Opini

Taufiq Kiemas, Empat Pilar Kebangsaan, Hingga Jokowi

Mengenang M Yamin, wafat Jumat 22 Maret 2019

Opini, Akuratnews.com - Saya lihat lagi foto itu. Sekitar bulan september 2002. Kak Taufiq Kiemas, begitulah kami memanggilnya, dengan sebutan kakak, menggunting rambut anak saya.

Usia putra saya yang kedua, Ramy Denny, saat itu 40 hari. kak Taufiq sendiri yang berpesan: “Den, kagek aku bae yo yang gunting rambut anak kamu. Jangan lupo.” (Den, nanti saya yang gunting rambut anakmu. Jangan lupa).

Saat itu, rumah tempat saya tinggal di jalan pemuda menjadi perhatian penduduk sekitar. Maklum. Saat itu Megawati presiden RI. Taufiq Kiemas sungguhpun datang ke rumah saya dalam kapasititas pribadi, ia suami presiden. Ada standard protokoler yang dijaga.

Sebelum Kak Taufieq sampai ke rumah, handphone saya bersering. “Den, siap siap yo. Kakak kito lima menit lagi sampai.” Itulah suara M Yamin. Saat itu ia acapkali berada di samping Taufiq Kiemas.

Itulah tahun awal saya dekat dengan M Yamin. Saya mengenalnya sudah lama sebagai sesama aktivis mahasiswa tahun 1980an. Saya di Jakarta. M Yamin di Jogjakarta.

Namun saya mulai dekat, acapkali diskusi empat mata, curhat mulai dari masalah pribadi hingga politik, ketika saya pulang menyelesaikan Ph.D dari Amerika Serikat. Itu di tahun 2001.

Kemarin, jumat 22 Maret 2019, begitu terkejut saya menerima berita, M Yamin wafat. Ia sedang berada di puncak stamina politik. Di japri seorang teman mengirim foto ketika ia terbaring, masih memakai kaos #2019 Tetap Jokowi. Ia sudah dinyatakan wafat.

Seketika saya teringat tiga momen penting bersama Yamin. Itu momen di tahun 2001-2004, di tahun 2008-2009, dan di tahun 2013- 2014.

Tahun 2001, saya baru saja menyelesaikan Ph.D ilmu politik dari Amerika Serikat. Walau di Amerika, saya masih acap menulis soal politik untuk koran Indonesia, terutama Kompas. Total tahun saya tinggal di Amerika sejak menempuh S2 hingga S3, di Pittsburgh hingga Ohio, dari 1992- 2001: 10 tahun. Tapi sempat pulang lama ke Indonesia.

Satu hari di akhir bulan Agustus atau September tahun 2001, handphone saya berbunyi. M Yamin menelfon dalam bahasa palembang. Ia mengabarkan: Kak Taufiq ingin berjumpa.

Saya terdiam. Bulan Juli 2001, Megawati baru saja dilantik sebagai presiden RI. Taufieq Kiemas saat itu dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh. Begitu banyak kekuatan politik yang ingin mendekat. Yamin menelfon, Kak Taufiq yang justru ingin saya mendekat.

Melalui Yamin, sayapun masuk kedalam komunitas politik lingkaran dalam Taufik Kiemas. Ujar Yamin, dalam bahasa palembang: Kak Taufiq itu senang dengan anak anak muda yang pintar. Apalagi seperti bro Denny yang dari kampung sendiri, sesama Sumsel. Memang lingkaran dalam Taufiq Kiemas, diantara beragam lingkaran lain, ada lingkaran yang disebut “wong kito galo.”

Di satu tempat, bertiga saja, kami bicara panjang lebar. Kak Taufiq bertanya banyak hal soal masa kecil saya di Palembang. Walau tak akrab, ia cerita pernah ketemu Ayah saya.

Hubungan saya dengan Taufiq Kiemas kemudian tak hanya politik. Justru lebih kuat lagi sisi hubungan pribadi. Ketika jumpa ibu saya, Kak Taufiq cium tangan. Kak Taufiq juga menjadi satu satunya tokoh yang jika saya jumpa saya mencium tangannya. Ia saya anggap seperti kakak atau paman.

Saat itu, saya acapkali diajak Taufiq mendampinginya dalam kunjungan resmi presiden Megawati ke aneka negara. Kadang bersama Rizal Mallarangeng dan Cornelius lay. Kami ikut ke Italia, Cekoslovakia, Mesir. Saya juga ikut ke Korea Utara.

Di kalangan para menteri Megawati saat itu banyak yang mungkin bertanya. Atas kapasitas apa Denny JA ikut dalam kunjungan resmi kenegaraan. Tapi tak ada menteri yang bertanya langsung pada saya. Saya melihat mereka begitu mengesankan hormat pada saya, lebih karena saya dekat dengan Taufiq Kiemas.

