Sufmi Dasco Ahmad: Fraksi Gerindra percaya BIN Sebagai Mata dan Telinga Negara

Sufmi Dasco Ahmad.

Jakarta, Akuratnews.com - Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad tak percaya, jika Badan Intelijen Negara (BIN) mudah dimanfaatkan sejumlah pihak. Hal tersebut terkait dugaan penyadapan percakapan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin, yang diungkapkan di persidangan ke-8 kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur Non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Disampaikan, dalam sidang kasus penodaan agama sebelumnya, terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan kuasa hukumnya mengaku mempunyai data soal percakapan antara SBY dengan KH Ma'ruf Amin.

"Fraksi Gerindra percaya BIN sebagai mata dan telinga negara, tidak mudah dipergunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok atau segelintir orang," kata Sufmi Dasco Ahmad di Jakarta, Jumat (3/2/2017).

Menurut Dasco, pihaknya menyarankan agar Partai Demokrat meminta pihak kepolisian mengusut pelaku dugaan penyadapan tersebut. Bukan, tambahnya, justru menggalang hak angket di Parlemen.

"Mungkin bukan hak angket Fraksi Demokrat mendesak penegak hukum untuk menyelidiki (dugaan-red) penyadapan tersebut," imbaunya.

Lanjut Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR ini, perlu dilakukan agar dugaan penyadapan terhadap SBY selesai secara hukum tidak melebar kemana-mana.

"Aparat penegak hukum pertama bisa memanggil pengacara Ahok, ini kan awalnya dalam proses persidangan. Kita lihat nanti aparat bekerja," tegasnya lagi.

Sebelumnya diketahui, Fraksi Partai Demokrat di DPR ingin menggalang hak angket anggota dewan. Hak angket itu diusulkan untuk menyelidiki dugaan penyadapan pembicaraan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan Rais Aam NU yang juga Ketua Umum MUI Ma'aruf Amin dibahas dalam persidangan Ahok.

Penulis:

Baca Juga