oleh

Rupiah Lanjutkan Penguatannya, Bersiap Koreksi Diakhir Pekan

Jakarta, Akuratnews.com – Rupiah menguat kembali dalam perdagangan Kamis (08/11) terhadap Dolar AS. Ini merupakan yang ketiga kalinya mata uang Garuda berakhir di zona hijau terhadap Greenbacks. Hingga penutupan perdagangan dipasar spot sore ini, US$ 1 dibanderol Rp 14.535. Rupiah menguat 0,27% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.

Awalnya, Rupiah dibuka melemah 0,14% dan terus melemah hingga menyentuh minus 0,58%. Bahkan rupiah sempat merasakan status sebagai mata uang terlemah di Asia. Namun jelang tengah hari, rupiah mampu berbalik arah dan menguat. Penguatan itu semakin tajam dan sempat mencapai 0,86%. Dolar AS sempat didorong ke bawah Rp 14.500.

Kenaikan Rupiah dan mata uang Asia didukung faktor utama dari data ekonomi China. Ekspor Negeri Tirai Bambu tumbuh 15,6% year-on-year (YoY) pada Oktober, lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 14,5%. Pencapaian Oktober juga jauh lebih baik ketimbang konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan ekspor di angka 11%. Sementara impor tumbuh 21,4%, melonjak dibandingkan September yang naik 14,3%. Juga lebih baik ketimbang konsensus pasar yang meramal pertumbuhan sebesar 14%.

Pasar menilai China tidak terluka akibat perang dagang dengan AS. Meski data-data ekonomi domestik melambat, seperti Purchasing Managers Index (PMI), tetapi kinerja eksternal China masih meyakinkan. China adalah perekonomian terbesar di Asia, sehingga hidup-mati China akan sangat mempengaruhi negara-negara Asia lainnya. Ketika kinerja ekonomi China impresif, maka ada harapan bisa mengangkat para tetangganya termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, China adalah pasar ekspor nomor 1. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 18,52 miliar atau 15,14% dari total ekspor. Jika ekonomi China masih bergeliat, maka ekspor Indonesia pun ikut terangkat.

Meski demikian, kenaikan ini juga menjadi strategi menghadapi akhir pekan dimana Dolar AS diperkirakan akan menguat. Sebab besok ada rilis data yang kemungkinan bisa melemahkan rupiah yaitu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2018. Kemungkinan NPI dan transaksi berjalan kuartal III-2018 masih akan membukukan defisit, bahkan bisa jadi lebih dalam ketimbang kuartal II-2018.

Jadi pasokan valas di perekonomian dalam negeri sebenarnya masih seret. Utamanya pasokan dari ekspor-impor barang dan jasa yang dicerminkan dari transaksi berjalan, nilainya terus-menerus minus. Ini tentu akan menjadi sentimen negatif buat rupiah.  Oleh karena itu, rupiah yang diangkat hari ini akan lebih menggiurkan bila dilepas besok. Sebab besok akan ada alasan yang kuat untuk ‘membanting’ rupiah. (LH)

Komentar

News Feed