Sampah di Sidoarjo Capai 1.300 Ton, Begini Solusi Dinas LHK

Moch. Rochjadi (3 dari kanan) dan Harsono (2 dari kanan) saat melakukan sosialisasi Sidoarjo bersih dan hijau (SBH) di depan para kader lingkungan di Kantor Kecamatan Balongbendo. (Foto: dok. Akuratnews.com)

Sidoarjo, Akuratnews.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo saat ini gencar mensosialisasikan pengelolaan sampah dan penataan ruang terbuka hijau (RTH) hingga ke pelosok desa.

Hal itu terlihat ketika sejumlah pejabat Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo berkunjung ke Kantor Kecamatan Balongbendo, Kamis (1/8/2019) kemarin.

Kedatangan Kabid Pertamanan dan PJU, H. Moch. Rochjadi bersama Kasi Kebersihan Pengelolaan Sampah Bidang Kebersihan, Harsono di Kantor Kecamatan Balongbendo itu untuk menemui para kader lingkungan setempat.

Didampingi Camat Balongbendo, H. Puguh Santoso dan jajaran Forkopimka, kedua pejabat DLHK itu memaparkan materi berkaitan sosialisasi Sidoarjo bersih dan hijau (SBH).

Dalam kesempatan ini, Harsono menjelaskan, saat ini timbunan sampah di tengah masyarakat Sidoarjo sudah mencapai 1.300 ton, namun sampah yang terangkut ke TPA Jabon hanya 420 ton atau sekitar 32% dan sisanya 68% masih berada di lingkungan masyarakat.

Sedangkan, kondisi TPA existing di Jabon seluas delapan hektar itu sudah over-kapasitas. Terlebih, menambah dan mencari lahan baru untuk TPA sangat sulit.

"Meski begitu, Pemkab tidak berpangku tangan, tetap berupaya seoptimal mungkin menanggulangi timbunan sampah tersebut, dengan membangun TPA sanitary landfill yang kini dalam proses," terangnya.

Namun, Harsono berharap, masyarakat mendukung sepenuhnya kebijakan Pemkab dan ikut berperan serta dalam menjaga kebersihan lingkungan.

"Ya, mengusulkan pada pihak Pemdes (Pemerintah Desa) agar menyediakan tempat sampah di lingkungan RT/RW serta membangun tempat pembuangan sampah terpadu (TPST)," pintanya.

Sementara itu, Rochjadi menuturkan, RTH perlu diwujudkan di lingkungan pedesaan dengan komposisi 30% terbagi 20% publik dan 10% privat.

"Namun, pembangunan RTH didesain sesuai ketentuan. Lalu, pengerjaannya dilakukan secara sukarela dan gotong-royong dengan menggunakan dana swadaya masyarakat," ujar dia.

Menurutnya, sudah sepatutnya RTH tersebut dibangun dengan memenuhi unsur 5E, yakni ekologis, ekonomi, edukatif, estetis dan evakuasi. "Adanya RTH diharapkan, masyarakat mau merawat dan menghidupkan taman, serta memanfaatkannya sebagai tempat kegiatan rekreasi keluarga," katanya.*

Penulis: Wachid Yulianto

Baca Juga