Media Massa versus Medsos

PWI Jaya: Ada Pembeda Antara Medsos dan Pers

Sekum PWI Jaya Kesit B Handoyo saat hadir jadi pembicara wabinar bertema digitalisasi media S sebuah pilihan menghadapi tantangan zaman di Depok Jawa Barat.

Depok, Akuratnews.com- PWI Jaya menilai perlunya masyarakat mengetahui pembeda antara media sosial dan pers sebagai wadah penyampaian informasi yang bisa diakses dalam era digitalisasi.

Sekretaris Umum PWI Jaya, Kesit B Handoyo mengatakan yang jadi pembeda diantara keduanya yakni pada cara proses kerja hingga penyajian informasi pada khalayak.

Pers, kata Kesit, ketika mendapatkan informasi terlebih dulu harus menguji kebenarannya sehingga setiap berita yang disampaikan media pers dapat dipertanggungjawabkan.

"Karenanya cara kerja media pers tidak bisa disamakan dengan media sosial," kata Kesit melalui pesan tertulisnya kepada Akuratnews, Minggu, (7/3).

Dia menjelaskan, letak poin pentingnya yakni, media pers adalah media yang dalam melakukan tugasnya dilindungi oleh UU Pers. Juga terikat oleh Kode Etik Jurnalistik.

"Media sosial tidak seperti itu. Media sosial, jika terjadi sesuatu akan menggunakan UU ITE dalam penegakan hukumnya," ujarnya.

Media massa atau pers, lanjut Kesit, juga harus mampu menunjukkan perbedaan tersebut lantaran media sosial saat ini juga banyak memberikan info kepada masyarakat.

Berkaitan itu, PWI Jaya sebagai organisasi profesi kewartawanan terus melakukan sosialasi kepada anggotanya agar selalu taat dan patuh terhadap KEJ sebagai pedoman dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

"Profesionalisme sebagai wartawan yang bernaung di bawah PWI harus terus dijaga dan ditingkatkan," tandas Kesit.

Kondisi perkembangan media massa di tengah maraknya informasi medsos juga disuarakan Kesit usai sebagai pembicara Web Semiinar (Wabinar) pelatihan jurnalistik digelar dalam rangka HUT ke-3 media lokal Depok Pembaharuan, 6 Maret 2021.

Merujuk Wabinar dengan tema Digitalisasi Media Sebuah Pilihan Menghadapi Tantangan Zaman, Kesit juga sampaikan kondisi media saat ini dilematis. Hingga tak dipungkiri banyak media massa berguguran di tengah maraknya medsos.

Menurut Kesit, media pers harus tetap tidak boleh mati diera digitalisasi. "Terpenting adalah bagaimana media ini memberikan informasi objektif dan berimbang," imbuhnya.

Sekum PWI Jaya ini mengimbau teman wartawan juga tetap menjunjung tinggi dan memegang teguh kode etik jurnalistik. Sehingga, lambat laun kepercayaan masyarakat tumbuh.

"Eksistensi media tentu akan tetap menjadi sumber berita dan informasi bagi masyarakat," pukasnya.

Menyikapi bisnis media massa pada era digitalisasi, pimpinan umum Debar Acep Ashari menganggap penting tema dari wabinar tersebut lantaran mewakili keadaan bisnis media massa saat ini.

"Penting bagi kita yang bergerak dibidang media. Karena media sendiri merupakan bagian dari sebuah bisnis," kata Acep.

Sementara, Pimpinan Redaksi Debar Adie Rakasiwi menambahkan, kegiatan Webinar Pelatihan Jurnalistik jadi bagian dari rangkaian acara HUT Debar ke-3.

Dia mengatakan, puncak acaranya di gelar pada 11 Maret 2021 mendatang di RM. Gabus Pucung dengan rangkaian acara syukuran, santunan anak yatim dan pemberian sertifikat penulisan terbaik bagi peserta Webinar Pelatihan Jurnalistik.

"Saya berharap Debar semakin maju dan terus bisa mengedukasi masyarakat. Terutama dalam memberikan informasi bagi masyarakat," tutupnya.

Penulis:

Baca Juga