Secara Teknis, Harga Minyak Memasuki Tren Penurunannya

Harga minyak mentah turun, investor masih khawatirkan pasokan. (Ilustrasi)
Harga minyak mentah turun, investor masih khawatirkan pasokan. (Ilustrasi)

Jakarta, Akuratnews.com - Secara teknis, harga minyak benar-benar telah masuk ke area tren penurunan harganya. Bukan hanya dalam jangka pendek, namun sudah mengisyaratkan penurunan dalam jangka panjang.

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman bulan Januari, telah turun 7,5%, ke harga $ 52,91 per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Tren penurunan harga yang terbentuk membuat harga yang menjadi patokan di AS ini masuk jurang simpang kematiannya.

Sebuah formasi grafik klasik, yang dipercaya oleh banyak teknisi pasar sebagai tanda titik bahwa penurunan jangka pendek berubah menjadi penurunan dalam jangka panjang.

Sementara berdasarkan grafik yang berkesinambungan, harga minyak paling aktif, dengan ukuran rata-rata pergerakan selama 50 hari terakhir, berada di harga $ 67,58 per barel atau turun 0,5% secara malu-malu untuk kemudian jatuh di bawah rata-rata pergerakan harga selama 200 hari, diangka $ 67,25. Pada tingkat ini, simpang kematian bisa terjadi dalam satu atau dua minggu.

Pada perdagangan minyak mentah jenis Brent, sebagai patokan harga minyak global juga telah berada berada dalam tren pasar menurun. Biasanya ditandai dengan penurunan setidaknya 20% dari harga puncak baru-baru ini. Bahkan, harga minyak ini telah turun 31% dari level tertinggi pada 3 Oktober di $ 76,41 per barel.

Penurunan cepat harga minyak mentah telah membebani saham-saham di sektor energi. Meskipun bagi rata-rata konsumen, dengan turunnya harga minyak mentah memberikan keuntungan tersendiri. Tetap saja, menimbulkan kehawatiran adanya perlambatan ekonomi global.

Alhasil kekhawatiran ini menguncang investor pasar saham dan mendorong Indek Dow Jones turun sebesar 2,21%, indek S & P 500 turun 1,82% dan Indek Nasdaq turun setidaknya 8% sejak awal Oktober.

Penurunan nilai ekuitas saat ini mencerminkan keengganan terhadap risiko dan telah menyebabkan sejumlah silang kematian yang tidak menyenangkan, termasuk di saham-saham berkapitalisasi kecil, yang diwakili oleh indek Russell 2000 dan sejumlah saham raksasa yang disebut saham FAANG.

Terdiri lima sekawan saham perusahaan teknologi terkemuka dan perusahaan yang berhubungan dengan internet, Facebook Inc., Netflix Inc., Apple Inc., Amazon.com Inc. dan Google-dengan induknya Alphabet Inc. Jatuhnya saham-saham unggulan ini mendorong bursa saham turun dari posisi tertinggi.

Sementara itu, harga komoditi minyak, sebagaimana diperkirakan para ahli industri bahwa harga mungkin telah menyentuh bagian bawah.

Sayangnya angka inventaris minyak mentah AS terus tumbuh dan keputusan pemerintah Trump untuk memberikan keringanan kepada pembeli utama minyak mentah Iran menjelang perpanjangan sanksi di Tehran, telah berkontribusi pada jatuhnya harga minyak kembali.

Data terkini sebagaimana disampaikan oleh American Petroleum Institute (API) melaporkan pada Selasa (20/11) bahwa pasokan minyak mentah AS turun sekitar 1,5 juta barel untuk pekan yang berakhir 16 November. Sementara Data persediaan dari Badan Informasi Energi baru akan dirilis Rabu ini. (LH)

Penulis:

Baca Juga