Ekpedisi Desa Tangguh Bencana

Tak Siap Hadapi Gempa, BNPB Sebut Masyarakat Menyerah Pada Nasib

Ilustrasi Gempa (Istimewa)

Jakarta, Akuratnews.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap adanya potensi gempa dan tsunami di Pulau Jawa. Berkenaan dengan potensi gempa tersebut diperlukan kesiapan masyarakat menghadapi gempa tersebut.

Namun sayangnya, menurut BNPB, masyarakat di Jawa dianggap tidak menguasai strategi menghindari gempa,  bahkan cenderung menyerah pada nasib.

Diketahui, sebagaimana dilansir BBC, Pandeglang adalah salah satu daerah di Banten yang rentan terkena gempa tektonik dan tsunami, yang bisa dipicu oleh gempa atau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pada akhir tahun 2018, sekitar 400 warga tewas akibat tsunami yang disebabkan longsor bawah laut di sisi barat daya gunung api Anak Krakatau.

Untuk mempersiapkan warga menghadapi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami, BNPB melakukan kegiatan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) di 512 desa rawan bencana, mulai dari Banyuwangi hingga Serang selama sebulan terakhir.

Meski upaya untuk menyiapkan warga menghadapi bencana sudah dilakukan, masalah tata ruang masih mengancam keselamatan warga.

Di Labuan, misalnya, sejumlah warga masih tinggal dan beraktivitas di area dekat bibir pantai. Padahal berdasarkan regulasi yang ada, batas aman jarak pemukiman dengan bibir pantai adalah 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah daratan.

Menjelang akhir Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana), Deputi Pencegahan, BNPB, Lilik Kurniawan, mengatakan umumnya warga belum siap menghadapi bencana tsunami, dilihat dari segi tata ruang juga faktor sosial.

Sebelumnya, BNPB berencana untuk berkeliling ke 584 desa di sepanjang Pantai Selatan Jawa, yang dihuni lebih dari 600.000 jiwa, namun jumlah tersebut tidak tercapai karena sulitnya akses ke puluhan desa.

Di Selatan Jawa, kata Lilik, sejumlah jalur evakuasi tsunami berada sejajar dengan pantai, sehingga warga tidak dapat berlari ke tempat yang lebih tinggi.

Ada pula desa yang sudah memiliki jalur evakuasi, tapi belum efektif karena keterbatasan dana.

"Jalur evakuasi ada tapi harus lewat sungai, tapi jembatan tidak ada. Mereka tidak punya kemampuan untuk membangun jembatan," ujar Lilik.

Selain itu, beberapa daerah wisata pantai juga belum memasang tanda-tanda informasi mengenai tsunami.**

Penulis:
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga