oleh

Rupiah Rontok, Dihajar Dolar

Jakarta, Akuratnews – Mata uang Dolar AS menunjukkan kedigdayaannya atas sejumlah mata uang lainnya, termasuk dengan Rupiah sekalipun. Mata uang Garuda ini mengakhir perlawanannya dengan berakhir di zona merah dalam perdagangan hari ini.

Berusaha untuk menguat diawal perdagangan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis di perdagangan pasar spot hari ini. Perkasanya dolar AS akhirnya tak mampu dibendung oleh rupiah. Pada Rabu (24/10/2018), US$ 1 dibanderol pada level Rp 15.195 kala penutupan pasar spot. Rupiah melemah tipis 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

Mata uang Garuda sempat menguat ke level Rp 15.175 per dolar AS hingga pukul 13.30 WIB tadi, mata uang tanah air akhirnya harus pasrah tenggelam ke zona merah di penghujung hari. Kuatnya dolar AS tidak hanya menekan IDR. Mayoritas mata uang di Benua Asia pun tak kuasa menandingi kejayaan greenback hari ini. Meski demikian, pelemahannya cenderung tipis saja.

Beberapa mata uang yang tunduk antara lain adalah Yuan China  yang harus turun 0,02% dan Yen Jepang  harus turun 0,11%. Sebaliknya, hanya ada dua mata uang yang masih bisa perkasa di hadapan greenback, yakni Won Korea Selatan yang mampu naik 0,26%  dan Dolar Taiwan dengan catatan naik 0,03%.

Indikasi jatuhnya Rupiah ini terbaca juga oleh Presiden Joko Widodo. Sejumlah data ekonomi terkini menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia kurang menggembirakan. Presiden secara khusus menyoroti defisit transaksi berjalan (CAD) yang membengkak.

“Kita memiliki masalah yang sudah bertahun-tahun tidak bisa diselesaikan, yaitu neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan (CAD),” ujar Jokowi, Rabu (24/10). “Tahun 2017 CAD kita tercatat US$ 17,3 miliar. Sebuah angka yang besar, neraca dagang kita harus kita perbaiki dengan cara apa, ya ekspor harus lebih besar dari impor,” ungkap Jokowi.

Belakangan ini, Jokowi melihat yang terjadi impor lebih besar dari ekspor. “Ya makanya defisit terus, saya menghargai usaha keras untuk masuk ke pasar ekspor terutama negara non tradisional,” terangnya. Namun di tengah data defisit, Jokowi mengatakan perbaikan sudah terlihat pada laporan neraca dagang September 2018 kemarin. Di mana neraca dagang tercatat surplus.

Berdasarkan data yang Jokowi sampaikan, ekspor pada Januari-September 2018 berada di US$ 122 miliar atau tumbuh 9,2% dibandingkan 2017 yang lalu. Semakin tahun ekspor Indonesia, menurut Jokowi lebih baik. Oleh sebab itu, pemerintah terus mendorong, saya belum tahu insentif apa yang bisa diberikan sehingga pabrik, dunia usaha, industri semua terdorong masuk ke pasar ekspor, katanya.

Membengkaknya CAD, berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah yang sejak awal tahun 2018 ini telah melemah nyaris 12%. Nilai rupiah jatuh dari kisaran Rp13.200 ke level Rp 15.200 per dolar AS.

Loading...

Komentar

News Feed