Seberapa Efektif Kebiri Ilmiah Redam Pelaku Kekerasaan Seksual Pada Anak

Jakarta, Akuratnews.com - Jumat lalu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Mojokerto menyatakan segera melakukan eksekusi hukuman kebiri kimia terhadap terdakwa pemerkosaan anak, M Aris (20), warga Dusun Mengelo, Soko, Kabupaten Mojokerto.

Vonis ini memang telah disahkan oleh DPR dan tercantum dalam UU Perlindungan Anak. Di dalam undang-undang itu, salah satu hukuman bagi pelaku kekerasan seksual adalah kebiri kimia.

Lalu, apa yang dimaksud dengan kebiri kimia?

Seperti diungkapkan Nugroho Setiawan, dokter spesialis andrologi di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan, kebiri kimia adalah penyuntikan zat anti-testosteron ke tubuh pria untuk menurunkan kadar hormon testosteron, yang sebagian besar diproduksi sel lydig di dalam buah zakar.

“Testosteron itu adalah hormon yang berperan dalam beragam fungsi, salah satunya fungsi seksual. Artinya, hormon testosteron berpengaruh pada gairah seksual seorang pria dan membantu penis seorang pria bisa ereksi,” kata Nugroho seperti dilansir dari BBC Indonesia.

Masuknya zat anti-testosteron ke dalam tubuh, menurut Nugroho, praktis membuat gairah seksual menurun.

Lalu, bagaimana cara kerja zat anti-testosteron itu?

"Saat zat anti-testosteron disuntikkan ke dalam tubuh, zat tersebut akan memicu reaksi berantai di otak dan testis. Produksi testosteron 95 persennya berasal dari sel lydig di buah zakar pria. Pemicu agar testosteron diproduksi adalah hormon luteinizing yang dikeluarkan kelenjar hypophysis anterior di otak. Nah, zat anti-testosteron membendung kelenjar di otak agar tidak memproduksi hormon pemicu produksi testosteron. Kalau itu ditekan, otomatis testis tidak memproduksi testosteron. Jadi kait-mengait semuanya,” beber Nugroho.

Apakah kebiri kimia ini akan berpengaruh selamanya? Nugroho menjelaskan, pengaruh zat anti-testosteron hanya sementara. Sebagaimana obat-obat kimia lainnya, zat anti-testosteron tergantung oleh batas waktu.

“Orang mungkin beranggapan kebiri kimia sekali suntik selesai, seperti orang yang dikebiri secara fisik. Mereka harus mendapatkan terus-menerus,” kata Nugroho.

Selain disuntikan, ternyata ada cara lain untuk melakukan kebiri kimia.

"Selain menyuntikkan zat antitestosteron ada cara lain melakukan kebiri kimia, yaitu memberikan obat Depo Provera yang biasa digunakan sebagai kontrasepsi perempuan," jelas Nugroho.

Ia melanjutkan, dengan memberikan lebih banyak hormon perempuan ke tubuh pria, produksi hormone testosteron akan menurun dan kehilangan fungsinya.

“Depo Provera diberikan kepada orang yang, misalnya, punya tumor di bagian kelenjar suprarenal sehingga produksi hormon testosteronnya berlebihan. Tapi itu kan yang produksinya berlebihan. Kalau orang dengan kadar hormon testosteronnya normal, malah kita bikin sakit, itu yang jadi pertentangan,” kata Nugroho.

Dampaknya dari kebiri ilmiah ini sendiri saat zat antitestosteron yang diberikan secara rutin kepada pria yang kadar testosteronnya normal diasumsikan bakal menyebabkan penurunan gairah seksual pria tersebut.

Akan tetapi, dampaknya lebih dari itu. Pasalnya, hormon testosteron berperan dalam berbagai fungsi tubuh, tak hanya fungsi seksual.

”Penurunan hormon testosteron akan berpengaruh ke otak sehingga suasana hati tidak nyaman, menjadi pemarah. Lalu imbasnya ke kulit sehingga kulit menjadi kering. Otot kemudian mengecil, tulang menjadi keropos. Orang itu juga akan sangat lemah, loyo,” kata Nugroho.

Dokter Nugroho juga mengingatkan bahwa timbulnya gairah seksual tidak semata-mata disebabkan hormon testosteron.

”Ada pengalaman seksual yang pria alami, itu akan membangkitkan gairah. Lalu faktor kesehatan tubuh pria juga berpengaruh,” kata Nugroho.

Hal ini diamini Wimpie Pangkahila, Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia.

Menurutnya, meskipun gairah seksual bisa ditekan, memori pengalaman seksual tidak bisa dihapus.

”Tidak pernah ada laporan yang menunjukkan bahwa kebiri kimia memang lebih memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan seksual dibandingkan hukuman lain yang cukup berat. Karena pengalaman seksual sebelumnya kan sudah terekam di otak. Keinginan dia kan masih ada, terlepas dari apakah dia mampu atau tidak,” kata Wimpie.

Karena itu, menurutnya, langkah kebiri kimia terhadap pelaku kekerasan seksual masih dipertanyakan.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga