Soal Laut China Selatan, Indonesia Disebut Beri ‘Kejutan’ untuk Tiongkok

Presiden Joko Widodo (Jokowi) (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan)

Jakarta, Akuratnews.com - Sebelum orang banyak menggunakan pesan singkat dan percakapan daring, sebuah surat boleh jadi membawa makna yang berarti. Dalam periode waktu tertentu di masa lalu, beberapa hal yang berhubungan dengan surat – seperti koleksi perangko (filateli) – dapat menjadi hobi tersendiri.

Bahkan, mungkin, bagi mereka yang tak tumbuh dengan teknologi internet, surat bisa menjadi wadah untuk menemukan teman baru. Istilah “teman pena” misalnya turut menggambarkan bagaimana surat dapat menjadi medium untuk berkenalan dengan orang-orang yang jauh secara geografis.

Boleh jadi, guna memahami bagaimana sebuah surat dapat memiliki makna yang kuat dan berarti, sebuah film yang berjudul To All the Boys I’ve Loved Before (2018) dapat menggambarkannya. Dalam film satu ini, surat-surat cinta yang disimpan oleh Lara Jean Covey akhirnya mampu mengantarkannya untuk menemukan orang yang disayanginya, yakni Peter Kavinsky.

Dari sini, dapat dipahami bahwa surat tentu dapat membuka berbagai kesempatan baru. Bahkan, makna dan pesan yang dibawa oleh secarik kertas bisa terekam oleh sejarah.

Kisah Presiden Soekarno yang kerap saling bersurat dengan Presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy misalnya turut menjadi salah satu momen bersejarah dalam hubungan kedua negara. Bahkan, presiden pertama Indonesia tersebut sempat menyurati Kennedy terkait hadiah helikopter yang diberikannya.

Meski Soekarno mengucapkan terima kasih kepada Kennedy, isi surat tersebut tetap membawa pesan tegas. Proklamator Indonesia tersebut menjelaskan bahwa posisi Indonesia tidak berubah terkait Irian Barat (sekarang Papua) yang diduduki oleh Belanda.

Apa yang dilakukan Soekarno ini bisa jadi penting. Dengan menyampaikan makna pesan dalam surat tersebut, Indonesia secara tidak langsung menjelaskan pandangannya.

Mungkin, hal yang mirip kini tengah dilakukan Indonesia pada akhir Mei lalu. Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kabarnya telah menyampaikan sebuah note verbale – yang berhubungan dengan pengajuan penentuan batas landasan kontinen oleh Malaysia – ke kantor Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB yang berisikan pandangan Indonesia terkait sengketa Laut China Selatan (LCS).

Bahkan, note verbale itu disebut-sebut sebagai diplomatic bombshell (kejutan diplomatik) yang disampaikan oleh Indonesia kepada Republik Rakyat Tiongkok (RRT), karena di dalamnya pemerintah Indonesia mengutip putusan Permanent Court of Arbitration (PCA) pada tahun 2016 yang menolak klaim historis Tiongkok di Laut China Selatan.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Redaksi

Baca Juga