Revisi PP 109/2012 Belum Selesai

Kepentingan Anak Jangan Dibenturkan Dengan Kepentingan Bisnis, Apalagi Dengan Rokok

Ilustrasi Penentuan revisi PP 109/2012

Menjawab perokok anak yang terjadi, dia mengungkapkan perokok anak dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan secara kuantitas. Terkait ini, pemerintah telah gagal dalam upaya menurunkan prevalensi perokok anak. Bahkan dari berbagai sumber didapatkan bahwa perokok anak usianya semakin muda.

"Pada umur 9 tahun anak2 Indonesia sudah merokok, bahkan beberapa kasus yang sempat viral menunjukkan ada anak yg merokok dalam usia dibawahnya," jelasnya.

Dia mengatakan, Peraturan yang ada saat ini belum menyentuh persoalan pokok dari penyebab anak anak merokok. Beberapa faktor pendorong anak untuk mencoba merokok antara lain: Mudahnya anak mengakses rokok dengan harga yang sangat murah. Anak-anak masih bisa membeli rokok secara ketengan disesuaikan dengan uang belanja mereka.

"Selain itu Anak2 juga menjadi perokok setelah "terhipnotis" iklan2 rokok yang menyuguhkan gaya hidup seorang perokok yang sangat menyentuh kalangan muda. Dari beberapa testimoni mereka mengatakan sangat tertarik pada iklan rokok tertentu, karena keren dan memperlihatkan sesuatu yang diidamkan anak muda," jelasnya.

Sponsorship yang dilakukan industri rokok secara bebas dalam segala lini, telah berhasil memberikan image yang baik kepada industri rokok dan menganggap rokok sebagai sesuatu yang normal, yang tidak ada dampak ketika mrngkonsumsinya.

"Tidak adanya peraturan yang tegas dalam kebijakan yang ada saat ini terkait pembatasan Iklan, promosi dan sponsor ship rokok, menyebabkan anak-anak menjadi semakin mudah terjebak menjadi perokok pemula, dan sulit bisa berhenti karena pengaruh zat adiktif rokok," terangnya.

Untuk itu, Aan menegaskan, revisi PP 109 dengan penegasan pada kepentingan terbaik bagi anak bangsa sangat urgent untuk dilakukan. Generasi muda yang akan tumbuh dengan populasi yang sangat besar akan menjadi bonus demografi bagi Indonesia beberapa tahun ke depan.

"Namun semuanya akan gagal menjadi berkah, ketika generasi yang diharapkan justru adalah generasi yang sakit-sakitan dengan produktifitas yang tidak optimal," pungkasnya.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga