Opini

Strategi Perang Total Gagal, Jokowi-Ma’ruf Amin Hancur Berkeping-Keping

Opini, Akuratnews.com - Mengawali opini ini saya ingin pinjam kalimat Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof. Mahfud MD "jangan berani melawan arus kekuatan Rakyat..! Dalam sejarah tidak ada yang menang. PASTI TERGILAS". Itulah sebuah kalimat kiasan politik yang relevan dengan fenomena politik Pilpres 2019 saat ini.

Secara kasat mata kita bisa melihat sebagian besar rakyat Indonesia terkesan tidak respek kepada pemerintahan Joko Widodo lagi sehingga mereka menggunakan otoritas politiknya secara berapi-api dan terus mengerucut ke kesamaan pandangan politik yaitu "rakyat Indonesia ingin perubahan dengan cara 17 April 2019 ganti Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto". Inilah cara rakyat ketika sudah memprotes dengan hak politik mereka.

Kenapa rakyat begitu protes kepada Presiden Joko Widodo ?. Pertanyaan ini tentu tidak butuh analisa para pakar sosial politik. Hanya cukup mendengar dan membaca riakan aspirasi rakyat yang mereka utarakan di jalanan, ruangan, lapangan dan tempat lainnya, terlebihnya mereka mencoretnya di media-media sosial. Presiden Joko Widodo sudah dianggap gagal memimpin negara bangsa ini.

Gagal yang dimaksud tidak lain soal segudang janji dan iming-iming kampanye Joko Widodo pada Pilpres 2014 lalu. 66 Janji dan iming-iming itu hampir semuanya tidak terealisasi, diantaranya soal kesejahteraan bagi petani, buruh, Dokter, guru honorer, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan harga sembako, harga listrik, harga Bahan Bakar Minyak, pajak, impor pangan, utang luar negeri dan lain-lain sebagainya.

Selain itu, Joko Widodo dianggap lambat merespon dan bahkan tidak respon terhadap masalah keadilan hak asasi manusia, diantaranya pemukiman warga digusur tanpa toleransi untuk kepentingan proyek, kriminalisasi dan penangkapan sejumlah tokok ulama, tokoh politik, tokoh masyarakat, masyarakat biasa serta sejumlah kasus yang belum tuntas dan sebagainya. Ketika rakyat telah menunjukan kedaulatannya, ketika rakyat menyadari hak-haknya. Saat itu pun tidak ada satu kekuatan yg mampu menghalaunya.

Pilpres 17 April 2019 tinggal menghitung hari. Rakyat sedang menanti hari itu untuk perubahan dengan tekad di hati Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno adalah harapan baru masa depan negara bangsa. Ini dibuktikan saat Prabowo Subianto dan Sandi Uno berkampanye, masyarakat tumpah ruah. Berbeda dengan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin yang sedikit sekali antusias masyarakat menyambut mereka.

Dalam dua hari pelaksanaan kampanye terbuka, Prabowo di Manado demikian luar biasa mendapatkan sambutan dari masyarakat Sulawesi Utara. Begitu juga kampanye Prabowo di Sulawesi Selatan yg merupakan basisi Golkar, sambutan rakyat kepada Prabowo tumpah ruah di jalanan dan Lapangan Karebosi, Kota Makassar. Di Papua juga demikian.

Di Nusa Tengga Barat, Lombok, mantan Gubernur 2 Periode Tuan Guru Bajang (TGB) yang merupakan orangnya Joko Widodo dan adiknya Wakil Gubernur NTB saat ini tidak mampu membendung gerakan rakyat yg memberikan dukungan bagi Prabowo Subianto. Lutan manusia menyambut orasi Prabowo Subuanto di Lombok membuat merinding. Kampanye di Bali, Prabowo Subianto mampu mematahkan pengaruh wibawa keluarga Soekarno. Masyarakat Bali menyambut hangat kehadiran Prabowo Subianto.

Perang total yang dicanangkan oleh Moeldoko untuk mengalahkan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno justru berbenturan dengan masyarakat. Perang total yang diduga gunakan stategi membagi sembako dan amplop, apalagi tekanan dan intimidasi lewat tangan birokrasi di daerah tidak mampu membendung gerakan rakyat yang ingin perubahan.

Saat ini ujung tombak perang total tinggal Lembaga Survey. Namun sayangnya, data dan argumentasi dari sejumlah lembaga survey juga sudah dipatahkan dengan Survey popularitas Tim Google Trends yang independen di awal Masa Kampanye Terbuka ini.

Survey popularitas Tim Google Trends mengklaim Popularitas Joko Widodo hancur berkeping-keping pada posisi 30,62%, sedangkan popularitas Prabowo Subianto 69,38%. Hanya di beberapa propinsi saja popularitas Jokowi berada di atas 40% yakni di Bali (40%), Banten (44%), Sulbar (45%), dan DIY (40%), yg lainnya di bawah 40%.

Dengan demikian strategi total yang dicanangkan oleh Moeldoko telah gagal dan ucapan kalimat Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof. Mahfud MD "jangan berani melawan arus kekuatan Rakyat..! Dalam sejarah tidak ada yang menang. PASTI TERGILAS" ini akan terbukti pada Pilpres 2019.

Penulis: Dahlan Watihellu
Editor: Redaksi

Baca Juga