Satu momen yang membuat saya tertawa soal M Yamin. Pagi itu, saya lupa tepatnya, sekitar tahun 2002. Sms di HP saya penuh dengan ucapan selamat. “Selamat ya bro Denny. Akan menjadi menteri sekretaris Kabinet!”

Ha!! Saya tercengang. Itu berita dari mana? Saya telusuri ternyata itu berita dari sebuah koran lokal di Jogjakarta. Segera saya tahu, ini pasti ulah M Yamin.

Segera saya ajak Yamin berjumpa empat mata. Saya tanya hal ihwal, dalam bahasa palembang. Intinya saya bertanya sekaligus menegur, mengapa membuat berita itu tanpa diskusi dulu dengan saya.

Dengan tertawa Yamin berkata. Itu untuk testing the water. Siapa tahu bisa terjadi. Yamin mengaku diminta Kak Taufiq soal publikasi itu.

Sayapun tertawa karena saya tahu itu bukan Kak Taufieq yang minta. Tahun 2002, usia saya baru 39 tahun. Berkali- kali dalam diskusi Kak Taufiq memberi pesan. Sepintar apapun tokoh, usia itu penting. Sebelum usia 40 tahun, ia belum cukup matang untuk punya tanggung jawab menjadi presiden, wakil presiden, bahkan menteri.

Mengingat M Yamin, itulah peristiwa awal yang datang. Ulahnya yang kadang jahil tapi justru dalam rangka yang ia sebut “ikhtiar membantu teman.”

Momen kedua di tahun 2008-2009. Yamin kembali menelfon. Ujarnya, Kak Taufiq mengajak diskusi. Kami pun berjumpa bertiga. Bercakap cukup panjang.

Kak Taufiq meminta pandangan peran politik apa lagi yang bisa ia lakukan untuk negara. Kak Taufiq percaya bukan saja karena saya ia sebut sebagai ahli strategi luar dalam. Tapi Kak Taufiq juga percaya hubungan saya dengannya adalah hubungan hati. Pastilah saya memberikan saran yang baik.

Saya katakan pada Taufiq Kiemas dengan mengutip John Maynard Keynes. Bahkan para penguasa yang seolah olah begitu berkuasa, sebenarnya ia adalah budak dari seorang pemikir. Politik yang paling tinggi itu adalah pejuang gagasan.

Ujar saya, Kak Taufiq harus dikenang karena sebuah gagasan. Kita ingat Bung Karno, ingat nasionalisme. Kita ingat Bung Hatta, ingat koperasi. Kita ingat bung Syahrir, ingat Sosialisme. Kita ingat Kartini, ingat emansipasi wanita.

Jika kita ingat Taufiq Kiemas, kita ingat gagasan apa? Saya melihat kak Taufiq terdiam dan terkesan. Saya pun bicara dalam bahasa palembang, yang artinya: tidak gagah jika orang hanya ingat Kak Taufiq sebagai suami presiden, atau seorang Don dalam partai besar.

Kita harus cari gagasan yang bagus untuk Kak Taufiq. Tapi itu gagasan yang memang Kak Taufiq hayati. Dan pastilah berhubungan dengan sesuatu yang berada dalam paham nasionalisme. Kak Taufiq tokoh nasionalis.

Jika bertiga berjumpa, saya, Yamin dan Kak Taufiq, Yamin lebih banyak mendengar.

Saya tahu Kak Taufiq sangat tergerak oleh percakapan itu. Ia juga berjumpa dan mendengar banyak saran lain. Tak lama kemudian kak Taufiq terpilih sebagai ketua MPR. Ia mempopulerkan gagasan 4 Pilar Kebangsaan.

Mengingat gagasan 4 Pilar Kebangsaan, kita teringat Taufik Kiemas.

Momen ketiga yang saya ingat dengan Yamin, di tahun 2013-2014. Kak Taufiq wafat bulan Juni 2013. Itu kehilangan besar tak hanya bagi PDIP, tapi juga bagi lingkaran Taufiq Kiemas.

Begitu banyak aktivis yang dibantu dan bersandar pada Taufiq Kiemas. Ia menjadi kakak, mentor, pelindung bagi banyak orang. Kak Taufiq dikenal pula ringan tangan membantu bahkan untuk urusan ekonomi dan pekerjaan.

Yamin termasuk yang sangat kehilangan. Saya lupa tepatnya. Itu sekitar bulan Juli hingga september 2013. “Den, kapan ketemu. Aku kangen samo kamu. Kito ngorol 4’mato bae yo. Di kafe kamu bae yo. Di Menteng.” Kabar wafatnya kak Taufiq, kakak kami semua, masih membayang.

Dengan Yamin, acapkali bicara, kami bicara bahasa palembang. Kecuali jika ada orang lain.

