Sehat Badannya, Gembira Jiwanya

Murid Sekolah Citra Kasih, Jakarta sehat dan gembira beraktivitas di Eco Learning Zone
Murid Sekolah Citra Kasih, Jakarta sehat dan gembira beraktivitas di Eco Learning Zone

AKURATNEWS - Kesehatan badan (jasmani) dan kegembiraan jiwa (rohani) merupakan dwitunggal anasir kehidupan yang perlu mendapatkan ekstra perhatian dalam rangka memperingati dan memaknai Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) - 7 April 2022, bertemakan 'Our Planet, Our Health".

Terkait konsep kesehatan, World Health Organization (WHO) merumuskan bahwa kondisi sehat itu senyatanya melampaui sekedar kondisi steril; bebas dari sakit penyakit atau kecacatan. Lebih dari itu, batasan sehat itu mencakup keadaan yang sempurna (utuh), meliputi kondisi fisik, mental, dan sosial dari seseorang.

Yang jelas, rumusan konsep sehat versi WHO jauh melampaui batasan konsep sehat versi 4 sehat, 5 sempurna yang kita miliki; yang cenderung hanya menyasar pada upaya pemenuhan aspek kebutuhan jasmani semata-mata, khususnya tekait ketercukupan jumlah dan kadar gizi bahan pangan yang terkonsumsi.

Merujuk rumusan tema yang diusung di Hari Kesehatan Dunia 2022 ini, tampak bahwa ruang lingkup atau batasan atas hidup sehat itu ternyata seluas planet bumi ini. Bukannya tereduksi hanya berkisar soal obat-obatan, nutrisi, vitamin, dan susu. Senyatanya terdapat keterkaitan yang erat antara kesehatan lingkungan (bumi) dengan kesehatan manusia.

Ironisnya, saat ini, tak satu pun area ekosistem di bumi ini – darat, air, dan udara yang steril dari pencemaran (polusi) dan ancaman kerusakan lingkungan. Dalam buku berjudul “Bumi yang terdesak”, Chapman dkk (2007) menyatakan populasi manusia tidak hanya tumbuh secara eksponensial, tetapi gaya hidup dan pola konsumsi manusia telah mendorong munculnya teknologi yang semakin merusak lingkungan, serta kemungkinan perubahan iklim akibat ulah manusia.

Pergeseran gaya hidup yang mengarah pada hedonis materialistis, yang tak mengenal rasa cukup dan puas, telah menyudutkan alam sebagai obyek untuk dieksploitasi tanpa dipedulikan kapasitas daya dukung dan daya lentingnya. Manusia menjadi egois, rakus, dan tidak peduli lagi terhadap sesama dan kelestarian alam. Lupa bahwa Sumber Daya Alam (SDA) yang ada, jumlah dan sebarannya teramatlah terbatas.

Melalui peringatan dan pemaknaan atas Hari Kesehatan Dunia ini, kita dingatkan bahwa disamping aspek jasmani; juga terdapat aspek rohani, dan aspek sosial dalam berelasi dengan alam dan sesama yang perlu diperhatikan dan dicukupi. Perhatian yang berlebih terhadap salah satu aspek dengan mengabaikan aspek lainnya, berpotensi menyebabkan terjadinya ketimpangan dan aneka gangguan kesehatan dalam kehidupan.

Keluarga dan pendidikan

Keberadaan badan dan batin seseorang mewujudnyata dan terekspresi melalui kehadiran individu. Sementara sebagai individu, ia hadir dan tinggal dalam keluarga sebagai komunitas sosial terkecil dan terdekat.

Keluarga adalah tempat dimana setiap insan dilahirkan dan tumbuhkembang menjadi pribadi dewasa secara penuh. Aneka ragam pengalaman batin dijumpai, dirasakan dan dialami bersama keluarga; ada tangis – tawa; sedih – gembira; gagal – berhasil; lengkap, semuanya ada di sana.  Oleh karenanya, tidaklah terlalu berlebihan ketika Bunda Teresa dari Kalkuta, India pernah mengingatkan, “Jika engkau ingin mengubah dunia, pulanglah ke rumah dan cintailah keluargamu.”

Sekiranya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat dianalogikan sebagai rumah bersama, maka kesehatan dan imunitas masyarakat penghuni “rumah bangsa” ini akan tercipta sekiranya antaranasir penyusun bangsa ini mampu memaknai dan menghidupi spirit “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”, sebagaimana yang terkandung dalam lirik lagu kebangsaan.

Melalui konsep pendidikan yang diteladankan Ki Hadjar Dewantara, proses pendidikan itu menyehatkan badan dan menggembirakan jiwa. Melalui proses pendidikan yang menyehatkan dan menggembirakan, masyarakat diberdayakan untuk menemukan keterhubungan antara kesehatan diri, dengan kesehatan lingkungan alam, dan kesehatan sesama (keluarga dan masyarakat).

Melalui proses pengintegrasian konsep “ngerti” (kognitif), “ngrasa” (afektif) dan “nglakoni” (psikomotorik) secara utuh, nantinya akan memberdayakan diri untuk mau dan mampu berkomitmen dan konsisten dalam menerapkan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang baik; ramah dan bersahabat dengan alam dan sesama.

Di samping itu, bukankah bagi kita umat beriman, harmonis-tidaknya relasi kita dengan Tuhan nantinya akan mewujud nyata dalam relasi keseharian kita dengan sesama dan dengan alam? Selamat memperingati dan memaknai Hari Kesehatan Dunia.***

Baca Juga