Tahun Ini, BCA Bidik Pertumbuhan Kredit 8%-9%

Saham Bank Central Asia memimpin kenaikan IHSG dalam perdagangan hari Selasa (04/12). (Foto Istimewa).
Saham Bank Central Asia memimpin kenaikan IHSG dalam perdagangan hari Selasa (04/12). (Foto Istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menargetkan pertumbuhan kredit 8-10% di tahun politik. Target tersebut terbilang konservatif, karena perusahaan menyatakan bakal lebih berhati-hati dalam penyaluran kredit tahun ini.

"Intinya, filosofi kredit harus prudent dari awal tahun," kata Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (19/02/2019).

Jahja menambahkan, jika pada pertengahan tahun ini ada kenaikan permintaan kredit, BCA pun tidak menutup kemungkinan untuk langsung menggenjot penyaluran kredit.

Hal yang serupa juga pernah diungkapkannya pada tahun lalu, di mana pada awal tahun mereka menargetkan kredit tumbuh 9%.

"Tapi, kenyataan (kredit) bisa tumbuh 15%. Saya bilang, kalau pasang target kredit, saya tidak mau dari awal tahun menggebu-gebu cari kredit," kata Jahja.

Dia memastikan, BCA memiliki permodalan yang cukup dengan tingkat likuiditas yang cukup baik. Sehingga mereka tidak khawatir menggenjot pertumbuhan kredit di pertengahan tahun jika permintaan meningkat. Namun, penyaluran kredit itu akan tetap dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Dia juga mengatakan, berdasarkan siklus penyaluran kredit, triwulan pertama umumnya penyaluran kredit selalu negatif. Kecuali pada saat dimana harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah sedang merangkak naik.

"Memang kuartal pertama (trennya) selalu minus, kuartal kedua ke Desember baru ada lonjakan dari bisnis proses," katanya.

Sementara untuk suku bunga kredi, perusahaan juga akan terus mengawasi keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. Dia mengatakan, saat ini tidak ada alasan untuk menaikan suku bunga kredit karena kestabilan suku bunga acuan The Fed.

Bahkan menurutnya BCA tidak menutup kemungkinan untuk menurunkan suku bunga kreditnya jika suku bunga Negeri Paman Sam juga diturunkan.

"Saya akan lihat bagaimana The Fed. Kalau The Fed tenang, kenapa kita mesti naik? Suku bunga kredit, kita bisa jaga stabil saat ini," kata Jahja.

Dia menilai, tingkat suku bunga sangat sentisitf dan berpengaruh kepada penyaluran kredit modal kerja. Sementara, kredit kosumer seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan kartu kredit dinilai bisa terus tumbuh meski di tengah kondisi suku bunga yang tinggi.

Jahja mengatakan, terus bertumbuhnya kredit konsumer karena daya beli masyarakat yang tinggi dan kebutuhan akan barang yang menjadi penyebabnya tidak berpengaruh kepada tingkat suku bunga.

"Tahun kemarin, waktu bunga naik kencang, kredit kita malah tumbuh 15%," ujar dia. (Red)

Penulis:

Baca Juga