Perang Dagang AS Versus China

Serangan Balik China Rontokan Raksasa Teknologi AS, Rugi Rp2.133 Triliun

Washington, Akuratnews.com - Serangan balik China atas ekonomi Amerika Serikat selama perang dagang kedua negara membuat sejumlah raksasa industri teknologi AS terpukul anjlok dalam kerugian besar.

Pada Senin kemarin (5/8/2019), nilai pasar perusahaan-perusahaan teknologi AS anjlok hingga USD150 miliar atau setara dengan nilai Rp2.133 triliun. Kondisi mengkhawatirkan perang dagang AS dan China ditunjukkan pada perdagangan saham di Wall Street.

Ketergantungan perusahaan-perusahaan teknologi AS pada produk komponen dan manufaktur China menjadi sebab utama anjloknya nilai perusahaan itu akibat serangan perang dagang yang dilancarkan China.

Konflik kian tajam setelah China membiarkan mata uang negaranya melemah hingga di bawah 7 terhadap dolar AS merespon kebijakan Donald Trump yang akan menerapkan tarif baru pada produk-produk China. Ancaman AS itu memicu jual saham di pasar global.

Mengutip Bussines Insider, Dow Jones Industrial Average merosot 767 poin atau 3% mencapai 25.718 pada Senin (5/8/2019), sementara Nasdaq turun 278 poin atau 3,5% mencapai 7.726. Saham-saham perusahaan teknologi yang disebut FAANG yakni Facebook, Apple, Amazon, Netflix dan Google, menunjukkan penurunan drastis sebagai cermin kondisi pasar.

Apple menjadi korban terbesar dalam kelompok itu dengan mengalami penurunan 5,2% hingga penutupan pada USD193,34, kehilangan USD53 miliar nilai pasarnya. Apple dianggap sebagai perusahaan paling rawan selama perang dagang semakin memanas antara kedua negara.

Saham Facebook anjlok 4% hingga penutupan pada USD181,73 dan Amazon melemah 3,2% pada penutupan USD1.765,13. Adapun Google melemah 3,5% hingga penutupan pada USD1.152,32 dan Netflix turun 3,5% hingga penutupan pada USD307,63. Total nilai pasar kelima raksasa teknologi itu lebih besar dibandingkan nilai perusahaan Costco. Raksasa ritel itu memiliki nilai pasar USD117 miliar setelah sahamnya merosot 2,7% hingga penutupan pada USD265,10.

Hilangnya nilai pasar itu lebih besar dibandingkan nilai pasar IBM yang kini mencapai USD125 milair setelah sahamnya merosot 4,4% hingga penutupan pada USD140,76. Sementara pada Selasa (6/8), bursa saham AS menguat lebih dari 1%, naik dari hari sebelumnya saat China menstabilkan nilai yuan.

Langkah Beijing membuat pasar merasa lebih tenang. Intervensi China dilakukan setelah Departemen Keuangan AS menyebut Beijing sebagai manipulator mata uang dengan membiarkan yuan merosot ke level terendah dalam lebih satu dekade pada Senin (5/8/2019).

“Ini sinyal dari pihak China bahwa mereka ingin menjaga yuan tenang dan naik. Tapi ini juga mengindikasikan betapa cepat berbagai hal dapat berubah. Itu dirasakan di pasar dan ini salah satu alasan di mana rasa takut itu masih ada,” kata Quincy Krosby, kepala strategis pasar di Prudential Financial, Newark, New Jersey, pada Reuters seperti dikutip situs nasional.

Penguatan itu terjadi sehari setelah saham-saham besar AS mengalami penurunan terbesar pada tahun ini serta penurunan tajam yuan. Langkah Chian membenahi yuan hingga sedikit lebih kuat dan komentan Penasehat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow bahwa Presiden Donald Trump merencanakan perundingan dengan delegasi China pada September telah meredam kekhawatiran tentang eskalasi perang dagang.**

Penulis: Hugeng Widodo
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga