Potret Buram Kesehatan

Regulasi yang Lemah dan Anak Muda yang Rentan

Desakan revisi 109/2012 melalui mural untuk segera dilakukan.

AKURATNEWS – Meski suaranya terdengar berapi-api, gurat kekhawatiran tetap tergambar di wajah Mch Intan Wahyuning Rahayu, yang ditemui di acara Aksi #ParadeMural Hari Kesehatan Nasional di Taman Pantung Kuda, Gambir, (17/11/2021) lalu. Kekhawatiran Intan, panggilan akrabnya, terhadap nasib anak bangsa di masa depan, ia sampaikan terkait tingginya prevalensi perokok anak yang terus meningkat setiap tahunnya.

Ia mengutip data Riset Kesehatan Dasar 2018 yang menunjukkan prevalensi merokok penduduk usia anak 10-18 tahun naik, dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018. “Salah satu penyebab kenaikan ini karena masifnya paparan iklan promosi dan sponsor rokok terhadap anak. Karena terbukti sudah banyak studi yang menyebutkan adanya korelasi antara terpaan iklan, promosi dan sponsor rokok kepada anak terhadap keinginan untuk merokok. Sementara di negeri ini belum ada regulasi yang kuat untuk melindungi anak dari adiksi rokok dan dari target pemasaran industri rokok yang massif menyasar anak,” geram Intan.

Karena itulah, bersama sejumlah pegiat Koalisi Masyarakat Peduli Kesehatan (KOMPAK) lainnya di acara aksi #ParadeMural Hari Kesehatan Nasional, Intan bergabung menyuarakan desakan agar Pemerintah membuat kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak dan remaja, dari dampak rokok yang sangat berbahaya.

“Kami memilih mural sebagai media lain untuk penyampaian aspirasi, setelah beberapa cara kami tempuh untuk menyuarakan pendapat, mulai dari webinar, pengiriman surat dukungan dan surat audiensi, wawancara dengan media, dan kampanye di media sosial,” jelas Intan. “Di saat upaya-upaya formal sudah kami tempuh tapi belum juga terlihat komitmen Pemerintah untuk membuat kebijakan pengendalian tembakau yang tegas, di saat inilah kami menggunakan karya mural yang berisi kritik kami untuk mendesak Presiden segera mengesahkan Revisi PP 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan,” tambah Intan yang juga Pembaharu Muda 3.0 asal kota Madiun ini.

Tak hanya Intan yang mengkhawatirkan nasib kesehatan anak bangsa. Seorang praktisi Kesehatan yang juga ditemui di acara Aksi #ParadeMural Hari Kesehatan Nasional, dr. Muhammad Ridha, juga concern terhadap pentingnya perlindungan kesehatan anak, terutama dari rokok yang sangat berbahaya.

“Negara menjamin setiap anak berhak untuk mendapatkan pelayanan Kesehatan, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945. Dalam Pasal 28B ayat 2 UUD 1945 disebutkan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Salah satu kekerasan di sini adalah rokok. Sehingga anak-anak wajin dilindungi dari segala bentuk bujuk rayu yang pada intinya memaksa anak untuk mencoba merokok dan menjadi ketagihan terhadap rokok,” kata dr Idho, panggilan akrabnya.

Momentum Hari Kesehatan Nasional, kata dr Idho harus jadi pengingat keras bagi Pemerintah untuk membuat kebijakan yang kuat untuk melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak dan remaja, karena anak-anak adalah aset bangsa dan calon pemimpin negeri di masa depan.

Intan dan dr Idho tidak sendirian. Sejak tahun 2018 para penggiat kesehatan telah berjuang mendorong pengesahan Revisi PP 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan sebagai amanah dari Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2018.

Namun hingga saat ini, perjuangan tersebut belumlah mencapai hasil yang diinginkan. Proses penyelesaian Revisi PP 109/2021 yang bertujuan untuk memperluas peringatan kesehatan dalam bentuk gambar, melarang penjualan rokok batangan, mengatur rokok elektronik dan melarang iklan rokok di media teknologi informasi serta luar ruang, ini santer disebut-sebut mandeg di tengah jalan.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis:

Baca Juga