Peringatan Hari Lahirnya Pancasila

Simposium Kebangsaan BEM Nasionalis: Kembalikan Pancasila Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Simposium Kebangsaan BEM Nasionalis. Tampak Mantan Ketua MK, Hamdan Zoelva dan Ketua Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Pusat, Masduki Baidlowi. (Foto Huge31/Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Aliansi BEM Nasionalis menggelar acara Simposium Kebangsaan dalam Rangka Memperingati Hari Lahirnya Pancasila. Acara yang digelar di Hotel Sofyan, Jakarta Selatan ini bertemakan "Implementasi Pancasila Sebagai Alat Pemersatu Bangsa”.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva mengatakan, makna dasar dari pancasila yang ditetapkan pada 1 Juni bermula dari pidato Presiden Soekarno yang terkait langsung dengan 5 sila yang terdapat di dalam Pancasila. Menurut Hamdan, Soekarno sebagai sosok yang begitu benci dengan penjajahan dan kapitalisme, telah membagi tiga jenis kapitalisme, yakni Kapitalisme Belanda, Portugis dan Inggris.

Menurut Soekarno ketika itu, pertama kapitalisme Belanda sebagai negara yang miskin Sumber Daya Alam (SDA), maka Belanda mencari SDA di negara lain untuk mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Kedua Kapitalisme Portugis. Sebagai negara yang miskin, portugis harus mencari SDA ke negara lain. Namun Portugis tidak secerdas Belanda. Sementara kapitalisme Inggris sebagai negara yang kaya akan SDA, Inggris menjajah negara lain untuk mencari pasar bagi produk-produk negerinya.

Perlawanan yang keras terhadap bentuk kapitalis negara-negara barat telah memicu lahirnya Sosialisme yang banyak mempengaruhi sudut pandang Soekarno saat merumuskan sosialisme Islam yang kemudian diadopsi oleh Soekarno. Sosialisme Islam adalah sosialis namun berketuhanan.

"Dalam kuliah-kuliah Soekarno, terjawablah nilai-nilai pancasila, yakni filosofi Pancasila adalah sosialisme Islam yang anti terhadap penjajahan dan kapitalisme. Inilah yang menjadi dasar filosofi Pancasila." Terang Hamdan Zoelva.

"Bahwa kita boleh berbeda-beda dalam memahami ketuhanan yang maha esa. Kita boleh berbeda-heda saat berjuang membela bangsa Indonesia, berbeda bahasa, namun kita bersatu dalam Indonesia," Terang Hamdan zoelva.

Sementara, itu, Masduki Baidlowi, Ketua Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Pusat mengatakan, Demokrasi di Indonesia saat ini adalah demokrasi liberal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Soekarno dianggap gagal menjalankan Demokrasi terpimpin sebagaimana yang dicacangkan Soekarno sejak awal memimpin bangsa Indonesia, sehingga perlu implementasi pancasila untuk kembali menyatukan bangsa Indonesia.

Penulis:

Baca Juga