lapangan. Sedangkan faktor lain yang menyebabkan kondisi jalanya rusak seperti itu yaitu faktor teknis dan faktor nonteknis. Kita perbaiki dan beberapa maerial yang tidak layak dipakai itu kita ganti," ungkapnya.

Sekdis PUPR Matim itu menambahkan, selain hal tersebut, kondisi topografi yang curam juga diduga menjadi biang kerusuhan jalan.

"Jalan di sana itukan naik-turun. Dengan kondisi topografi seperti itu, walaupun kita gilas sampai 20 kali posisinya pasti tetap seperti itu".

Sedangkan pada sisi lain, Yosef H. Yusuf Urus mengakui bahwa, perencanaan atau pelaksanaan konstruksi yang tidak maksimal diduga menjadi penyebab masalah tersebut terjadi.

Saat ditemui diruang kerjanya, Sekretaris PUPR Matim itu menumpahkan rasa kesalnya terhadap kinerja konsultan pengawas yang dinilai bekerja tidak efektif.

"Kita pakai konsultan pengawas itu untuk membantu pihak proyek untuk mengawasi proyek itu namun, pengawasan yang dilakukan oleh konsultan pengawas itu tidak efektif. Kita bayar dia untuk lakukan pengawasan tapi dia tidak lakukan pengawasan dengan baik," ungkapnya.

Akibat kelalaian konsultan pengawas tersebut, Sekdis Yosef H. Yusuf Urus menegaskan, "Harus dievaluasi, bahkan nanti konsultan ini tidak boleh dipakai lagi. Ini yang akan kita lakukan kedepanya, apakah hasil pekerjaan di 2019 itu bagus atau tidak. Begitu juga kontraktornya," tegasnya.

Sedangkan untuk mencegah persoalan yang sama akan terulang lagi maka, pihaknya akan mengubah jadwal dan proses perencanaan proyek dilakukan lebih awal.

"Kedepanya akan kita ubah, misalnya untuk proyek 2021 itu tahapan perencanaanya harus dimulai pada tahun 2020" terang

Sedangkan untuk jenis material konstruksi, jalannya akan disesuaikan dengan kondisi topografi, "Khusus untuk tanjakan-tanjakan jangan pakai lapen tapi agregat sehingga tidak mudah rusak," jelas Sekdis Yosef Urus.

"Kita akan lihat mana yang lebih efektif sesuai dengan kondisi topografi, sehingga kita kasih alternatif apakah kita pakai agregat dulu baru kita lapen atau pakai konstruksi beton," imbuhnya.

Saat itu, di Ruang kerjanya menerangkan bahwa sebagian besar proyek-proyek pemerintah banyak yang bermasalah disebabkan oleh masa kerja terlalu singkat.

"Kalau kita mau jujur sebenarnya kembali ke perencanaan. Kalau konsultan perencanaan teliti waktu merencanakan proyek itu, maka dia tau untuk kondisi kemiringan dan jenis bahan kontruksi yang dipakai itu apa. Hasilnya baik itu tergantung perencanaan," jelasnya.

"Kenapa proyek-proyek pemerintah itu bermasalah seperti itu karena kita terikat dengan waktu atau tahun anggaran. Bayangkan Januari kita memulai start awal, sementara perencanaan ini butuh proses tapi karena kita didesak waktu makanya kerja juga tidak teliti," katanya.

Penulis: Yohanes Marto
Editor:Alamsyah

Baca Juga