oleh

Rupiah Stabil, Bursa Saham Melemah

Akuratnews.com – Ditengah Ketidakstabilan pasar saham global yang berlanjut hingga sore ini, Selasa (30/10) dan sejumlah ketidakpastian eksternal yang berbeda telah menghasilkan sejumlah tekanan pada sebagian besar mata uang negara-negara berkembang. Meski demikian, Rupiah Indonesia bisa dikatakan cukup stabil, meski melemah.

Hingga sore ini, setidaknya hampir semua mata uang negara berkembang turun terhadap Dolar AS, hanya empat mata uang negara berkembang yang menguat terhadap USD pada bulan Oktober. Ini adalah Peso Argentina, Lira Turki, Real Brasil dan Peso Filipina. Sebagai perbandingan, Rupiah Indonesia hanya melemah sekitar 2%.

Perlu dicermati bahwa alasan-alasan pelemahan yang berkelanjutan ini lebih banyak didorong oleh faktor eksternal. Sentimen ini sangat umum di pasar-pasar berkembang secara global. Dimana Investor prihatin tentang sejumlah ketidakpastian pasar global yang berbeda, termasuk tekanan pasar saham, risiko politik dan ketegangan geopolitik yang semuanya bergabung untuk mengurangi ambisi investor secara keseluruhan untuk mengambil risiko dalam portofolio mereka. Ini berarti mereka tidak tertarik pada aset pasar berkembang, yang juga mengapa Rupiah telah berkinerja negatif pada bulan Oktober.

Jika melihat gambaran yang lebih besar dan membandingkan kinerja Rupiah terhadap mata uang negara berkembang lainnya, akan terlihat bahwasanya Rupiah telah berkinerja cukup baik di bulan ini. Rupiah berada di peringkat ke-14 dari 24 mata uang negara berkembang yang berbeda menurut Bloomberg, dengan kelemahan 2,10% dalam Rupiah kecil dibandingkan dengan kerugian 3,2% Rand Afrika Selatan dan di atas 6% baik oleh Peso Meksiko dan Kolombia .

Pada perdagangan di lantai bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Selasa (30/10). Setelah bursa saham AS berbalik arah tajam disesi perdagangan sebelumnya, menyusul laporan bahwa AS akan memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang Cina.

Bursa saham Jepang naik di tengah kenaikan saham-saham di sektor keuangan menyusul hasil laporan laba yang solid hingga membantu mengimbangi kerugian saham-saham disektor energi. Indek Nikkei naik 0,8%.

Sektor perbankan memimpin kenaikan setelah imbal hasil Obligasi naik lebih tinggi semalam, sehingga saham Mitsubishi UFJ Financial Group naik 1,4%. Saham peralatan berat Komatsu naik 4,4% setelah dengan upgrade proyeksi pendapatan setahun penuh. Sementara itu, emiten explorer minyak Inpex harus turun 2,4% setelah harga minyak mentah jatuh semalam.

Bursa saham Hong Kong jatuh setelah jeda singkat kenaikan kemarin. Melanjutkan penurunan dari minggu lalu karena pembicaraan tentang tarif membebani bursa saham China. Indeks Hang Seng turun 0,9%, berisiko membatalkan semua kenaikan pada perdagangan hari Senin jika kerugian berlanjut hingga akhir perdagangan.

AS sedang mempersiapkan untuk memperpanjang tarif pada semua impor barang Cina yang tersisa pada awal Desember jika pembicaraan antara Donald Trump dan Xi Jinping gagal, demikian menurut laporan Bloomberg pada hari Senin (29/10), mengutip sumber tanpa nama. Memimpin penurunan pada indek dengan penurunan 5,3% adalah saham BOC Hong Kong setelah laba kuartal ketiga mengecewakan.

Indek Shanghai China, tergelincir lagi setelah jatuhnya hari sebelumnya, dan Indek Komposit Shenzhen harus kehilangan 1,3%. Saham minuman keras terus menuju ke selatan pada hasil yang lemah, dimana saham Kweichow Moutai meluncur 5,8%, menyeret nama-nama konsumen utama bersama. Tapi Ping An Insurance naik didukung oleh rencana pembelian kembali sahamnya, membalikkan penurunan yang terjadi dipembukaan perdagangan.

Indek Kospi Korea Selatan, naik tipis 0,2%, dipimpin oleh keuntungan saham produsen chip raksasa Samsung dan SK Hynix setelah perusahaan chip Cina Fujian Jinhua Integrated Circuit Co. ditampar dengan pembatasan ekspor oleh Amerika Serikat

Indek Australia dan Selandia Baru, masing-masing berjalan datar, sementara Indeks Strait Times Singapura turun dan Indek Taiex Taiwan, naik sedikit.

Loading...

Komentar

News Feed