oleh

Relaksasi Kredit Berhasil Tingkatkan Pertumbuhan Sektor Properti

Jakarta, Akuratnews.com – Relaksasi “Loan to Value” bisa mendorong pertumbuhan sektor properti karena memungkinkan perbankan untuk lebih fleksibel dalam menentukan kebijakan terkait LTV. Bank Indonesia sendiri melakukan relaksasi ini sejak pertengahan September silam. LTV menggunakan rasio dalam menentukan nilai kredit yang dapat diberikan bank kepada nasabah yang ingin mengajukan pinjaman untuk pembelian rumah.

Pada pertengahan September 2018, Bank Indonesia resmi mengeluarkan aturan teknis terkait LTV. Bank Indonesia menyatakan kebijakan relaksasi atau pelonggaran LTV diambil mengingat kondisi perekonomian nasional yang meliputi pertumbuhan kredit dan pembiayaan properti masih berada pada fase akselerasi.

Ignesjz Kemalawarta, Wakil Ketua Umum Bidang Perundang-undangan dan Regulasi Properti DPP REI, dalam gelaran REI Mandiri Property Expo 2018 di hari Minggu (25/11) secara terbuka mengatakan bahwa relaksasi LTV bisa mendorong pertumbuhan sektor properti karena memungkinkan perbankan untuk lebih fleksibel dalam menentukan kebijakan terkait LTV. Semakin longgar rasio LTV yang diberikan, semakin kecil uang muka yang harus disediakan konsumen dan ini diharapkan akan mendorong daya beli masyarakat di sektor properti.

Di sisi lain, penyediaan dan permintaan produk properti terutama di kelas menengah terus mengalami peningkatan. Risiko kredit dan pembiayaan di sektor properti selama ini juga relatif terjaga dengan baik. Sebagaimana dilakukan oleh salah satu bank nassional yang mengikuti gelaran ini, Bank Mandiri  memberikan kelonggaran berupa uang muka 0 persen bagi nasabah.

Melalui KPR Milenial Bank Mandiri berusaha memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi generasi milenial untuk memiliki rumah. Generasi milenial menjadi target pasar yang cukup potensial karena diperkirakan pada tahun 2020 mendatang, akan muncul sekitar 1 miliar konsumen baru yang terdiri dari kaum muda atau generasi milenial di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kebijakan LTV yang dikeluarkan Bank Indonesia diharapkan juga memberi angin segar bagi para pengembang dan perbankan. Terkait LTV dan kaitannya dengan generasi milenial, Ignesjz menyarankan perbankan untuk mempertahankan tingkat suku bunga yang menarik bagi kaum milenial. Selain itu, industri juga perlu menghadirkan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kaum milenial.

Terkait sektor properti, ia menyatakan ada pergeseran kebutuhan misalnya dari ruang kantor yang cenderung kotak dan kaku menjadi co-working space atau ruang kantor yang lebih fleksibel. Generasi milenial dikenal menginginkan hal yang lebih praktis dan mudah. Hal ini perlu diperhatikan oleh para pengembang yang menargetkan generasi milenial sebagai pasar prospektif mereka. (LH)

Loading...

Komentar

News Feed