Sentimen Regional Dorong IHSG dan Rupiah Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS masih stabil dikisaran Rp.12200 per dolar AS pada perdagangan pertama bulan Desember 2018. (Foto Istimewa).
Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS masih stabil dikisaran Rp.12200 per dolar AS pada perdagangan pertama bulan Desember 2018. (Foto Istimewa).

Jakarta, Akuratnews – Sentimen regional mendorong bursa saham Asia turun. Memangkas keuntungan dalam dua hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus mengakhiri pekan dengan pelemahan selaras dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. IHSG terjerat di zona merah dengan pelemahan 0,12% ke level 6.169, Jumat (14/12).

Kebijakan pengetatan Eropa mendorong investor memburu kembali Dolar AS. Akibatnya IHSG dan Rupiah sama-sama terjengkal. ECB mengumumkan suku bunga acuan ditahan di level 0%, tidak berubah sejak 2016, Kamis (13/12). Secara resmi, ECB juga mengakhiri program stimulus berupa pembelian surat berharga. Pengaruhnya membuat pelaku pasar memburu dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya dolar indeks (DXY) menguat hingga level 97,5 dan menekan sebagian besar mata uang dunia lainnya.

Rupiah tak berdaya dan dibanderol Rp 14.580 per 1 US$ di penutupan pasar spot. Rupiah melemah 0,62% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Pelemahan tersebut menekan pergerakan bursa saham, khususnya indeks sektor keuangan.

Dari dalam negeri, sebagian pelaku pasar nampak melakukan aksi ambil untung mengantisipasi rilis data neraca dagang yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (17/12).
Indek Shanghai turun 1,5%, dimana indek Shenzhen jatuh lebih dalam sebesar 2,5%. Sejumlah saham dari sektor utama, termasuk infrastruktur, peralatan rumah tangga dan minuman keras anjlok harganya setelah naik dalam perdagangan di hari Kamis.

Investor melakukan aksi jual dan membukukan keuntungan sementara setelah data ekonomi China menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi industri melambat menjadi 5,4% pada bulan November. Capaian ini sebagai yang terendah sejak awal 2016, ketika kelesuan ekonomi mengirim pasar global pingsan.

Sementara itu, terjadi peningkatan penjualan ritel China sebesar 8,1%, terbaik selama 15 tahun. Hanya investasi aset tetap ini yang menunjukkan peningkatan dengan membukukan kenaikan sebesar 5,9% untuk tahun ini hingga November, versus peningkatan 5,7% pada 10 bulan pertama tahun 2018.

Indek Nikkei 225 turun 2%. Sentimen di antara produsen besar Jepang tidak berubah dalam tiga bulan hingga Desember, survei bank sentral menunjukkan Jumat, meskipun mereka berhati-hati tentang prospek bisnis mereka.

Indek utama ini mengukur sentimen produsen besar adalah pada plus 19 pada periode Oktober-Desember, sesuai dengan tingkat yang ditandai dalam survei September sebelumnya, menurut survei kuartalan Tankan oleh Bank of Japan. Pembacaan itu lebih tinggi dari perkiraan plus 17 oleh ekonom yang disurvei oleh penyedia data Cepat. Indeks mewakili persentase perusahaan yang mengatakan kondisi bisnis menguntungkan dikurangi kondisi yang mengatakan tidak menguntungkan.

Tapi Tankan menunjukkan indeks utama diperkirakan akan turun menjadi 15 dalam tiga bulan ke depan, menunjukkan bahwa bisnis berhati-hati tentang pandangan mereka. Pasalnya, dorongan penurunan dari luar negeri akan menjadi lebih kuat. Sengketa perdagangan AS-Cina meningkat dan mempercepat penurunan ekspor Jepang. Sementara ketegangan akan melukai permintaan secara keseluruhan dari bisnis Cina.

Bursa saham Hong Kong bergabung dengan yang lainnya dengan melakukan penurunan. Sentimen risiko telah mendingin lagi di seluruh aset di Asia. Indek Hang Seng turun 1,6%. Saham Tencent turun 3% untuk menghapus kenaikan sepekan sementara saham kasino Macau juga turun. Saham PetroChina sedikit meningkat pada awalnya, kemudian jatuh, menyusul lonjakan harga minyak Kamis, yang juga membalik beberapa di perdagangan Asia. (Lukman Hqeem)

Penulis:

Baca Juga