Opini

Singapura dan Motivasi Berpolitik Dalam Negeri

Oleh:
Kan Hiung
Pengamat Hukum, Sosial dan Politik

Di tahun 2014 sampai 2016, saya pernah tinggal di Singapura. Satu tahun setengah saya harus menemani ibu saya berobat cangkok sumsum tulang di RS NUH Singapura.

Apabila takdir saya lahir di Singapura, mungkin saya tidak akan pernah mau mengikuti sedikit pun urusan politik, karena mengikuti urusan politik dapat mengurangi rasa hangat dengan kerabat dan sahabat serta kehidupan akan merasa tidak nyaman dan dapat mengurangi kemampuan berfokus serta konsisten dalam ruang lingkup usaha dagang.

Termasuk budi baik yang pernah kita upayakan pun bisa dibalas dengan rasa kecewa yang cukup mendalam. Tetapi saya mampu ikhlas dan melupakan semua hal ini. Sebab kebaikan yang kita perbuat pada akhirnya berurusan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Satu hal sering saya amati, khususnya pihak-pihak yang kurang suka dengan pendapat saya di ruang lingkup politik itu tidak lain sebagian besar kurang paham keadaan negara yang sesungguhnya dan sebagian kecil memang mungkin punya kepentingan politik dan sebagainya.

Sebab mereka saat ditanya berapa jumlah pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan berapa jumlah utang negara, rata-rata mereka menjawab tidak tahu atau hanya terdiam sejenak. Apalagi ditanya soal permasalahan hukum, jauh dari kata paham. Saya kira ini lantaran terlalu banyak berita hoaks yang beredar.

Jadi urusan politik atau kepentingan umum itu harus dikaji secara komprehensif atau holistik. Kita harus punya banyak data faktual, jangan miskin data tapi kaya sugesti dan pandai menyerang pribadi orang lain (subjektif).

Dalam urusan kepetingan umum sepatutnya kita harus berpikir secara objektif dan rasional serta jauhkan sifat subyektif, egoisme, emosional dan irasional.

Soal cara menyenangkan perasaan orang lain. Saya punya kiatnya, karena sebagai seorang sales yang handal pasti punya kemampuan menyenangkan perasaan orang lain yang tinggi.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sudah mulai belajar berdagang, dan sampai dewasa saya termasuk seorang sales (marketing) yang cukup terkenal di bidang sparepart mesin diesel.

Saya cukup menguasai pengetahuan bagaimana cara menyenangkan perasaan (hati) para pelanggan. Jadi perihal ini saya mampu jadi motivator untuk sales yang baru mau belajar jadi marketing. Salah satu bukti adalah rata-rata orang yang pernah ikut saya bekerja dapat membuka usaha sendiri, walaupun usaha mereka masih tergolong kecil.

Akan tetapi di saat saya mengikuti urusan politik, saya tidak mampu mempraktikkan ilmu marketing yang handal untuk menjalankan urusan politik dalam hal menyampaikan pendapat di muka umum.

Selama di ruang lingkup politik saya hanya mengerti bagaimana cara menyampaikan suara kebenaran dan keadilan serta sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya (fakta).

Benar saya katakan benar dan salah saya katakan salah, dan saya paling anti isu Suku, Agama, Ras/Etnis dan Antargolongan (SARA).

Hal inilah yang membuat saya melanjutkan pendidikan kuliah ilmu hukum di Jakarta. Padahal seusia saya saat ini sudah seperti matahari yang ada di siang hari menjelang sore.

Lalu mengapa saya mau mengikuti urusan politik di tanah airku tercinta? Karena saya sadar dan paham serta ada rasa peduli yang dalam akan keadaan negara yang semakin hari semakin memburuk, terutama persoalan hukum, keuangan negara, perekonomian negara dan lain sebagainya.

Semoga semua yang saya lakukan ini kedepannya dapat bermanfaat bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salam NKRI!

Penulis:
Editor:Redaksi

Baca Juga