Richard Mille Indonesia Diduga Wanprestasi Hak Pelanggannya

AKURATNEWS - PT Royal Mandiri Internusa selaku agen tunggal penjualan jam mewah merk Richard Mille di Indonesia diduga melakukan tindak wanprestasi kepada konsumen mereka.

Pasalnya, perusahaan yang salah satu tokonya terletak di Mal Plaza Indonesia ini tak kunjung menyerahkan dua buah jam tangan yang telah dibeli secara tunai oleh pelanggannya, Toni Sutrisno. Adapun jam Richard Mille yang dibeli Toni terdiri dari dua tipe, masing-masing RM 56-02 Blue Sapphire Unique Piece dan RM 57-03 Black Sapphire Dragon.

Sejumlah upaya sudah dilakukan Toni, termasuk datang dan menemui pengelola butik jam keluaran Swiss tersebut. Namun usaha ini tak membuahkan hasil.

"Klien kami membeli dua buah jam tersebut pada 2019 dengan harga Rp70 miliar, namun hingga saat ini barang yang dimaksud tak kunjung datang," ujar Robert Simanjuntak, juru bicara Toni Sutrisno kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/5).

Robert menuturkan, persoalan bermula saat Toni yang menjadi pelanggan sekaligus kolektor jam asal Swiss itu tak kunjung menerima jam yang telah ia beli sejak 2019. Padahal, Richard Lee yang saat itu menjadi perwakilan Richard Mille Indonesia telah menerima uang pembelian dan sekaligus menyerahkan seluruh dokumen kelengkapan barang serta bukti terjadinya transaksi tersebut.

Toni yang sebelumnya juga kolektor jam tersebut diminta menunggu kedatangan jam yang disebut Richard masih berada di Singapura dan akan diserahkan begitu barang yang dimaksud tiba di Indonesia.

"Namun hingga hari ini, barang yang dibeli tersebut tak pernah sampai ke tangan klien kami," ungkap Robert.

Ia menambahkan, saat ini Richard Lee sudah tidak lagi menjabat sebagai wakil Richard Mille Indonesia. Kedudukannya digantikan Yullie, Finance & Account Manajer PT Royal Mandiri Internusa, pemilik dan pengelola butik atau toko penjualan Richard Mille di Indonesia.

"Bulan Mei lalu kami bertemu dengan Yullie dan mempertanyakan solusi masalah ini. Alih-alih menyelesaikan, dia malah menyuruh kami mengambil sendiri barang tersebut ke Singapura, tempat Robert Lee berasal sekaligus pusat penjualan jam Richard Mille Asia. Tawaran itu dianggap tak masuk akal, selain memang terkendala karena pembatasan aktifitas akibat pandemi Covid-19.

"Hak klien kami adalah menerima barang di Jakarta, bukan dengan mengambilnya sendiri ke sana," ujar Robert lagi.

Toni sendiri pernah ditawarkan penggantian dalam bentuk uang tunai sebesar Rp70 miliar untuk penyelesaian masalah ini, namun ditolak. Pasalnya, saat ini nilai jual jam ini sudah jauh lebih tinggi.

"Saat ini nilai kedua barang tersebut sudah mencapai Rp170 miliar, karena untuk kedua tipe tersebut sudah ada yang menawar sebesar itu," papar Robert.

Saat dihubungi wartawan lewat telepon selular, Yullie selaku Finance & Account Manajer PT Royal Mandiri Internusa dan perwakilan penjualan jam tersebut di Indonesia menolak berkomentar.

"Saya no comment dan tidak dalam posisi harus menjawab pertanyaan tersebut. Silahkan tanya kepada Pak Toni saja," ujar Yullie.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga