Rupiah Menguat Terbantu Melemahnya Dolar Dalam Minggu Yang Sibuk Di Bursa

Rupiah
Rupiah

Jakarta, Akuratnews.com - Mata uang Rupiah menyambut pekan trading baru dengan positif karena kembalinya sikap investor pada aset yang lebih beresiko disaat Dolar AS melemah.

Keputusan Donald Trump untuk mengakhiri penutupan parsial pemerintah AS mendukung selera risiko global dan memicu minat terhadap mat uang pasar berkembang. Rupiah tampak menguat di tengah perkembangan positif ini, namun peningkatan pada jangka yang lebih panjang akan dibatasi oleh masalah pertumbuhan global dan ketegangan dagang.

Sentimen pasar masih rapuh dan risiko geopolitik tetap bergejolak, sehingga mata uang pasar berkembang masih rentan mengalami penurunan. Performa Rupiah dalam beberapa pekan terakhir secara umum positif.

Mata uang Indonesia ini menguat 2.26% sejak awal tahun terhadap Dolar. Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana USDIDR bereaksi di sekitar 14.000. Penurunan tegas di bawah level ini dapat memicu penurunan lebih lanjut menuju 13850.

Pekan ini akan sangat menarik karena diisi oleh berbagai jadwal antara lain rapat pertama Federal Reserve tahun ini, negosiasi AS-Tiongkok, voting penting Brexit, pengumuman penghasilan sektor teknologi AS, dan rilis berbagai data ekonomi penting.

Sementara itu, AS dan China berencana akan kembali bernegosiasi dalam pekan ini guna mengakhiri perang dagang. Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He akan bertemu Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer pada 30 dan 31 Januari.

Walaupun kesepakatan final tentunya tidak akan dirancang pekan ini juga, semua investor berharap rapat ini akan berakhir menggembirakan bagi kedua belah pihak dan diikuti dengan pernyataan yang menandakan kemajuan besar telah tercapai.

Apabila tidak ada pernyataan setelah rapat, perhatikan akun Twitter Trump yang mungkin akan mengungkap hasilnya. Hasil positif akan memangkas salah satu rintangan terbesar yang menghambat selera risiko.

Dalam perdagangan mata uang besar, Poundsterling mengalami reli signifikan dalam beberapa hari terakhir karena optimisme bahwa kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan akan dapat dihindari.

"Rencana B" yang kemungkinan akan sangat mirip "Rencana A" akan dibahas di Parlemen pada 29 Januari dan voting mungkin akan diadakan di hari yang sama. Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn menolak berpartisipasi dalam diskusi yang tidak mengesampingkan skenario “tanpa kesepakatan”. Walaupun PM Theresa May sepertinya tidak akan menyertakan amandemen seperti itu, hasil yang paling realistis adalah perpanjangan Pasal 50.

Sementara dalam perdagangan komoditi, harga emas terlihat lesu di awal pekan perdagangan karena kembalinya selera risiko. Walau begitu, logam mulia ini tetap bullish.

Penutupan mingguan di atas level psikologis $1300 menandakan peningkatan yang terus berlanjut. Karena kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global, ketegangan dagang AS-Tiongkok, ketidakpastian Brexit, serta masalah pertumbuhan Tiongkok membebani sentimen, emas tetap sangat terdukung. Bulls tetap memegang kendali penuh di atas lembah yang lebih tinggi $1277. (HQM)

Penulis:

Baca Juga