Opini

Renungan Hari Tenang: Dari Indonesia Pusaka Hingga Tuhan Survei

Opini, Akuratnews.com - Selesai sudah masa kampanye. Jika delapan bulan hiruk pikuk masa kampanye itu lautan yang maha luas, lalu kembali kita menyelam ke sana, apakah gerangan mutiara yang kita dapat?

Tentu setiap penyelam akan mencari mutiara sesuai dengan selera, persepsi tentang apa yang penting, bahkan panggilan hidupnya. Bagi saya pribadi, setidaknya empat mutiara ini yang akan saya simpan.

Pertama, itu adalah lagu Indonesia Pusaka, penutup debat di hari penutup kampanye, 13 April 2019.

Baik kubu 01, kubu 02, dan penyelenggara pemilu, bersama di atas pentas. Lagu soal cinta tanah air bergema. Dan petikan lirik Ismail Marzuki itu, lama membuat saya terdiam:

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Dan memang itulah tujuan tertinggi dari ritual pemilu. Kompetisi, adu gagasan, demonstrasi kepentingan, itu semua semacam gerak senam dan angkat beban dalam gymnasium. Tak ada lain tujuannya. Walau kadang sakit, tapi olah raga dalam gymnasium justru untuk membuat badan kita kian kuat dan sehat.

Pedih dan kerasnya persaingan pemilu punya fungsi yang sama. Tak lain ia hanya olah batin untuk membuat tubuh Indonesia kian sehat dan kuat.

Pemilu ini diarahkan agar kita semakin cinta tanah air. Karena di sanalah kita dilahirkan, berlindung di hari tua. Dan jika sampai waktunya, di sana pula, kita akan menutup mata.

Kita ingin semakin lama Indonesia menjadi rumah bersama yang semakin sejahtera, semakin adil, semakin nyaman dihuni oleh kita, dan anak cucu kita kelak. Tiada guna pemilu jika ia tidak menjadi tangga ke puncak itu.

Kedua, itu adalah pernyataan Jokowi di GBK 13 April 2019. Dalam jumlah massa kampanye, yang mungkin salah satu terbesar dalam sejarah kampanye, ikrar itu dinyatakan. Ujar Jokowi: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 harga mati!

Penting fondasi bangsa itu untuk terus menerus diperkuat. Indonesia masih dalam masa transisi. Sistem lama otoritarian sudah kehilangan legitimasi. Tapi sistem baru demokrasi belum kokoh.

Dalam indeks demokrasi yang dikeluarkan oleh Economist Inteligence Unit, kita masih dikategorikan sebagai demokrasi yang belum terkonsolidasi (Flawed Democracy). Satu penyebabnya karena sistem demokrasi belum menjadi “the only game in town”

Masih banyak elit berpengaruh, yang punya hentakan pada grass groot, yang masih mengajukan paham lain di luar prinsip demokrasi modern dan kultur hak asasi manusia.

Fondasi Indonesia belum sepenuhnya menjadi the only game in town.” Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 yang sudah diamandemen itu fondasi yang terus perlu diperkuat. Demokrasi Indonesia dibangun di atas fondasi itu.

Pemilu sangat ideal jika berjalan memperkuat fondasi itu, bukan memperlemah.

Ketiga, itu adalah pernyataan SBY. Momennya ketika kampanye Akbar Prabowo di GBK Jakarta. Ujar SBY, hindari kampanye yang tidak inklusif, yang tidak “All for All.” Cegah demonstrasi massa yang justru akan menambah polarisasi politik berdasarkan keagamaan, kedaerahan atau paham yang ekstrim.

Saat itu SBY berbicara selaku negarawan, walau secara resmi, ia berada dalam kubu Prabowo. Berulang SBY menyatakan ketika menjadi presiden: kesetiaanku kepada partai politik berhenti, ketika kesetiaanku pada negara dimulai.

SBY mengingatkan kita. Menang dan kalah dalam pemilu memang sah menjadi tujuan. Namun hindari kemenangan dengan menggunakan manuver yang justru membahayakan fondasi negara.

Jika negara dalam jangka panjang semakin terpolarisasi, terpecah, berdasarkan sentimen agama yang ekstrim dan emosional, apa yang tersisa untuk diperebutkan lagi?

