Rokhmin Dahuri: Kemajuan Teknologi Timbulkan Kesenjangan Sosial yang Makin Tajam

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

Rokhmin juga memaparkan perbandingan PDB antara negara maju (kaya) dan negara berkembang (miskin). Sebagai contoh, pada tahun 1800 selisih total GDP antara negara kaya di Eropa dan negara miskin di dunia adalah 90$%. “Pada tahun 2000, perbedaannya semakin meningkat secara dramatis menjadi 750%,” sebutnya.

Yang pasti, ketimpangan ekonomi dunia juga terus meningkat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Oxfam berjudul Time To Care Unpaid and Underpaid Care Work an Inequality Crisis, pada 2019, jumlah penduduk di seluruh dunia sekitar 7,9 miliar orang. Dari 7,9 miliar penduduk, kekayaan yang dimiliki 2.153 orang setara dengan kekayaan gabungan 4,6 miliar penduduk miskin di dunia.

Ironisnya, ketika konsentrasi kekayaan (ketidaksetaraan sosial-ekonomi) meningkat di dalam negara, itu juga melebar antarnegara. Aartinya, meski jutaan orang miskin bekerja untuk mengangkat diri mereka dari kemiskinan, tapi sebagian besar kekayaan dunia terus terkonsentrasi pada kelompot kayak. “Konsentrasi kekayaan yang terus meningkat ini berbahaya karena mengancam kemajuan manusia, kohesi sosial, hak asasi manusia, dan demokrasi,” jelas Rokhmin.

Menurut dia, kekayaan terkonsentrasi pada sejumlah orang superkaya dimanfaatkan untuk mengendalikan kekuatan militer dan politik untuk mengeruk kepentingan pribadi. Pada akhirnya, ketika kesenjangan kekayaan dan kesenjangan kekuatan meningkat, maka akan memicu ketidakpercayaan, kebencian, dan kemarahan publik yang semakin dalam, mendorong dunia ke arah pergolakan sosial dan meningkatkan kemungkinan konflik bersenjata (perang) antarnegara.

Agar dunia terhindar dari pergolakan sosial hingga perang antarnegara, maka paradigma ekonomi sirkular dan spiritual bisa menjadi jawabannya dalam pembangunan yang berkelanjutan. Adapun tantangannya adalah, bagaimana tetap memanfaatkan ekosistem alam dan sumber daya yang terkandung di dalamnya, serta mengembangkan ekonomi untuk membuat semua warga dunia sejahtera, sehat, dan bahagia.

Kemudian, pada saat yang sama menjaga daya dukung, kualitas, dan kelestarian ekosistem alam dan planet Bumi kita. Nah, untuk menjawab tantangan kemanusiaan tersebut, maka kita harus mengubah paradigma ekonomi (pembangunan) yang ada, dari kapitalisme menjadi paradigma ekonomi sirkular dan spiritual. “Pada tataran praktis kita harus menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan,” jelas Rokhmin.

Untuk diketahui, ekonomi sirkuler dan spiritual adalah paradigma ekonomi (pembangunan) di mana bahan digunakan kembali, diproduksi ulang atau didaur ulang yang dapat secara signifikan mengurangi limbah, karbon, dan emisi gas rumah kaca lainnya. Konsep ekokomi baru ini pendekatannya memperpanjang masa pakai produk, menggunakan kembali dan mendaur ulang untuk mengubah limbah menjadi produk dan kekayaan yang bermanfaat.

Menurut Rokhmin, ini adalah sistem ekonomi yang tidak menghasilkan limbah dan tanpa emisi; namun menghasilkan lebih banyak barang dan jasa, menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, menyumbangkan modal sosial, dan tidak memerlukan biaya yang lebih tinggi.

Akhirnya, ekonomi sirkular dan spiritual percaya pada Tuhan Yang Esa, yang menciptakan manusia, Bumi, dan semua sistem planet. Bahwa kekayaan, kekuasaan, dan teknologi bukanlah hak milik manusia, tetapi semuanya adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, yang dipercayakan kepada laki-laki atau perempuan. Bahwa kehidupan manusia tidak hanya di sini, di dunia, tetapi juga di akhirat.

“Dengan keyakinan spiritual seperti itu, laki-laki atau perempuan yang beramal baik [seperti menolong sesama yang miskin, peduli dan berbagi dengan sesama, tidak merusak lingkungan] bukan semata-mata karena hukum dan peraturan duniawi tetapi juga karena atas nama Tuhan,” pungkas Rokhmin.

Selanjutnya 1 2
Penulis: Redaksi

Baca Juga