Tanggapi Surpres Pengangkatan Panglima TNI, Pengamat : Jenderal Andika Sudah Lama Dipersiapkan

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Andika Perkasa. (Foto istimewa).
Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Andika Perkasa. (Foto istimewa).

AKURATNEWS - Jenderal Andika Perkasa calon tunggal pengganti Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, yang akan memasuki masa pensiun 58 tahun pada 8 November 2021 mendatang.

Hal tersebut muncul setelah Surat Presiden (Surpres) terkait usulan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) tersebut didapuk menjadi Panglima TNI. Namun, Surpres Presiden Joko Widodo terkait pergantian Panglima TNI tersebut banyak diperbincangkan oleh beberapa pengamat.

Selamat Ginting, pengamat komunikasi politik dan Militer dari Universitas Nasional Jakarta mengatakan, banyak hal dalam pertimbangan politik yang sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi hingga menetapkan KASAD Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai calon tunggal Panglima TNI tersebut.

"Jenderal Andika ini sudah lama juga dipersiapkan untuk dipilih menjadi Panglima TNI", terang Ginting.

Selain itu, adanya informasi yang mengatakan pertemuan-pertemuan antara Andika dengan Jokowi tersebut juga tidak banyak terekspos oleh publik, dan itu terjadi ketika menjelang sang Presiden berangkat ke luar negeri.

Kemudian pertemuan tersebut mencuat setelah diduga Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno pada 11 Oktober 2021 datang ke Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad).

Masih menurutnya, secara sosiologis dan psikologis banyak kedekatan antara Presiden Jokowi dan Jenderal Andika. Sehingga sangat sulit untuk pindah lain hati meskipun usia menjadi Panglima TNI hanya satu tahun, namun dengan catatan tidak akan memperpanjang masa usia pensiun.

Dalam masa memperpanjang usia pensiun tersebut juga sering terjadi dimasa Presiden sebelumnya. Seperti era Presiden Soeharto di tahun 1996, yakni Jenderal Faisal Tanjung, yang harusnya pensiun usia 55 tahun namun mendapatkan perpanjangan hingga pensiun jelang usia 59 tahun.

Begitu juga dengan Jenderal Endriartono Sutarto pada 2002. Seharusnya pada April 2002, ia pensiun diusia 55 tahun, namun diperpanjang hingga 59 tahun pada 2006.

Dari segi kesenioran dengan KASAL, dan KASAU, KASAL Jenderal Andika memang masih seniornya. Disisi kepangkatan bintang Andika tetap masih lebih dulu. Sementara KASAD Andika merupakan lulusan Akmil 1987, Laksamana Yudo Margono lulusan AAL 1988-A, dan Marsekal Fadjar Prasetyo lulusan AAU 1988-B.

Disamping itu juga, Andika punya pengalaman lengkap sebagai perwira, diantaranya pernah memegang jabatan komandan lapangan sejak menjadi Komandan Batalyon 32/Apta Sandhi Prayuda Utama, dan Grup 3/Sandhi Yudha. Selanjutnya sebagai komandan wilayah, yakni Komandan Resor Militer (Danrem) 023/Kawal Samudera, Kodam I/Bukit Barisan pada 2012.

Setelah itu dalam kariernya sebagai perwira tinggi dimulai menjadi Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, kemudian Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) (2014), Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/Tanjungpura (2016).

Dari situ promosi menjadi Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklatad) (2018), Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) (2018), hingga menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (2018) selama 2,5 tahun. Andika yang banyak berkarier di bidang intelijen anti teror ini sudah matang dan waktunya untuk memimpin TNI.

"Hakikatnya ancaman negara saat ini yang ada di depan mata adalah masalah Papua. Papua ini wilayah daratan yang harus dipimpin Panglima dari matra darat yang lebih mengenal wilayah gerilya lawan, yakni Organisasi papua Merdeka (OPM)", tegas Ginting.

Sementara masalah Laut China Selatan baru merupakan potensi ancaman. Dan belum merupakan ancaman nyata seperti di Papua. "Dibutuhkan panglima yang paham tentang operasi militer dalam menghadapi hakikat ancaman terhadap NKRI", pungkasnya.***

Penulis: Rizal
Editor: Ahyar

Baca Juga