Dalam pemilu, penting untuk menyusun strategi detail menentukan kemenangan. Namun itu dikerjakan tetap dalam kerangka Indonesia yang bhineka tunggal ika, yang menjamin kesetaraan warga negara, yang melindungi kebebasan individu untuk berbeda sejauh sesuai dengan prinsip hak asasi manusia universal.

Keempat, itu adalah pernyataan Prabowo 24 Oktober 2018, yang dicatat banyak media online. Ujar Prabowo: Denny JA itu siapa? Tuhan Survei?

Itu yang menjadi pembeda pemilu di era reformasi dibandingkan pemilu era Orde Baru. Kini Presiden dipilih langsung. Lembaga survei dan konsultan politik mewarnai kampanye. Ia memang satu paket dengan demokrasi langsung.

Bisa dipahami kegusaran Prabowo atas lembaga survei. Di tahun 2014, ia sendiri sempat syukur sujud terpilih sebagai presiden di tahun 2014. Penyebabnya karena quick count lembaga survei memenangkannya.

Padahal di seberang sana, LSI Denny JA dan lebih banyak lembaga survei lain sudah lebih dulu mengumumkan kemenangan Jokowi- JK.

Lembaga survei yang keliru itu, sebagian sudah dipecat oleh asosiasi lembaga survei. Tinggal ketik saja di Google, kita tahu lembaga survei yang dimaksud.

Tapi beberapa bunga yang layu tak dapat digeneralisasi bahwa seluruh kebun bunga layu. Hal yang sama dengan layunya beberapa lembaga survei.

Lihat pula contoh lembaga survei yang terbukti akurat. Yang terbukti membantu semua kita untuk memahami perilaku pemilih. Untuk memahami aspirasi, harapan, ketakutan, kekecewaan warga negara.

Maret 2005 akan dicatat sejarah mulai berubahnya politik pemilu. Itulah momen pertama kali Partai Politik menanda tangani kesepakatan kepada lembaga survei untuk ikut menyeleksi siapa yang layak menjadi calon partai untuk kepala daerah. Politik pemilu pun mulai mengawinkan politik praktis dan ilmu pengetahuan opini publik.

Saat itu, partai pertama yang menggunakan survei sebagai instrumen resmi partai adalah partai Golkar. Di tahun 2005. Golkar diwakili Andi Matalata dan Ruly Chairul Azwar meminta saya Denny JA melalui LSI, untuk ikut menyeleksi lebih dari 200 pilkada.

Penyebabnya tak ada lain adalah peristiwa sebelumnya. LSI yang saya pimpim secara tepat memprediksi SBY yang akan menjadi presiden. Dan menyatakan walau ada serangan sarang politisi busuk, Golkar akan juara pemilu 2004.

Saat itu sentimen publik tak percaya. Apa iya SBY dari partai kecil bisa mengalahkan Megawati, yang saat itu menjabat presiden, pemimpin partai terbesar, anak proklamator Bung Karno? Apa iya Golkar yang identik dengan Orde Baru, yang diisukan sarang politisi busuk, yang dikalahkan PDIP dalam pemilu 1999, bisa kembali juara?

Melawan opini publik, LSI menyatakan bisa. Google menyimpan rekaman itu.

Saya pertaruhkan segala untuk meyakinkan. Abakadabra! Mata elit politil terbuka. Ternyata telah datang ilmu pengetahuan yang bisa membaca bahkan memprediksi perilaku pemilih.

Namun sebagaimana profesi lain, ada yang baik, ada yang buruk. Itupun terjadi pada lembaga survei: ada yang baik, ada yang buruk. Om Google datang membantu. Cukup ketika nama lembaga survei di sana, track recordnya terbaca. Atau malah lembaga itu tak ada record sama sekali.

Pemilu langsung menjadi ibu kandung lembaga survei. Dan ibu tak bisa dipisahkan dari anaknya. Sebagaimana anak tak bisa dipisahkan dari ibunya.

Datanglah hari tenang. Selesai sudah 7-8 bulan masa kampanye. Satu peristiwa besar segera berlalu. Hikmah atas peristiwa besar, oh.. dilupakan jangan.

Siapapun nanti yang terpilih, yang menang adalah ibu pertiwi, yang semakin kokoh, semakin dalam mendengar aspirasi rakyatnya.

Penulis: Denny JA

Baca Juga