Rindu Pulang ke Gereja

Jimmy Carvallo, Penulis Lepas dan awam Katolik.
Jimmy Carvallo, Penulis Lepas dan awam Katolik.

Akuratnews.com - Hari ini, Sabtu, 4 April 2020 di tengah pandemi corona yang mengharuskan setiap orang tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak fisik dan sosial, suatu pemandangan yang tidak lazim terjadi di Kota Ruteng, Flores. Para imam Katolik dengan (berdiri) menumpangi mobil pick-up berkeliling masuk-keluar jalan raya dan gang memberkati dan memerciki air berkat pada daun-daun Palma yang dipegang umat yang berdiri di setiap depan rumah mereka.

Saya dan keluarga, salah satu diantara ratusan umat yang ikut berdiri disuatu sudut Jalan Juria, Kombas Maria Fatima Paroki Santu Mikhael Kumba di Keuskupan Ruteng. Kami pun mulai mengangkat dan melambaikan daun-daun Palma, ketika mobil yang ditumpangi Romo Peppy, salah seorang imam muda melintas di depan kami.

Ia memandang ke arah kami berkumpul dan beberapa detik kemudian memerciki air berkat pada daun Palma. Kami lalu merunduk, sementara Patung Pieta yang kami letakkan di atas meja kecil beralas kain coklat deakan hanyut dalam hening saat sang imam semakin jauh meninggalkan kami, terus melintasi Jalan Juria melewati umat lainnya yang telah menanti "lawatan" sang imam.

Kisah kenangan Yesus memasuki Yerusalem dan disambut banyak orang dengan ranting-ranting dan daun, dimana Ia memulai penderitaanNya dengan sengsara, wafat di kayu Salib lalu bangkit dari mati, yang terjadi lebih dari dua ribu tahun lalu itu, kembali menggema hari ini.

Namun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, khusyuk dirayakan dalam gereja-gereja, hari ini, kami berada di pinggiran jalan raya, tanpa mendengar Firman Tuhan, khotbah dan Ekaristi. Tiada paduan suara yang menggetarkan hati. Tanpa saling bercengkerama dalam rumah Tuhan.

43 tahun menjadi umat Katholik di sebuah Keuskupan yang besar, pengalaman iman yang menghadapkan saya dan umat lainnya dengan situasi "Perayaan Palma di Rumah" ini seakan menjadi sebuah pengalaman rohani yang sangat mengharukan. Itu terasa karena berbagai perasaan dalam hati terasa saling bercampur-aduk, sedih, rindu, sunyi, terasing, hening, cinta, gembira, harapan, pilu dan lainnya bersatu dalam suatu pandangan mata yang hanya sesaat namun menginggalkan kesan yang dalam, saya hanya mendapati sebuah kata yang juga tidak sepenuhnya mewakili inti terdalam pengalaman indah ini : keharuan.

Cinta Yesus yang tak bersyarat dan karya penebusan dosanya bagi umat manusia di atas kayu Salib di Bukit Golgotha, sejak Ia dielu-elukan di Kota Yerusalem sebagai permulaan penderitaan, terasa menyentuh sanubari, tatkala situasi "keterasingan" umat manusia, satu sama lain, harus dijalani dengan ikhlas dan tawakal demi memutus mata rantai penyebaran virus corona yang telah merenggut jiwa ribuan manusia dalam dua bulan di awal 2020.

Bagaimana tidak menyesakkan dada, ketika melihat pemandangan seorang dengan yang lainnya harus berdiri berjarak, saling memandang dan bertukar senyum pada yang lainnya dari kejauhan, sementara daun-daun Palma yang ada digenggaman menjadi simbol persaudaraan dalam kegembiraan iman (ikut) menyambut Yesus yang memasuki Yerusalem sebagai Raja penyelamat dunia?

Adakah kerinduan yang lebih besar selain menyambut Sang Putera Yang Menderita, tidak hanya dengan melambaikan daun-daun Palma tapi juga menerimaNya dalam hati melalui Ekaristi Suci yang mana Ia secara istimewa bersatu dengan perjuangan hidup kita dalam mengalahkan penderitaan dunia dan dengan iman menjadi saksi-saksi Cinta di tengah dunia yang semakin kelihatan kehilangan harapan termasuk dekadensi atas nilai-nilai moral, etika dan kemanusiaan?

Pengalaman "Perayaan Palma di Rumah" merupakan sebuah "stasi" Jalan Salib nyata dalam.ziarah hidup banyak orang yang menuntut refleksi mendalam. Pandemi corona telah menyeret banyak orang pada jalan salib yang memilukan, terutama bagi mereka yang menjadi korban (terpapar dan wafat), keluarga-keluarga yang ditinggalkan tanpa daya, mereka yang bathinnya terluka karena ditolak pulang di kampung halaman sendiri, ketakutan dan trauma yang melanda banyak orang, menurunnya pendapatan mata pencaharian dan perasaan keterasingan dengan sesama.

Dalam fenomena perih yang menyayat hati itu, dalam momentum "Palma yang Sunyi" kita semua ada baiknya meluangkan waktu sejenak, semacam "mengheningkan cipta" sembari memeriksa kembali relasi-relasi kita, dengan Sang Pencipta, sesama dan alam. Tak ada kata terlambat untuk selalu menyediakan waktu " jeda" dan berani "ke luar" dari diri sendiri untuk melihat rekaman perjalanan tapak-tapak hidup yang telah kita lalui.

Duc in Altum (bertolak ke tempat yang lebih dalam) merupakan ajakan Yesus yang sarat makna, ketika Ia mengajak para muridNya untuk menebarkan jala mereka guna mendapatkan "suka cita baru" di tengah keputusasaan dan hilangnya harapan karena harapan-harapan yang pupus.

Kisah "Perayaan Palma di Rumah" bagi sebagian besar orang Katholik mungkin menjadi sebuah cerita yang tidak pernah akan terlupakan. Bukan karena unik dan mengharukan saja, tetapi terlebih karena hal itu terjadi di saat umat manusia sedang berada di jalan salib nyata, penderitaan dan kepanikan global yang harus dipikul bagai sebuah salib yang mesti dijalani sampai puncak perjuangan akhir. Lelah, menyakitkan, penuh derita, air mata, tapi juga serentak penuh harapan, iman dan cinta.

Di lika-liku jalan derita itu kita pasti kehilangan banyak hal, membuang banyak impian, melepas-pergikan pencapaian/prestasi bahkan merelakan kepunyaan kita sebagai sesuatu yang pada akhirnya seakan tak bernilai apa-apa. Namun, pengalaman derita salib dalam hidup merupakan "interupsi" yang juga membuka mata hati kita, bahwa hidup baru menjadi berarti kalau dalam ziarah fana ini, kita berjalan menopang dan bergabdengan tangan dengan yang lain.

Henry Nouwen, imam asal Belanda dan penulis yang menghabiskan sisa hidupnya bersama kaum cacat mental di Komunitas L'Arche pernah menulis sebuah doa yang indah dan penuh makna saat berada di pertapaan Trapist di Genesse, New York. Saya mengutip doa itu sebagai penghujung dari tulisan kecil ini. "Tuhan, itulah duniaMu, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih dan datang untuk berbagi rasa dalam kesakitan kami. Berilah umatMu harapan, keberanian, kekuatan dan iman".

*Jimmy Carvallo, Penulis Lepas dan awam Katolik. Tinggal di Ruteng, Flores.

Baca Juga