oleh

Rupiah Melemah, Dekati 14.600

Jakarta, Akuratnews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)ditutup melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Namun dolar AS sudah mampu didorong ke bawah Rp 14.600.

Pada Selasa (11/12), US$ 1 dibanderol Rp 14.595. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Rupiah nampaknya belum mampu memanfaatkan tekanan yang dialami dolar AS. Bukannya menguat, rupiah malah tertekan sejak pembukaan pasar dan menjadi mata uang terlemah di Asia.

Dengan depresiasi 0,69%, rupiah jadi mata uang terlemah di Asia. Dalam hal head-to-head melawan greenback, tidak ada yang selemah rupiah. 

Rupiah terbebani sentimen domestik. Bank Indonesia (BI) merilis penjualan ritel pada Oktober hanya tumbuh 2,9% year-on-year (YoY). Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 4,8% YoY. Penjualan ritel sudah melambat selama 2 bulan beruntun.

Ini berarti masih ada masalah dalam konsumsi dan daya beli rumah tangga. Padahal konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh dalam pembetukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Ketika konsumsi melambat, maka pertumbuhan ekonomi niscaya akan ikut terseret.

Kemudian, risiko ambil untung juga masih menghantui rupiah. Meski hari ini melemah, tetapi dalam sebulan terakhir rupiah masih menguat 1,42% di hadapan dolar AS.

Bagi sebagian investor terutama asing, angka ini sudah cukup menarik untuk mencairkan cuan. Akibatnya rupiah menjadi rawan terkena aksi jual sehingga risiko depresiasi masih tetap membayangi.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah membeberkan strategi BI untuk mengusahakan nilai rupiah tetap stabil, di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

Nanang menjelaskan, setidaknya terdapat tiga langkah yang ditempuh BI untuk menjaga kestabilan nilai rupiah.

“Bank Indonesia melakukan langkah stabilisasi [nilai tukar] rupiah dengan mengerahkan instrument yang tersedia. Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar DNDF [Domestic Non Deliverable Forward], di pasar spot secara terukur, dan intervensi dalam bentuk pembelian SBN [Surat Belanja Negara] di pasar sekunder,” jelas Nanang .

Menurut Nanang, dengan mengintervensi DNDF dan SBN, diharapkan mampu membatasi pembelian, sehingga nilai tukar rupiah dapat terjaga.

“Pada sesi sore Bank Indonesia membuka lelang DNDF dari pukul 15.30 WIB sampai 16.00 WIB. Langkah yang ditempuh Bank Indonesia diperlukan untuk memastikan nilai tukar rupiah tidak melemah terlalu tajam dan keyakinan masyarakat terjaga,” tutur Nanang.

Nanang juga mengungkapkan, kalau siang tadi nilai tukar rupiah sempat melemah sekitar -0,68% menjadi Rp 14.660/US$. Namun, kembali menguat saat lelang DNDF ditutup, menjadi Rp 14.590/US$.

Komentar

News Feed