Sekolah Inklusi Untuk Semua Jenjang Pendidikan, Bisakah ?

Akuratnews.com - Banyaknya kasus penindasan atau lebih dikenal dengan bullying ini juga bisa terjadi karna berbagai macam banyak faktor salah satunya kurangnya pendidikan karakter untuk menanamkan sifat toleransi dan anti diskriminasi. Contohnya kasus yang ada di Universitas Gunadarma pada tahun 2017, mahasiswa yang berjumlah 3 orang itu menarik tas korban yang merupakan mahasiswa berkebutuhan khusus.

Korban berusaha untuk melepaskan diri hingga terhuyung, setelah korban berhasil lepas dia melemparkan tong sampah pada pelaku. Mahasiswa yang lain bukannya menolong jutru hanya ikut menonton dan bertepuk tangan. Dengan mengikutkan anak untuk mengambil pendidikan inklusi bahkan sudah sejak dini, bisa meminimalisirkan untuk anak melakukan tindak bullying, karna sudah terbiasa dengan perbedaan. Selainitujugamenanamkantentangbekerjasamadengansiapa pun.

Dengan mengutip dari Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan pada ayat 2 disebutkan bahwa “setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”, hal ini telah jelas bahwa semua anak haruslah mendapatkan kesetaraan untuk belajar. Pendidikan inklusi pun bukan tanpa alasan, hal ini membuat siswa bisa belajar untuk menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif.

Jadi hal ini sangat cocok untuk bisa di pelajari saat dibangku sekolah. Bukan hanya siswa normal yang jadi lebih belajar menghargai orang lain tanpa diskriminasi namun juga hal ini membuat siswa siswa yang berkebutuhan khusus untuk bisa menjalankan dan menyesuaikan diri dengan kehidupan nyata sehari-hari agar mempunyai kemampuan dan potensi untuk bisa hidup berdampingan dengan masyarakat.

Tentu saja karna banyaknya kelebihan tentang adanya sekolah inklusi ,maka seharunya setiap daerah telah harus dibuat sekolah inklusi. Peran pemerintah juga sangat penting untuk mewujudkan suksesnya sekolah inklusi dan mewujudkan pendidikan yang setara.Sekolah inklusi merupakan sekolah yang siswanya terdiri dari siswa normal dan siswa yang mempunyai kebutuhan khusus.

Sekolah inklusi ini membuat siswanya belajar toleransi, belajar ber empati dan membuat siswa bisa saling mengenal dan bersahabat tanpa pandang buluh. Namun masih terkadang banyak sekali masyarakat yang menganggap sekolah inklusi adalah sekolah untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus atau sekolah luar biasa, padahahal sekolah inklusi dan sekolah luar biasa itu berbeda.

Rasa toleransi haruslah ditanamkan sejak dini, jadi akan lebih baik jika saat memasuki pendidikan usia dini sudah diikutkan untuk masuk sekolah inklusi, jadi ketika sudah dewasa atau memasuki pendidikan yang lebih tinggi maka sudah akan terbiasa dengan keadaan mempunyai teman yang berkebutuhan khusus.

Namun tentu saja untuk mengembangkan sekolah inklusi perlulah untuk menyiapkan SDM yang baik, seperti untuk tenaga pendidik dan fasilitas. Tenaga pendidik disini pun haruslah mempunyai sikap dan pengetahuan yang cocok untuk pendidikan inklusi, sifatnya haruslah sabar, mempunyai empati yang tinggi, dan tidak pilih kasih untuk siswa yang normal dan berkebutuhan khusus.

Pengetahuannya pun juga harus bisa luas, seperti mengerti tentang psikologi anak lebih dalam, bagaimana untuk merawat anak yang berkebutuhan khusus, dan mempunyai kemampuan pedagogik ( kemampuan memahamami peserta didik, merancangan dan melaksanaan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, dan mengembangkan peserta didik) dan penegtahuan ini harus bisa dilaksanakan di dalam ranah universitas.

Telah tertuang di Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki Potensi Kecerdasan Dan Atau Bakat Istimewa, pada pasal 10 ayat 2 telah disebutkan bahwa pemerintah kabupaten / kota wajib menyediakan paling sedikit 1 orang guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif, dan pada ayat 2 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang tidak ditunjuk oleh pemerintah kabupaten atau kota menyediakan paling sedikit 1 orang guru pembimbing khusus, dan ditegaskan kembali di ayat 3,4,5 yang menegaskan bahwa pemerintah harus meningkatkan potensi di bidang pendidikan khusus bagi pendidik dan membantu menyediakan tenaga pembimbing khusus

Namun perguruan tinggi yang menjurus pada pendidikan tidak diberikan materi atau hanya materi sekilas atau pengetahuan mengenai pendidikan untuk anak yang berkebutuhan khusus kecuali untuk yang mengambil jurusan untuk anak berkebutuhan khusus, padahal seharusnya sekolah-sekolah inklusi harus semakin diperbanyak karna membawa peran yang cukup penting bagi pembentukan kepribadian bangsa.

Dengan hal ini hendaknya universitas bisa menambah materi atau pengetahuan kemampuan pedagogik yang disangkut kan dengan pendidikan inklusi, yang juga telah dibahas pada Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomer 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki Potensi Kecerdasan Dan Atau Bakat Istimewa pasal 10 ayat 6 tentang peningkatan kompetensi di bidang pendidikan khusus pendidik yang dapat diperoleh salah satunya  melalui perguruan tinggi. Sehingga para mahasiswa yang telah lulus studi di perguruan tinggi dapat bekerja dimana saja termasuk di pendidikan inklusi.

Selain dari pendidiknya, agar pendidikan inklusi dapat berjalan dengan maksimal maka, selain faktor SDM atau pendidiknya. Faktor fasilitas juga berperan sangat penting, karena untuk menunjang keberhasilan pendidikan serta membantu siswa yang mempunyai keterbatasan fisik. Seperti penyediaan ruang kelas yang nyaman, pengadaan kursi roda, fasilitas belajar yang mendukung, toilet/ kamar mandi yang bisa digunakan untuk anak-anak yang mempunyai keterbatasan fisik.

Keberadaan sekolah inklusi pun juga masih terhambat bukan hanya dari pendidik dan fasilitas pendukungnya, namun masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang sekolah inklusi. Masyarakat masih merasa menyekolahkan anaknya yang normal ke sekolah inklusi karna takut anaknya yang normal justru akan tertular menjadi anak oleh anak yang berkebutuhan khusus. Serta pandangan yang menggangap anak-anak yang berkebutuhan khusus itu mempunyai masa depan yang suram, tidak bisa melakukan suatu hal, tidak perlu mendapatkan pendidikan juga menghambat cita cita Indonesia yang tertuang dalam alinea ke 4 pembukaan UUD untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, jadi semua anak di Indonesia haruslah mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Baca Juga