oleh

Rupiah Menguat, Jaga Asa Dibawah 14.600

Jakarta, Akuratnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat dalam perdagangan dipasar uang hari ini. Dolar AS sukses dijaga di bawah Rp 14.600.

Pada Kamis (22/11), US$ 1 dibeli pada Rp 14.575. Rupiah menguat 0,17% dibandingkan posisi penutupan pasar hari sebelumnya. Penguatan mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh melemahnya Dolar AS disatu sisi dan pernyataan pemerintah Indonesia.

Diawal perdagangan, Rupiah telah menguat bahkan menjadi yang terkuat kedua di Asia pada tengah hari. Selepas tengah hari, kekuatan rupiah bertambah dan naik peringkat menjadi yang terbaik di Asia menggeser rupee India. Menjelang penutupan perdagangan, aksi ambil untung yang dilakukan investor membuat keuntungan tergerus. Indek Dolar AS melemah 0,06%.

Indikator ekonomi AS yang mengecewakan menjadi kunci pelemahan Dolar AS. Data-data ekonomi AS teranyar tidak mendukung persepsi pemulihan ekonomi Negeri Adidaya. Klaim tunjangan pengangguran naik 3.000 menjadi 224.000 pada pekan lalu. Capaian itu lebih tinggi dari estimasi pasar yang meramalkan penurunan ke angka 215.000.

Data pemesanan barang tahan lama inti periode Oktober 2018 tidak mengalami perubahan. Lebih rendah dari konsensus Reuters yang mengekspektasikan pertumbuhan sebesar 0,2% secara bulanan.Sementara itu, data September direvisi ke bawah menjadi minus 0,5%, dari sebelumnya minus 0,1%.

Data-data ini membuka kemungkinan bahwa The Federal Reserve bisa saja tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Sebab ekonomi AS ternyata belum berlari secepat perkiraan, masih ada hambatan di sana-sini.

Meskipun sejauh in tingkat keyakinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada 19 Desember adalah 72,3%. Angka ini lebih rendah daripada posisi bulan lalu sebesar 78,4%.

Selama ini keperkasaan dolar AS memang sangat bergantung dari kenaikan suku bunga acuan. Saat suku bunga acuan naik, imbalan investasi di AS juga akan ikut terdongkrak. Berinvestasi di AS menjadi lebih menarik dan ini tentu membutuhkan greenback. Permintaan dolar AS akan naik dan nilainya menguat.

Namun tanpa kenaikan suku bunga acuan, kekuatan itu akan sirna. Berinvestasi di AS menjadi biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kebutuhan dolar AS menjadi tidak terlalu besar.

Sementara di Eropa, dikabarkan bahwa Pemerintahan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte membuka ruang untuk merevisi rancangan anggaran 2019. Sebelumnya, Uni Eropa menolak rancangan anggaran ini karena dinilai terlalu agresif.

Defisit anggaran ditargetkan 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB), naik dibandingkan rancangan sebelumnya yaitu 1,8%.  Dokumen ini dikembalikan ke Roma dengan harapan ada revisi. Kemarin, Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini menyatakan pemerintah bersedia menurunkan belanja negara.

Situasi dimanfaatkan oleh rupiah untuk menguat. Risk appetite investor mendorong arus modal masuk ke pasar saham.  Investor asing hari ini membukukan pembelian sebesar Rp 85,7 miliar. Mengantar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,66%. Masuknya arus modal ini menopang penguatan Rupiah hari ini. (LH)

Loading...

Komentar

News Feed