oleh

Rupiah Menguat Karena Kejutan Surplus Dagang, Dolar Melemah

Akuratnews – Rupiah menguat terhadap Dolar pasca laporan bahwa Indonesia mencatat surplus perdagangan di bulan September.

Menurut data resmi, Indonesia mencatat surplus sebesar $230 juta bulan lalu dibandingkan defisit $1.02 miliar di bulan Agustus dan defisit $2.03 miliar di bulan Juli. Perkembangan positif ini akan memperkuat Rupiah di jangka pendek karena menurunnya kekhawatiran mengenai defisit perdagangan.

Walau demikian, prospek Rupiah di jangka pendek dan panjang tetap dipengaruhi oleh berbagai risiko eksternal. Ketegangan dagang global, kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan global, serta prospek kenaikan suku bunga AS mengganggu selera risiko sehingga mata uang pasar berkembang seperti Rupiah tetap terancam melemah.

Kalender ekonomi Indonesia relatif santai, sehingga arah Rupiah mungkin dipengaruhi oleh data dari Amerika Serikat. Dari aspek teknikal, Rupiah dapat semakin menguat terhadap Dolar apabila Dolar dapat turun di bawah 15180.

Sebaliknya, Dolar memasuki pekan perdagangan baru dengan goyah setelah data inflasi AS yang lemah pekan lalu agak membebani ekspektasi kenaikan suku bunga setelah Desember. Kritik Trump berulang kali mengenai Federal Reserve juga berperan pada aksi jual. Indeks Dolar kesulitan di atas 95.00 pada saat laporan ini dituliskan.

Walaupun Dolar tetap menjadi mata uang safe haven di tengah ketidakpastian, Dolar dapat semakin melemah di jangka pendek. Potensi penurunan berdasarkan breakdown teknikal di bawah level support 95.00 di kerangka waktu harian. Penutupan mingguan yang tegas di bawah level ini berpotensi untuk memberi alasan bagi bears untuk menyerang 94.60 dan kemudian 94.35.

Situasi geopolitik yang semakin tegang di Timur Tengah, ditambah sanksi yang segera diberlakukan AS terhadap Iran, adalah dua faktor yang mungkin mengangkat harga minyak menjelang akhir tahun ini.

Sejumlah faktor geopolitik sangat mungkin menciptakan ketidakpastian mengenai prospek pasokan minyak global dan memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya kesulitan pasokan. Apabila situasi hilangnya wartawan Saudi semakin memburuk dan Trump akhirnya memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Arab Saudi, harga minyak dapat melonjak drastis.

Peningkatan agresif ini berdasarkan potensi bahwa Arab Saudi akan membalas dengan mengurangi pasokan minyak, pada saat AS akan memberlakukan sanksi terhadap ekspor Iran. Keadaan pasar dan perkembangan geopolitik saat ini cenderung mendukung kenaikan harga minyak, namun ketegangan dagang global dapat menjadi hambatan.

Situasi dagang yang semakin tegang dapat menjadi ancaman besar terhadap pertumbuhan dan stabilitas global. Apabila perang dagang benar-benar terjadi, pertumbuhan global dapat merosot dan permintaan minyak mentah pun menurun.

Loading...

Komentar

News Feed