Rekonstruksi Pasca Gempa, Masyarakat Bangun Rumahnya Sendiri

Jakarta, Akuratnews.com - Saat ini penanganan gempa Lombok berada pada tahap transisi darurat ke pemulihan. Tahap ini dimulai sejak berakhirnya tahap tanggap darurat pada Sabtu (25/8) lalu.

Harmensyah selaku Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, transisi darurat ke pemulihan ini merupakan bagian dari keadaan darurat.

"Jadi ada tiga. Siaga darurat, tanggap darurat, dan transisi darurat ke pemulihan, itu status keadaan darurat namanya," terangnya saat menghadiri diskusi "Rekonstruksi Fasilitas Dasar Pasca Gempa Lombok 2018" di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jl. Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (27/8/2018).

Setelah dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa di Lombok, BNPB akan gunakan dana siap pakai yang dikelola untuk rekonstruksi di situasi darurat.

"Sekarang sudah di masa transisi darurat ke pemulihan, karena ini salah satu persyaratan dalam hal menggunakan dana siap pakai. Karena untuk pembangunan sekolah sementara, rumah sakit sementara dan kantor-kantor sementara kalau ada, itu dengan menggunakan dana siap pakai yang dikelola oleh BNPB. Ini persyaratan, situasi harus darurat," kata Harmensyah.

Sebelumnya, dalam Rapat Koordinasi Teknis Eselon I yang digelar pada Jumat (24/8) sore, BNPB telah mengusulkan agar pembangunan rumah rusak berat memadukan konsep rumah RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) dan rumah konvensional dengan struktur tahan gempa.

Harmensyah menuturkan, ada 125.000 rumah yang rusak berat, sedang dan ringan. Dan yang sudah terdata dan terverifikasi ada lebih kurang 34.000 atau 26 persen dari keseluruhan.

Kata Harmensyah, proses rekonstruksi ini akan menggunakan dana siap pakai, dengan sistem pemberdayaan masyarakat dibawah pembinaan teknis oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Selain itu, typical design sudah disiapkan sehingga masyarakat tinggal mempedomaninya.

"Sistemnya pemberdayaan masyarakat. Masyarakat yang membangun rumahnya sendiri. Sekaligus ini pembelajaran bagi masyarakat untuk seterusnya bagaimana membangun rumah yang strukturnya tahan gempa," tuturnya.

Harmensyah juga menjelaskan beberapa tantangan terberat yang dihadapi dalam proses rekonstruksi. Diantaranya, ketersediaan bahan bangunan, ketersediaan tenaga kerja atau tukang yang harus dilatih terlebih dahulu, serta keadaan masyarakat yang saat ini berada dalam keadaan berduka.

"Persoalan verifikasi, percepatannya agak sedikit mengalami gangguan karena memang masyarakat ada di titik-titik pengungsian," tukasnya. (Rhm)

Penulis:

Baca Juga