Sapari Vs Penny K. Lukito Jilid 2

Sapari: Ada Apa Saya Dicopot dari Jabatan saat Tangani PT. Natural Spirit Surabaya?

Sapari saat bertemu dengan Kepala Badan POM (BPOM) Penny K. Lukito tanggal 6 September 2017 untuk melaporkan kasus obat TIE dan kedaluarsa diantaranya Carnophen, Seledryl, dan Tramadol dengan nominal nilai ekonomi yang fantastis, lebih kurang senilai Rp43,6 miliar. Pertemuan terjadi di Ruang VIP Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Saat itu Sapari masih menjabat sebagai Kepala BB-POM di Banjarmasin sejak tanggal 3 Mei 2017 sampai dengan 15 Februari 2018. (foto Dok. Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Perseteruan antara mantan kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BB-POM) Surabaya, Drs. Sapari Apt. M.Kes versus Kepala Badan POM (Ka BPOM) Penny Kusumastuty Lukito cukup menyita perhatian publik. Apa yang menjadi sebab awal perseteruan ini, apakah benar dugaan Sapari yang mengatakan pencopotannya sebagai kepala BB-POM Surabaya adalah bagian dari rencana besar "Menyingkirkan" dirinya ?.

Sapari yang dikenal sebagai sosok berintegritas tinggi, bahkan didaulat sebagai “Kepala Balai Besar POM Terbaik” 2018. Salah satu prestasi yang menobatkannya sebagai kepala BB-POM terbaik adalah saat menjabat sebagai Kepala BB-POM Banjarmasin sejak tanggal 3 Mei 2017 sampai dengan 15 Februari 2018.

Saat itu Sapari dan tim PPNS BB-POM di Banjarmasin telah mengungkap kasus Obat TIE dan kedaluarsa, diantaranya obat Carnophen, Seledryl, dan Tramadol dengan nominal nilai ekonomi yang fantastis, lebih kurang senilai Rp43,6 miliar.

Saat itu, Sapari melaporkan langsung pengungkapan kasus tersebut kepada Kepala BPOM, Penny K. Lukito yang dia sampaikan empat mata di Ruang VIP Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Dan tentu saja, prestasi Sapari merupakan momok menakutkan bagi mafia perdagangan obat-obatan dan kosmetik ilegal. Karena itulah, diduga ada kepentingan kuat yang "bermain" untuk menyingkirkan Sapari. Isu pun berkembang, sebagaimana informasi yang diberikan Sapari, dia menduga, bahwa upaya "Penyingkiran Sapari" karena tekanan keras yang menerpa Badan POM.

Selanjutnya 1 2 3 4 5
Penulis: Hugeng Widodo
Editor: Redaksi

Baca Juga