Sederet Fakta Persidangan Lahan UIII Depok Milik Hak Adat

Sekretaris Kramat Yoyo Effendi bersama para ahli waris lahan di UIII Depok di PN Depok, Kamis,(26/8)
Sekretaris Kramat Yoyo Effendi bersama para ahli waris lahan di UIII Depok di PN Depok, Kamis,(26/8)

AKURATNEWS- Sejumlah fakta muncul dalam sidang perkara sengketa lahan Universitas Internasional Islam Indoneaia (UIII) Depok 121 hektar bernomor. 259/Pdt.G/2021/PN.Dpk dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Depok pada Selasa, (2/8).

Dalam perkara sidang yang telah berjalan sebanyak lima kali itu juga terungkap sejumlah fakta menguatkan kepemilikan lahan ratusan hektar area UIII Deepok dimiliki Ibrahim bin Jungkir dan para ahli waris lain Kampung Bojong-bojong Malaka Sukmajaya-Depok.

Dalm kesaksian dipersidangan, Siti Asnah (64) istri almarhum Abdul Rosid juru tulis desa kala itu menyebut, sebelum almarhum Abdul Rosid meninggal, dirinya menyimpan berkas tanah warga Bojong-bojonh Malaka.

"Saya yang merapihkan berkas-berkas milik almarhum suami saya dan memang ada buku tua yaitu, Letter C. Di dalamnya tencatat nama Ibrahim Jungkir dan kawan kawan", ucap Siti, Selasa, (2/8).

Menurutnya, Almarhum suaminya menjeleskan bahwa itu adalah letter C warga Bojong. "Intinya dalam sidang saya hanya menceritakan apa yang diungkapkan oleh alm suami saya saat itu,” ujar Siti usai bersaksi dipersidangan kemarin.

Sementara, Sekretaris Koalisi Rakyat Anti Mafia Tanah (Kramat) Yoyo Effendi mengatakan, pihaknya sebagai komunitas yang mensupport para ahli waris di lahan tersebut.

Bersama para ahli waris, Yoyo merasa optimis putusan hakim akan mengabulkan gugatan dari ahli waris di atas lahan seluas 121 hektar terletak di Kampung Bojong-Bojong Malaka wilayah Kelurahan Cisalak, Sukmajaya Kota Depok itu

"Berdasarkan alat bukti yang kita ajukan mulai dari alat bukti surat, bukti fisik dan bukti saksi, seluruhnya membuktikan kebenaran dan kami optimis gugatan bisa dikabulkan hakim PN Depok", jelas Yoyo kepada Akuratnews, Rabu,(3/8).

Dia juga membeberkan sejumlah alat bukti yang menjadi fakta-fakta menguatkan dalam persidangan di PN Depok. "kita ajukan mulai dari alat bukti surat, bukti fisik dan bukti saksi," kata Yoyo.

Seluruhnya, lanjut dia, membuktikan bahwa sejarah kampung Bojong-bojong malaka adalah fakta yang tidak dapat dibantah, status tanah objek perkara adalah tanah hak milik adat.

Lebih dari itu, dalam pembuktian Ibrahim bin Jungkir dan kawan-kawan adalah pemilik tanah adat kampung Bojong-bojong Malaka. Ibrahim bin Jungkir dan ahli waris lainya keluar meninggalkan lokasi tanah tersebut karena diusir oleh pihak RRI.

Pembuktian lainnya juga disebut jika Ibrahim bin Jungkir dan kawan-kawan tidak pernah menjual belikan tanah tersebut dari dahulu sampai dengan sekarang.

Sementara, masih kata Yoyo, dari pihak tergugat terbukti tidak memiliki surat tanah yang diklaim oleh RRI sebagai dasar kepemilikannya serta dasar penerbitan sertifikat hak pakainya yakni, akta Eigendom Verponding No. 23 (sisa) atas nama Mij Expl Van Het Land.

"Surat tanah produk jaman Belanda yang diakuinya tidak dimiliki pihak RRI. Karenanya objek tanah untuk dan atas nama akta Eigendom Verponding No. 23 (sisa) atas nama Min EXPL. Van Het Land tidak pernah ada di lokasi tanah yang menjadi objek perkara", Pukas Yoyo mengakhiri.

Seperti diketahui, agenda sidang lanjutan dengan agenda kesaksian tergugat akan berlangsung 18 Agustus 2022 mendatang setelah tergugat meminta waktu dua minggu kedepan usai sidang Selasa, (2/8) kemarin.

Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga