oleh

Sentimen Nasional Menepi, Isu Global Akan Mewarnai Bursa

Jakarta, Akuratnews.com – Pada perdagangan akhir pekan kemarin, tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tipis. Bursa Efek Indonesia bergerak searah dengan sejumlah bursa regional yang melemah. Tercatat dalam sepekan, IHSG terkoreksi 0,1%. Meski menguat dalam 2 hari perdagangan terakhir, namun koreksi 2 hari sebelumnya tidak mampu tertutupi.

IHSG tidak sendirian karena berbagai indek saham utama Asia melemah. Indek Nikkei Jepang terkoreksi 0,1%, Indek Shanghai China turun 3,72%, Indek Hang Seng Hong Kong melemah 0,98%, dan Indek Kospi Korea Selatab ambrol 1,67%. Meski melemah, bursa saham Asia lebih beruntung daripada bursa saham Amerika Serikat di Wall Street. Selama sepekan, Indek Dow Jones jatuh 4,43%, Indek S&P 500 minus 3,79%, dan Indek Nasdaq anjlok 4,26%.

Perekonomian global yang sedang risiko tinggi membuat investor untuk sementara bermain aman. Investor khawatri Perang Dagang yang dilancarkan oleh AS masih akan jauh dari selesai. Instrumen berisiko seperti saham mengalami tekanan jual, dan pelaku pasar ramai-ramai berburu dolar atau obligasi AS.

Indek Dolar AS menguat 0,47%. Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin (bps). Penurunan ini merupakan pertanda harga instrumen ini sedang naik karena tingginya permintaan.

Untuk sepekan ke depan, bursa saham nasional masih cenderung dipengaruhi sentimen dari beberapa agenda ekonomi di tingkat global, menyusul sepinya agenda ekonomi nasional. Pun demikian, isu nasional terkait Daftar Negatif Investasi (DNI) masih akan menjadi pertimbangan pasar. Meski, pelaku pasar semestinya sudah mengantisipasi bahwa pemberlakuan itu bisa saja ditunda, Mengingat sejumlah pelaku usaha menolak draf yang ada karena minimnya sosialisasi.

Investor juga mengantisipasi pertumbuhan utang nasional yang diumumkan pekan depan. Pada September utang Indonesia naik 12,74% dari periode sama 2017. Menurut Tradingeconomics, pertumbuhan utang nasional rata-rata tumbuh 20% per tahun, dari 1981 hingga 2018.

Sentimen kedua yang perlu diperhatikan berasal dari luar negeri, yakni adanya jadwal dengar pendapat antara Bank Sentral Eropa dengan Parlemen Uni Eropa di Brussel pada Senin malam atau Selasa pagi Waktu Indonesia Barat (WIB). Gubernur ECB Mario Draghi dijadwalkan memberikan pidato. Pasar memperkirakan ECB masih akan menyuntik pasar Eropa lewat program kebijakan uang longgar sampai dengan Desember, dan mempertahankan suku bunga acuan rendah hingga Juni 2019.

Jika ada perubahan mendadak yang tersirat dari pidato kali ini, pasar akan bereaksi negatif. Sejauh ini, sebanyak US$2,95 triliun disuntikkan oleh ECB sejak 2015 dengan membeli kembali surat utangnya. Tambahan likuiditas itu membuat pasar keuangan Uni Eropa bergairah.

Sentimen ketiga berasal dari pemerintah China yang bakal mengumumkan keuntungan sektor industri manufakturnya periode Januari- Oktober. Jika ada perlambatan pertumbuhan laba bersih, pelaku pasar berpeluang memanfaaatkannya sebagai alasan untuk ambil untung. P

asalnya, perlambatan pertumbuhan laba bersih telah terlihat dalam 9 bulan pertama 2018, yakni menjadi 14,7% menjadi 4,97 triliun yuan, melambat dari pertumbuhan Januari-Agustus sebesar 16,2%. Perlambatan lanjutan akan memperkuat dugaan bahwa perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) mulai memukul profitabilitas perusahaan Tiongkok. (LH)

Loading...

Komentar

News Feed