Sudah Ngaku Bukan Pemilik Lahan, Dua Nama Orang Tua yang Sakit ini Masih Tetap Dicatut

Kondisi Moch. Shodikun yang terbaring di ranjang belasan tahun.
Kondisi Moch. Shodikun yang terbaring di ranjang belasan tahun.

AKURATNEWS - Ibarat kata pepatah: sudah jatuh, tertimpa tangga. Inilah kondisi yang dialami Hindun Sholichah dan Moch. Shodikun, warga Desa Tambak Sawah, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Padahal, kondisi Hindun dan Shodikun diketahui sudah tidak berdaya selama belasan tahun, akan tetapi pihak tertentu masih bersikeras mencatut nama keduanya dalam kasus sengketa lahan.

Terlebih, sejak awal kasus ini mencuat pada 1995 silam, kedua orang tua yang kini diperkirakan berusia lebih dari 65 tahun itu telah mengaku, bila keduanya tidak pernah memiliki lahan, apalagi menggarap lahan yang disengketakan itu dalam sebuah persidangan.

Mendadak, terbit surat putusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya nomor: 7/PDT/2022/PTSBY berisi mengabulkan banding perkara perdata soal lahan seluas 2,8 Ha dengan gambar situasi nomor 527/1996, 02 Februari 1996 berlokasi di Desa Segoro Tambak, Sedati, Sidoarjo yang diajukan HSH, Direktur PT SP Jakarta belum lama ini.

Dalam putusan itu, selain mengabulkan banding PT SP, ternyata PT Surabaya juga menjatuhkan hukuman yang dinilai tidak manusiawi terhadap pihak terbanding. Janggalnya, nama Hindun dan Shodikun masih dicatut pada perkara gugatan tersebut.

Menurut pantauan AKURATNEWS, ketika berkunjung ke kediaman Hindun dan Shodikun di Tambak Sawah, Selasa (9/3/2022) lalu.

Tampak, Hindun berjalan tertatih-tatih menyeret kakinya yang bengkak. Lalu, lebih miris lagi, kondisi Shodikun. Dia hanya terbaring di ranjang yang terletak di ruang tamu rumahnya, karena menderita lumpuh. Selain, tangan dan kaki Shodikun tidak bisa digerakkan, juga sulit diajak berkomunikasi serta pendengarannya pun berkurang.***

Penulis: Wachid Yulianto

Baca Juga