Tekad Saritua Mencari Keadilan Laporkan Oknum Penyidik Polres Jakut

Saritua Solin, Jundri R. Berutu dan Roni S. Manik seusai melapor ke Kabid Propam PMJ. (Jaya)

AKURATNEWS - Kuasa Hukum Korban Penipuan Saritua Solin, Jundri R. Berutu dan Roni S. Manik melaporkan tiga oknum polisi ke Kepala Bidang Propam Polda Metro Jaya (Kabid Propam PMJ).

Adapun tiga oknum yang dilaporkan ke Kabid Propam yaitu dengan inisial AKP MY, Iptu RS dan Brigadir ST. "Mereka bertugas di Unit II Harda Satreskrim Jakarta Utara," kata Jundri Berutu.

"Klien kami adalah korban diduga tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap pembelian satu unit rumah yang terletak di wilayah Jakarta Timur," kata Jundri Berutu kepada awak media, di Polda Metro Jaya, Jakarta (4/2/21).

Dijelaskan Jundri Berutu, kuasa hukum, kliennya pada bulan Agustus 2018 hendak membeli rumah di komplek Perumahan Jatinegara Baru, Jakarta Timur.

Berawal dari pemilik rumah inisial AFN dan ahli keuangan HM menawarkan sebuah rumah 2,2 miliar. "Klien kami berencana membeli dengan sistem KPR melalui sebiah bank dengan DP Rp.675 juta," ujar pengacara muda ini.

Setelah korban mentransfer uang muka dan biaya lainnya. "Ternyata belakangan diketahui bukan atas nama mereka langsung (pelaku: red)," ujar Jundri Berutu.

Kemudian, rumah yang menjadi objek jual beli itu sudah beberapa kali pindah alih dan bukan atas nama pelaku.

Sejak Mei 2019, korban melaporkan dugaan tindak pidana terhadap AFN, HM dan R. Adapun nomor laporannya LPB/426/K/V/2019/PMJ/RESJU di Polres Metro Jakarta Utara.

"Bayangkan setelah 1,4 tahun baru muncul Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang pertama disertai Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan," kata pengacara muda ini.

Dan setelah dua tahun kemudian kata Jundri Berutu, barulah diterima lSP2HP yang kedua.
"Padahal di SP2HP yang kedua, sudah ada tujuh orang saksi yang diperiksa.

Namun ketiga orang terlapor, belum pernah dipanggil dan dimintai keterangannya dan baru akan memanggil ketiga terlapor sebagaimana dijelaskan dalam SP2HP ke 2 (2 tahun kemudian setelah korban/pelapor buka LP)," tandasnya.

Anehnya, kata Jundri Berutu, LP yang dilaporkan oleh klien kami ini sudah berjalan selama dua tahun delapan bulan, namun hingga saat ini belum ditetapkan status para pelaku sebagai tersangka dan masih berkeliaran dengan bebas diluar.

"Lebih anehnya, penyidik yang ditugaskan yaitu Brigadir ST secara tiba-tiba pernah menyarankan agar korban dan dirinya (Brigadir ST) memberikan uang sebesar Rp.70 juta dengan rincian Brigadir ST meminjamkan uangnya sebesar Rp.40 juta dan Korban/Pelapor sebesar Rp. 30 juta kepada Notaris agar membantu terlapor AFN untuk keperluan memproses dan membiayai balik nama rumah dan bangunan tersebut menjadi atas nama terlapor AFN setelah itu baru dibaliknamakan ke korban/pelapor" kata Advokat muda ini.

Hingga proses LP yang sudah berjalan selama 2,8 tahun, beberapa kali korban/pelapor sering menanyakan kepada penyidik Brigadir ST terkait perkembangan LP tersebut, namun Brigadir ST selalu menjawab dengan ringan bahwa "Ari Cs sedang mengupayakan pengembalian uang," ungkapnya.

Jawaban oknum penyidik yang demikian kemudian menimbulkan pertanyaan besar, seolah oknum penyidik tersebut telah berubah menjadi juru bicara dari terlapor, sedangkan dari SP2HP yang ke 2 tidak ada menerangkan bahwa penyidik telah memanggil para Terlapor untuk didengar keterangannya sebagai saksi. tegas Jundri Berutu.

Hingga, dua tahun delapan bulan, korban sekaligus pelapor, masih mencari-cari keadilan atas laporan yang dilaporkan Korban/pelaku.

Karena itu, kami menghadap ke Propam Polda Metro Jaya untuk melakukan Pengaduan. Kami berharap melalui Pengaduan ini, dapat menjadikan LP yang dilaporkan oleh klien kami menjadi terang, dan mendapat kepastian hukum demi penegakan hukum yang transparan, adil dan bermartabat" pungkasnya. (*)

Baca Juga