oleh

Tanpa Bantuan Dari Pemerintah, Satu Keluarga Enam Tahun Tinggal di Gubuk Reot

Aceh Timur, Akuratnews.com – Sebuah keluarga yang berdomisili di Dusun Seutia, Kec. Idi Timur Kab. Aceh Timur sudah enam (6) tahun lebih tinggal di rumah tidak layak huni, namun hingga kini belum tersentuh bantuan dari Pemerintah.

Kondisi gubuk berukuran 4×3 meter persegi yang sudah reyot dengan dinding bambu yang dipenuhi lobang dan atap yang bolong itu di tempati oleh keluarga Safrijal (46) bersama istrinya, Desi Wahyuni (36) dan 5 orang anaknya.

Keluarga ini terpaksa tinggal dalam keadaan tersebut karena tidak mampu untuk membangun rumah yang layak.

Desi mengungkapkan, pekerjaan suaminya Safrijal sehari-hari sebagai montir Televisi dan Listrik orang yang rusak. Jangankan membangun rumah, untuk makan sehari-hari saja kesulitan.

“Saya berharap kepada pemerintah memberikan kami bantuan rumah yang layak huni, supaya saat hujan atau angin anak-anak kami tidak lagi ketakutan rumah akan roboh,” harap istri Safrijal sambil menetes air matanya, Jumat, (11/01/2019).

Ibu lima anak ini juga menceritakan beberapa bulan yang lalu atap rumah mereka sempat dibawa angin saat hujan, dan lemari dalam rumahnya juga sempat jatuh menimpa mereka pada saat sedang tidur.

“Saat itu lagi hujan disertai angin kencang, atap rumah kami sempat  roboh terbawa angin, saat itu kami semua lagi tidur. Bahkan lemari juga ikut jatuh menimpa kami pada kejadian itu.  Alhamdulillah kami tidak apa-apa,  dan setelah kejadian itu kami membangun kembali atap rumah dengan seadanya,” cerita Desi.

“Kami pun ingin seperti orang lain punya rumah yang layak, habis gimana lagi  buat bangun rumah, buat makan sehari hari saja agak susah dan apalagi kami  harus memikirkan biaya untuk 4 anak kami yang sudah sekolah,” ungkap Desi dengan terharu.

Saat hujan turun, Desi Wahyuni dan anak-anaknya tidak akan nyaman tinggal di dalam rumah karena air menetes masuk melalui lubang di atap dan dari dinding rumahnya.

“Ya kalau saat hujan rumah kami bocor dimana-mana baik dari atap rumah maupun dari dinding rumah, ya kami pakek baskom seadanya untuk menahan air supaya tidak mengalir kemana-mana,” ujarnya.

Apabila malam datang, udara dingin yang masuk dari celah-celah dinding bilik menusuk kulit mereka.

Yang sangat menyedihkan ketika Desi menceritakan Putrinya Safrinatun Annaja, bocah yang barusia 5 tahun dan masih duduk dibangku sekolah paud itu berdoa “Ya Allah, jangan engkau berikan angin nanti rumah kami roboh dan kami tidak punya tempat tinggal lagi, cukup hujan saja ya Allah,” kisah Desi.

Setiap malam, kekhawatiran selalu menghantui keluarga itu jika melihat cuaca buruk. Namun apa daya, kepada tuhanlah dapat diharapkannya, sementara Pemerintah setempat hanya memberikan harapan palsu kepada keluarga mereka, karena selalu didata namun bantuan tak kunjung sampai.

Para tetangga juga setiap hari mengkhawatirkan kondisi penghuni rumah reyot tersebut. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan, karena sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan, buruh bangunan dan buruh tani saja.

“Kasihan, kami ngebantu gak bisa paling bisa ngebantu dengan doa, ya jadi ikutan sedih sekarang. Kami berharap kepada pemerintah rumahnya dapat segera dibangun supaya gak kehujanan kedinginan dan layak dihuni,” ujar Budi (38), selaku tetangganya. (Iqbal)

Loading...

Komentar

News Feed