Suara Bankir Terpecah Jelang Pengumuman Bunga Acuan BI

Jakarta, Akuratnews.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersama para anggota Dewan Gubernur pada hari ini, Selasa (23/10/2018), dijadwalkan akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun, Senin (22/10/2018), bank sentral masih akan mempertahankan BI 7 Day Reverse Repo Rate di level 5,75%, meskipun The Fed sebelumnya telah mengerek bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).

Kalangan bankir saat berbincang dengan CNBC Indonesia juga memperkirakan BI akan menahan bunga acuannya dalam RDG kali ini, kendati pada bulan lalu sempat menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).

Presiden Direktur Bank OCBC NISP (NISP) Parwati Sujaudaja menilai, tidak ada suatu keharusan bagi bank sentral untuk menaikkan bunga acuan dalam RDG kali ini, meskipun BI berulang kali menegaskan akan tetap pre-emptive, ahead the curve, dan front loading.

Sekretaris Perusahaan Bank Negara Indonesia (BBNI) Ryan Kiryanto pun memiliki pandangan serupa. Menurutnya, keputusan BI menaikkan bunga acuan sebanyak 150 bps dalam beberapa bulan terakhir sudah cukup bisa mengimbangi posisi suku bunga AS.

"BI memang sebaiknya merespons peluang kenaikan FFR secara taktis agar BI punya ruang yang cukup untuk menyesuaikan suku bunga acuan di tahun depan, mengingat Fed akan naikkan FFR menuju level 2,75%-3,25%," jelasnya

Menurut Ryan, tanpa menaikkan bunga acuan pada rapat kali ini pun BI sudah cukup konsisten untuk berada di garis terdepan dalam menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global yang makin besar.

"Sudah cukup. Naiknya tahun depan saja, karena perjalanan masih jauh. Ibaratnya, amunisi harus dihemat karena perang belum selesai," jelasnya.

Meski demikian, tak sedikit analis maupun bankir yang memiliki pandangan lain.

Suara agar BI menyesuaikan suku bunga acuan dalam RDG bulan ini menguat karena ke depan tekanan terhadap rupiah tetap tinggi.

Salah satunya, dari Presiden Direktur Bank Central Asia (BBCA) Jahja Setiaatmadja. Menurut dia, bank sentral perlu kembali menaikkan bunga acuan dalam RDG bulan ini, setidaknya sebesar 25 basis poin (bps) demi rupiah.

"Baiknya naik 0,25%. Supaya bisa ahead the curve, jadi rupiah lebih mantap," kata Jahja melalui pesan singkatnya.

Dalam konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia, BCA memang satu-satunya institusi yang memperkirakan bunga acuan BI bakal kembali dikerek. Alasannya, kenaikan bunga acuan bisa membuat Indonesia makin menarik di tengah ketidakpastian global.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menyebut, kenaikan bunga acuan bukan hanya menjadi obat bagi rupiah untuk terus menguat, melainkan juga upaya untuk menekan defisit transaksi berjalan (CAD) ke arah 2% tahun depan.

"Perkiraan CAD defisit di kuartal III ini cukup besar di atau 3%. Kalau ingin CAD turun ke arah 2%, mau tidak mau bunga harus lebih tinggi. Tujuannya bukan hanya CAD tapi untuk kebijakan jangka menengah," tegasnya. (Red)

Penulis:

Baca Juga