Yamin bercerita sekaligus curhat. Sejak kak Taufiq wafat, ia semacam kehilangan matahari. Ia juga mengajukan pertanyaan seperti yang pernah kak Taufiq tanya: peran apa Den, yang sekarang bisa aku mainkan!

Saat itu partai mulai sibuk menyiapkan calon presiden. Yamin dari PDIP. Tapi Yamin masuk dari sayap Taufiq Kiemas. Setelah Taufiq wafat, tak banyak yang bisa ia lakukan untuk PDIP karena tak lagi ada akses pada pengambil keputusan.

Saya bertanya, PDIP akan mencalonkan siapa bro? (dalam bahasa Palembang). Jawab Yamin, ya pasti Mega lah! Siapa lagi?

Sebagai pemilik lembaga survei, saya punya keuntungan ekstra. Saya punya data yang bisa dianalisa. Dalam data LSI, Jokowi potensial menjadi capres yang kuat.

Tapi siapa yang akan mencalonkan Jokowi? Ia bukan ketum partai! Ia tak punya banyak uang! Ia juga baru terpilih gubenur DKI.

“Min, ujar saya padanya. Kau kan aktivis. Kau buatlah satu gerakan. Bagaimana caranya orang harus mengenal dirimu sebagai yang awal yang ikut berjuang mencalonkan Jokowi. Jika bisa kau ikut berjuang agar PDIP yang mencalonkan Jokowi!!

Ha? Ujar Yamin. Apa iya Ibu Mega mau mengalah? Atau kita buat Puan menjadi wapresnya? Tanya Yamin.

Jawab saya lagi, Min, kito kan belajar politik dan aktivis pulo. Dak katek yang mustahil dalam politik. (Tak ada yang mustahil dalam politik). Saya pun menyampaikan kutipan: Kecuali mengubah lelaki menjadi perempuan, dan perempuan menjadi lelaki, politik bisa mengubah apa saja!! Apalagi jika mencalonkan capres yang bakal jadi!

Hahahaha. Yamin tertawa lepas. Cocok, ujar Yamin. Dan kembali ia berceloteh: di sinilah lemaknyo punyo dulur yang punya data. Menangnyo lebih kejamin (enaknya punya teman yang memiliki data. Kemenangan di pilpres nanti terjamin).

Kamipun sering jumpa di kafe saya di Pisa Kafe Menteng. Suatu ketika Yamin mengajak Helmy, atau Helmy mengajak Yamin. Saya lupa. Ini Helmy yang juga teman aktivis, kini menjadi dubes Mesir.

Jokowi sudah resmi dicalonkan PDIP. Yamin, Helmy dan saya sendiri mencari cara untuk berkontribusi lebih banyak untuk kemenangan Jokowi. Aneka strategi fund rising dirancang. Tapi semua harus disetujui Jokowi atau tim kampanye resmi.

Beberapa kali jumpa tak menemukan jalan. Tapi saya lakukan short cut.

Yamin sangat senang ketika saya sumbangkan dana cukup besar untuk gerakannya Seknas. Min, ujar saya, ini dana pribadiku. Kau pakai saja untuk gerakanmu.

Yamin pun bergerak untuk Jokowi. Ketika Jokowi terpilih, Yamin juga menjadi salah satu komisaris BUMN. Sebagaimana banyak aktivis dan relawan lain.

Dan saya sejak dulu, sejak 2004, selesai Pilpres, kembali sebagai warga biasa.

Sejak 2014, dan sejak Yamin menjadi komisaris, kami sudah sangat jarang jumpa. Kadang hanya bercakap lewat japri WA grup saja.

Yamin tetap seperti dulu. Seorang nasionalis. Pengagum Taufiq Kiemas. Dan Die Hard bagi Jokowi.

Belakangan saya mendengar, ia membuat film. Ia menjadi produser Film Taufiq Kiemas yang segera tayang. Jauh hari sebelumnya saya berkabar padanya bahwa saya produser film “Mencari Hilal” yang menjadi nominasi piala terbaik di tahun 2015.

Yamin tak hanya ingin menjadi produser film. Ia ingin mengangkat tokoh yang ia kagumi, Taufiq Kiemas, ke layar lebar. Film hanya medium saja.

Ketika wafat, Yamin juga masih memakai kaos “2019 Tetap Jokowi.” Ia wafat sebagai aktivis. Ia wafat ketika bertugas.

Mengenang Yamin, semalam banyak saya terdiam. Dalam hati saya berucap: “Yamin, sobatku. Banyak dalam hidup yang tak kita duga. Sudah kau beri apa yang kau bisa. Selebihnya, kita ikhlaskan saja.

Sayapun mengirimkan doa Alfateha. Semoga doa ini sampai padamu, kawan.

Penulis Oleh: Denny JA

Penulis: Denny JA
Editor: Redaksi

Baca Juga