Nina Nugroho Solution

Rahasia Sukses Bisnis Kopi Kekinian Ala Pambudi Prasetyo

Jakarta, Akuratnews.com - Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Tak hanya di kelas menengah ke atas, tetapi juga di kelas menengah ke bawah.

Meski sebagai salah satu produsen, Indonesia menduduki posisi keempat di dunia, dibawah Brasil, Kolombia dan Vietnam. Namun konsumsi kopi Indonesia yang tertinggi di dunia.

Data BPS mencatat, di 2019, produksi kopi Indonesia mencapai 742.000 ton dan 50,6 persen diantaranya merupakan konsumsi dalam negeri.

‘’Jadi bisnis kopi di Indonesia saat ini bisa dibilang sangat dahsyat. Bukan hanya dahsyat di hulu, yakni dari para petani kopi, tetapi juga di hilir, bahkan juga diantara keduanya, yakni para roastery,’’ ungkap Pambudi Prasetyo, Founder Brew Brothers Community saat berbincang dengan Nina Nugroho, desainer #busanakerjamuslimah dalam Nina Nugroho Solution Live IG di akun @ninanugrohostore, Sabtu (6/3) lalu.

Dalam episode ke 74 yang membahas ‘Usaha Kopi di Tengah Pandemi' ini, dibahas soal tidak banyak terimbasnya bisnis kopi oleh pandemi Covid-19.

"Bahkan merupakan satu dari komoditas yang terus meningkat konsumsinya,’’ ungkap Nina Nugroho.

Oleh karenanya, usaha kedai kopi, terutama kopi kekinian begitu marak di sejumlah wilayah di Indonesia.

Menurut Pambudi, dari 742 ribu ton produksi kopi, 98,6 persen dihasilkan petani kopi rakyat. Sedangkan negara hanya menghasilkan 0,8 persen dan swasta hanya 0,6 persen.

"Saat ini para petani kopi juga lebih suka menjual kopinya di dalam negeri, karena harganya sangat bagus. Ada yang mencapai hingga Rp1 juta per kg nya," papar Pambudi.

Pemilik LPK Indonesia Terang yang kerap memberikan pelatihan berbisnis kopi kekinian ini lebih lanjut menjelaskan, Indonesia saat ini tengah memasuki stage ke 4 dari perkembangan konsumsi kopi.

Dimana stage 1 personanya adalah para baby boomer alias mereka yang berusia antara 56-74 tahun. Para baby boomer ini adalah konsumen kopi ready to drink alias kopi sachet.

Stage 2 dipenuhi generasi X yang berusia 40-55 tahun. Stage ini dimulai dengan berkembangnya mesin kopi dan ditandai munculnya coffee shop global semacam Starbuck di tahun 1990 an hingga tahun 2005-2006.

Stage 3 masuk ke generasi milenial berusia 24-39 tahun, ditandai dengan hadirnya kedai kopi lokal yang sekarang sudah sangat menjamur.

"Tidak berhenti disitu, Indonesia sudah memasuki stage ke 4 yang diramaikan Gen Z, yaitu mereka yang berusia 8-23 tahun dan ditandani dengan hadirnya coffee shop to go. Kalau kita lihat, market dari generasi milenial dan Gen Z ini total sekitar 145 juta orang. Sebesar itu lah sekarang market untuk jenis kopi kekinian,’’ ungkap Pambudi lagi.

klKendati budaya konsumsi orang Indonesia sudah mulai baik, tetapi mereka tidak fanatik terhadap merk atau produk tertentu.

‘’Ketika kedai kopi A penuh misalnya, mereka dengan ringan pindah ke kedai kopi yang lain. Jadi, wemeski mungkin letaknya saling berdekatan, tetapi mereka justru saling support. Disamping itu, berbeda dengan restoran, orang datang ke kedai kopi dengan aneka tujuan. Kedai kopi itu melting pot orang dengan berbagai tujuan, mau nongkrong, kerja, meeting dan sebagainya. Karena itu bisnis kedai kopi ini relatif lebih stabil dibanding bisnis lain,’’ tuturnya.

Ia juga mengingatkan, harus ada analisa SWOT yang matang dalam bisnis ini.

"Market di daerah itu siapa, sehingga kopi harus ditampilkan dengan nama seperti apa, berapa harganya bagaimana mempromosikannya, harus dipikirkan dengan matang. Kadang kita tidak sadar justru membuat penghalang dengan konsumen saat memberi nama yang sulit dipahami konsumen yang datang ke kedai kopi tersebut. Pemilihan nama kopi juga bisa mempengaruhi penjualan,’’ terang Pambudi.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga